Praktik Penyiksaan Masih Menjamur, KontraS Sumut Kritik Lewat Teatrikal

103

Medan, Kovermagz – Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumatera Utara, menggelar Hari Anti Penyiksaan Internasional (International Day in Support of Victims of Torture) di Tugu Titik Nol Kota Medan, Jalan Balai Kota, Jumat (26/6).

Massa yang jumlahnya sekitar 10 orang ini melakukan aksi protes terhadap praktik penyiksaan yang kian menjamur melalui poster dan teatrikal. Massa aksi pun tetap mengikuti protokol kesehatan di tengah pandemik corona dengan tetap memakai masker dan menjaga jarak.

Menurut sejarahnya, 26 Juni ditetapkan sebagai hari anti penyiksaan sebagai bentuk penghormatan terhadap kesepakatan konvensi menentang penyiksaan dan perlakuan atau hukuman lain yang kejam, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat manusia yang mulai berlaku pada tanggal 26 juni 1987.

Indonesia juga sudah meratifikasi konvensi itu ke dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1998. Sayangnya, 22 tahun setelah diratifikasi, penerapan undang-undang itu masih ibarat jauh panggang dari api.

Koordinator Badan Pekerja KontraS Sumut, yaitu Amin Multazam Lubis mengatakan jika sampai hari ini negara dianggap masih absen dalam kasus-kasus kekerasan dan penyiksaan. Bahkan negara sendiri yang acapkali mempertontonkan praktik kekerasan dan penyiksaan itu.

Baca Juga:  Sudah Perawatan Namun Kulit Tak Kunjung Berseri? Kemungkinan Gaya Hidupmu Kurang Baik

“Beberapa kebijakan tembak mati untuk para pelaku kejahatan tertentu sering kali menabrak prinsip legalitas, nesesitas dan proporsionalitas. Belum lagi soal laporan penggunaan kekuatan sebagaimana PERKAP 1 Tahun 2009 Tentang Penggunaan Kekuatan Dalam Tindakan Kepolisian tidak dilakukan secara akuntabel. Hal demikian menjadi sinyal bahwa sistem hukum justru semakin lemah ketika berhadap-hadapan dengan praktik penyiksaan. Dalam konteks Sumatera Utara, situasinya juga tidak jauh berbeda,” ucap Amin Lubis.

Aksi teatrikal dan pemajangan spanduk poster juga menjadi sorotan setiap pengendara yang melintas di jalan Balai Kota, akan tetapi aparat kepolisian yang mengawal aksi tersebut ikut turun kejalan agar menghindari kemacetan. Massa aksi akhirnya bubar secara tertib dan damai setelah aspirasi mereka puas mereka keluarkan.

Penulis: Vicky Siregar
Fotografer: Istimewa