Sekeping Kisah Kesultanan Serdang

374

Penulis : M. Sahbainy Nasution

Medan,kovermagz.com | Dulunya, Kesultanan Serdang menjadi salah satu kerajaan terbesar di Sumatera Timur. Kini, cerita kemegahan itu semakin tergerus oleh zaman. Oleh sebab itu, museum sebagai etalase pembuka kisah itu kembali.

Mendominasi warna cat kuning dan hijau dan memiliki lantai dua yang mirip seperti rumah panggung. Itulah kesan pertama sekali melihat replika Istana Kesultanan Serdang. Dominasi warna tersebut memiliki makna yang berarti Melayu dan Islam, karena Melayu tak dapat dipisahkan oleh Agama Islam. Saat ini, replika tersebut digunakan untuk kantor Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga.

Memasuki banguna megah ini, ternyata tidak keseluruhan dipakai oleh staff dinas. Sebab, mereka hanya memakai lantai 1 saja. Sementara untuk lantai 2, diperuntutkan untuk museum dan sanggar kesenian nantinya.

“Memang, kalau dilihat dari sejarah Kesultanan Serdang dulu, untuk lantai 1 itu digunakan oleh pegawai sultan, sementara untuk lantai 2 untuk kantor sultan dan tempat pribadinya. Oleh sebab itu, replika istana ini kami buat agar semirip mungkin baik itu segi arsitektur maupun muatan tata tempat para pekerja juga diatur,”terang Kepala Bidang (Kabid) Budaya Serdang Bedagai (Sergei), Searca Agung Nugroho  

Tim Kover Magazine berkesempata untuk melihat sisi dalam replika Kesultanan Serdang ini. Sebagai mana diketahui, lantai dua diperuntutkan untuk museum. Keindahan yang penuh futuristik seni tinggi sudah tergambar di pintu masuk museum. Bagaimana tidak, berbahan kayu dengan dua pintu ukuran sekitar 4 meter ini sudah menghampiri.

Masuk ke dalam, singgah sana replika Kesultanan Serdang sudah menyambut para tamu atau wisatawan yang datang. Megah dan memiliki ciri khas warna, akan memberikan pesan dan kesan tersendiri bagi yang melihatnya. Tak hanya itu, peninggalan benda-benda sultan sejarah yang memiliki nilai tinggi, minatur rumah adat, foto dokumentasi, bendera kerajaan dan masih banyak lagi sebagai penbah khazanah museum. Membuktikan, Kesultanan Serdang sangatlah memiliki cerita yang cukup panjang dari massa ke massa.

Keberadaan Negeri Serdang

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               Nama Serdang berasal dari nama sebuah pohon Serdang, daunnya dipergunakan untuk atap rumah. Nama Serdang Bedagai diambil dari dua kesultanan yang pernah memerintah di wilayah tersebut yakni Kesultanan Serdang dan Padang Bedagai.

Kesultanan Serdang dimulai ketika terjadi perebutan tahta kesultanan Deli, setelah Tuanku Panglima Paderap (pendiri kesultanan Deli) mangkat pada tahun 1723. Tuanku Gandar Wahid, anak kedua Tuanku Panglima Paderap mengambil alih tahta dengan tidak memperdulikan abangnya Tuanku Jalaludin dan adiknya Tuanku Umar Johan. Tuanku Jalaludin tidak bisa berbuat banyak karena cacat fisik, sementara Tuanku Umar terpaksa mengungsi ke wilayah Serdang.

Melihat hal ini, beberapa petinggi wilayah yakni Datuk Sunggal Serbanyaman, Raja Urung Sinembah, Raja Ulung Tanjong Morawa dan Kejuruan Lumu sebagai wakil Aceh menabalkan Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah Kejuruan Junjungan sebagai Sultan Serdang pertama pada tahun 1728. wilayah kesultanan ini berpusat di Kampung Besar tempat dimana ibunya, Tuanku Ampunan Sampali tinggal.

Tuanku Umar atau Raja Osman akhirnya tewas saat pasukan kerajaan Siak ingin menaklukan kerajaan-kerajaan Melayu di pesisir Sumatera Timur di tahun 1782. Makam Tuanku Umar sampai kini masih ada di tengah-tengah perkebunan Sampali. Kesultanan Serdang kemudian dilanjutkan oleh putranya Tuanku Ainan Johan Alam Shah. Sedangkan adiknya Tuanku Sabjana ditempatkan sebagai Raja Muda di kampung Kelambir pinggir Sungai Tuan.

