Mengenal Tas Noken dari Papua yang Diakui UNESCO

351

Selain batik, rupanya banyak kerajinan tradisional Indonesia yang diakui oleh dunia. Salah satunya adalah noken Papua. karya seni tradisional yang tak hanya memikat mata, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam kehidupan masyarakat Papua.

Noken adalah tas tradisional masyarakat Papua yang dibuat dari serat kulit kayu. Noken memiliki bentuk yang beragam, mulai dari berbentuk kantong hingga berbentuk kotak. Noken umumnya digunakan untuk membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari, seperti kayu bakar, hasil panen, dan barang belanjaan. Noken juga digunakan dalam upacara adat dan sebagai hadiah untuk tamu.

Karena nilai kehidupan yang terkandung dalam noken Papua, hasta karya tradisional ini ditetapkan oleh UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage alias Warisan Budaya Tak Benda di Paris pada 4 Desember 2012.

Bahkan UNESCO menggolongkan noken Papua dalam kategori In Need of Urgent Safeguarding atau warisan budaya yang membutuhkan perlindungan mendesak.

“Noken adalah jaring rajutan atau tas anyaman buatan tangan dari serat kayu atau daun oleh masyarakat di Provinsi Papua dan Papua Barat, Indonesia,” tulis UNESCO, dilansir laman resminya.

UNESCO kemudian memaparkan kalau noken banyak digunakan untuk membawa hasil Bumi, tangkapan, kayu bakar, bayi atau binatang kecil, serta untuk belanja dan menyimpan barang-barang di rumah. “Noken juga bisa dikenakan atau diberikan sebagai persembahan perdamaian,” lanjut UNESCO.

Apa Itu Kerajinan Noken?

Noken merupakan salah satu kerajinan tas unik tradisional asal Papua yang terbuat dari serat kulit kayu, seperti kayu pohon nenduam, pohon nawa dan anggrek hutan. Ada sekitar 250 suku di Papua memakai noken untuk membawa barang sehari-hari dan membawa hasil pertanian dari kebun, seperti sayur-sayuran, umbi-umbian, hingga barang dagangan lainnya ke pasar.

Tak hanya bahan pembuatannya yang tidak biasa, kerajinan noken mulai mendunia karena cara membawa tasnya yang bisa dibilang unik. Biasanya, orang akan menenteng tas di pundak atau dijinjing dengan tangan, namun tas token dibawa dengan menggunakan kepala.

Karena keunikannya itu, kerajinan tas noken pun mulai diakui sebagai hasil karya tradisional serta warisan kebudayaan dunia oleh UNESCO pada 4 Desember 2012. Penetapan ini telah dilakukan oleh Arley Gill sebagai ketua sidang komite antar-pemerintah ke-7 untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda yang dilaksanakan di markas UNESCO Paris.

Tas Noken Memiliki Fungsi Multiguna

Ukuran tas noken cukup bervariasi, mulai dari ukuran kecil sampai ukuran jumbo yang biasa dibawa oleh “mama-mama” petani saat hendak menyimpan hasil bumi yang cukup berat.

Biasanya, masyarakat Papua akan memakai noken berukuran besar (yatoo) untuk membawa kayu bakar, tanaman hasil panen, barang belanjaan serta menggendong anak.

Sementara untuk tas noken berukuran sedang alias gapagoo dipakai untuk membawa barang belanjaan dengan jumlah sedang. Lalu tas berukuran kecil (mitutee) dipakai untuk menyimpan barang-barang pribadi dan sering digunakan oleh kalangan pelajar serta mahasiswa.

Menariknya, tas noken juga sering digunakan sebagai hadiah bagi yang baru pertama menginjakkan kaki di tanah Papua.

Kerajinan noken ini biasa dibawa dengan menggunakan dahi atau bagian depan kepala serta mengalungkannya ke arah belakang punggung. Keunikan dari tas ini yang membuat namanya populer dan sering dijadikan sebagai souvenir atau oleh-oleh untuk wisatawan.

Filosofi Tas Noken

Dibalik keunikannya, nyatanya tas noken memiliki filosofi yang tidak kalah menarik, lho. Noken menjadi simbol kehidupan yang baik, cinta perdamaian dan kesuburan bagi tanah Papua. Apalagi bagi masyarakat yang tinggal di daerah Pegunungan Tengah Papua, seperti suku Lani, suku Bauzi. Suku Yali dan suku Damai.

Uniknya, kerajinan noken hanya bisa dibuat oleh perempuan asli Papua. Tak heran, kalau sejak kecil mereka sudah diajarkan untuk membuat noken. Kalau para perempuan belum bisa membuat noken, tandanya mereka belum menjadi perempuan dewasa, bro. Sebaliknya, kalau sudah bisa membuat kerajinan noken dengan baik, itu berarti si perempuan asli Papua itu telah dewasa dan siap untuk menikah.