LAHIRNYA GEDUNG JUANG 45
Mundurnya Jepang dari Indonesia diikuti dengan upaya “coba-coba” dari Belanda. Sampai tahun 1949 pasukan Belanda masih berupaya melakukan serangan-serangan yang akhirnya bisa dihentikan oleh pasukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang dibentuk sesuai instruksi oleh Gubernur Sumatera Mr. Teuku Moh. Hassan pada 6 Oktober 1945 di seluruh pelosok-pelosok Sumatera. Kantor Sekretariat BPI di Jalan Istana No. 17 itu pun mulai didatangi oleh ratusan pemuda yang ingin mendaftarkan diri menjadi tentara. Sehingga menjadikan Markas BPI itu sebagai tempat bagi mobilisasi TKR di Sumatera Utara.
Tidak berhenti, pemuda-pemuda Sumatera masih terus berjuang untuk mengisi kemerdekaan itu, salah satu usahanya yaitu menjaga peninggalan-peninggalan sejarah pada era perjuangan agar generasi berikutnya dapat memahami perjuangan pemuda terdahulu dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan di Sumatera Utara.
Sebagai langkah awal dimulai dengan pembentukan sebuah yayasan pada tahun 1956 dengan nama Yayasan Gedung Pemuda Medan. Pembentukan yayasan tersebut bertujuan untuk mengabadikan kenangan dalam bentuk bangunan yang nantinya akan diserahkan kepada generasi mendatang untuk dijadikan sebagai pusat dari segala kegiatan dan kreasi dalam rangka meneruskan cita-cita revolusi Indonesia.
Nama Gedung Juang 45 sendiri baru tercetus setelah gedung ini diresmikan pada 10 Nopember 1975 atas prakarsa dari Yayasan Gedung Pemuda Medan yang diketuai oleh Adnan Zain Lubis. Setelah itu Gedung Juang 45 Sumatera Utara digunakan sebagai kantor bagi anggota Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Provinsi Sumatera Utara. Gedung yang semula terbuat dari material kayu ini kemudian mulai dibangun menjadi gedung permanen dengan luas bangunan sekitar 20 x 30 m2 pada awal tahun 1975.
DIABAIKAN
Pada tahun 1976, dengan segala upaya Gedung Juang 45 itu berhasil memiliki museum mini yang menyimpan segala peninggalan Angkatan 45. Museum tersebut dibuka untuk umum dan bagi siapa saja yang ingin meresapi arti perjuangan. Sejak adanya Museum Juang, Gedung Juang 45 pun ramai dikunjungi masyarakat untuk sekedar melihat-lihat benda-benda peninggalan era perjuangan dahulu. Rata-rata pengunjung adalah para pelajar dari sekolah-sekolah di Kota Medan.
Namun mendekati tahun 90-an, perawatan Museum Juang mulai tersendat. Saat itu perhatian terhadap Museum Juang mulai berkurang sebab sudah bermunculan museum-museum lain seperti Museum Negeri Sumatera Utara dan Pemprov cenderung lebih memfokuskan anggaran pada museum tersebut. Hingga akhirnya, Museum Juang tanpa disadari mulai benar-benar terabaikan. Koleksi-koleksinya pun dipindahkan ke Museum Negeri Sumatera Utara pada tahun 1992. Koleksi Museum Juang yang dipindahkan ke Museum Negeri dapat kita lihat di bagian “Ruang Perjuangan Sumatera Utara” di Museum Negeri Sumatera Utara Jl. H.M. Jhoni No. 51, Medan.95
Kini di dalam Gedung Juang 45 dapat ditemukan relief-relief masa perjuangan para pahlawan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di wilayah Sumatera. Ada juga surat peninggalan Soeharto, Presiden Republik Indonesia yang ditandatangani pada 19 Agustus 1974 dan digantung pada dinding gedung. Beberapa perabotan seperti meja dan kursi yang ada di gedung ini merupakan peninggalan sejak dahulu kala. Terlihat juga dua pilar pada bagian dalam gedung yang tetap kokoh menopang gedung. Belakangan, di lantai dua bangunan ini dibuat Museum Uang yang menyimpan koleksi alat tukar zaman dahulu, mesin cetak uang beserta alat potong uang.