Tercatat dari buku Tuanku Luckman Sinar Basarshah, di bawah kepemimpinan Tuanku Ainan, Kesultanan Serdang mengalami perkembangan dengan melebarkan wilayah kekuasaan hingga ke Percut dan Serdang Hulu. Kesultanan Siak memberi gelar ”Sultan” pada Tuanku Ainan di tahun 1814. istrinya adalah putri dari Raja Perbaungan, yakni Tuanku Sri Alam. Anak-anak Tuanku Ainan membuka dan memimpin perkampungan-perkampungan baru.

Tahun 1817, Tuanku Ainan mangkat dan diganti oleh putra keduanya, Tengku Sinar karena putra pertamanya Tengku Zainal Abidin tewas dalam pertempuran membantu mertuanya di Kampung Punggai. Tengku Sinar di Kampung Punggai. Tengku Sinar kemudian diberi gelar Paduka Sri Sultan Thaf Sinar Bashar Shah. Pada zaman inilah, Kesultanan Serdang mengalami kejayaan dengan perdegangan dan pemerintahan yang adil. Pasalnya, cukup banyak sultan melakukan perdanganan ke luar negeri dan memiliki pendapatan yang cukup baik.

Pendapatan yang didapat lebig dari 1.200 US dollar, selain itu pemasukan lainnya berasal dari memperoleh nanyak keuntungan dari hasil perdangan sendiri. Cukai impor dan ekspor sangat moderat, 1 dollar per 100 gantang lada dan 1 dollar per hamba. Ada penbahan sedikit untuk ongkos-ongkos di Kampung Besar, Kampung Durian dan Klambir untuk lada, padi dan garam.

Perdaganan di wilayah Serdang semakin bertambah maju dengan pesat dank arena hempangan-hempangan di Sungai Deli, nanyak selai lada melewati sungai Serdang. Orang Batak dari Negeri Dolok banyak berniaga. Demikian juga orang-orang Alas dari Singkel (Pantai Barat Sumatera), dengan membawa kapur barus, emas dan lainnya, dengan jumlah ekspor 8000 pikul. Ditambah dengan impor kain-kain yang berasal dari Eropa, kain putih, kaiun untuk tengkuluk yang setiap harinya permintaan semakin bertambah.

Negeri Serdang kala itu bisa dikatakan cukup modern, karena dapat membuat perahu yang cukup besar terbuat dari kayu merbau, niri dan bungor. Sebagai kerajaan, juga memiliki kuda-kuda yang cukup tangguh. Tak hanya itu, tanah negeri bertuah dan negeri beradat ini juga memiliki cukup kaya atas timah yang berada di dekat Kampung Perunggitan di hulu sungai.

Mengembalikan Sejarah Melalui Museum

Walaupun kekuasaan Kerajaan Serdang mendominasi suku Melayu, namun sultan membuka seluasnya bagi suku lain untuk menetap. Efeknya, daerah yang sekarang dikenal Kabupaten Serdang Bedagai (Sergei) menjadi multi etnis.

Searca Agung mengatakan, banyaknya multi etnis yang ada di Sergei ini tak lepas dari peran sultan yang terbuka dengan masyarakat atau suku lainnya. Mengingat, kala itu Serdang merupakan jalur perdagangan untuk meningkatkan perekonomian yang cukup baik.

“Untuk itu, tak heran berbagai suku yang ada di kawasan Sergei saat ini. Walaupun mayoritas Melayu dan Jawa, tapi di sini cukup banyak suku seperti Karo, Batak, Banjar sampai ada Bali,”ucapnya.

Menurutnya, agar cerita kesultanan Serdang, dan adat lainnya hilang ditelan zaman perlu adanya museum. Karena, museum akan memberikan wawasan dan informasi yang lengkap kepada masyarakat yang ingin megetahui banyak hal tentang Sergei. “Kami menginginkan, museum ini menjadi etalase sejarah, agar sejarah Sergei tak hilang ditelan oleh zaman nantinya,”ucapnya.

Oleh sebab itu, Agung mengaku, museum yang dibuat tersebut tak monoton atau bergaya kaku, tentu harus mengikuti zaman agar kalangan muda juga menyukai.  “Museum bukan hanya arsip sejarah saja, melainkan harus memiliki nilai pada pariwisata agar dapat diminati oleh kalangan pelajar maupun umum,”ucapnya.

Untuk itu, pihak pemerintah daerah Sergei telah menyiapkan anggaran sebagai salah satu prioritas untuk tahap pembangunan fisik museum. Tahap perencanaan sudah dibuat, tinggal merealisasikan. “Untuk saat ini, arsip, dokumen, foto, film, dan benda sejarah lainnya telah ada. Apalagi, artefak-artefak yang baru ini dapat, akan menambah koleksi,”kata Agung.