
Pernah nggak sih, kamu buka Instagram, lihat teman posting foto di pantai Lombok dengan caption “on a budget” — eh, ternyata dia lagi kerja sambil liburan? Atau sebaliknya, kamu lihat story orang lain gendong ransel 50 liter, tidur di hostel, dan makan nasi bungkus demi bisa keliling lima pulau dalam sepuluh hari?
Dua-duanya sama-sama disebut “liburan hemat”, tapi cara mainnya beda total. Nah, kalau kamu sedang bingung memilih gaya liburan yang pas dengan gaya hidup, pekerjaan, dan isi dompetmu, artikel ini bakal bedah tuntas dua konsep yang lagi naik daun: backpacking dan bleisure trip.
Apa Itu Backpacking dan Kenapa Masih Jadi Andalan Anak Muda?
Backpacking adalah gaya traveling minimalis: bawa ransel seadanya, cari penginapan termurah, dan mengandalkan transportasi umum. Traveling hemat kini menjadi pilihan utama para petualang Indonesia yang ingin mengeksplorasi keindahan nusantara tanpa menghabiskan banyak biaya, mulai dari Bali, Raja Ampat, Pulau Komodo, hingga Lombok, asal tahu triknya.
Keunggulan utama gaya ini bukan cuma soal murah, tapi juga pengalaman. Backpacking berarti membawa barang seminimal mungkin sehingga kamu jadi lebih leluasa berbaur dengan warga lokal, belajar budaya setempat, dan mendapat momen yang sulit dilupakan. Di Yogyakarta misalnya, dengan strategi yang tepat, biaya harian bisa ditekan hanya sekitar Rp300.000–Rp500.000 per orang sudah termasuk makan, transportasi, dan tiket wisata.
Trik Klasik Ala Backpacker
– Pilih destinasi domestik yang mudah dijangkau seperti Bandung, Bali, Yogyakarta, atau Lombok agar biaya transportasi tidak membengkak.
– Rajin berburu tiket promo lewat aplikasi travel setiap hari, dan booking jauh-jauh hari untuk harga terbaik.
– Manfaatkan transportasi publik seperti bus atau kereta yang jadwal dan harganya sudah pasti, dibanding taksi atau sewa kendaraan pribadi.
– Menginap di hostel atau capsule hotel yang sedang digemari kalangan backpacker, meski harus berbagi kamar dengan traveler lain.
– Bawa botol minum isi ulang dan camilan dari rumah untuk menekan pengeluaran jajan selama perjalanan.
– Manfaatkan aplikasi navigasi offline seperti Maps.me untuk menghemat kuota data selama eksplorasi.
Cocok untuk siapa? Backpacking paling pas buat kamu yang masih kuliah, fresh graduate, solo traveler, atau siapa pun yang punya waktu luang lebih banyak dibanding budget.
Bleisure Trip: Ketika Kerja dan Liburan Jadi Satu Paket
Kalau backpacking identik dengan mahasiswa dan solo traveler, bleisure trip justru booming di kalangan pekerja kantoran dan profesional muda. Bleisure adalah gabungan kata business dan leisure — tren traveling di mana perjalanan dinas diperpanjang menjadi liburan singkat begitu urusan kerja selesai.
Tren ini bukan sekadar gaya hidup, tapi sudah jadi fenomena global yang serius. Survei terbaru menunjukkan sekitar 73% karyawan menganggap kesempatan menambah waktu liburan sebagai benefit perusahaan, dengan 59% pekerja Gen Z dan 65% milenial bahkan secara khusus memilih bekerja di perusahaan yang menyediakan fleksibilitas ini. Riset lain mencatat 76% karyawan kini memperpanjang perjalanan dinas internasional untuk keperluan pribadi, naik signifikan dari 48% pada tahun sebelumnya.
Di Indonesia sendiri, tren bleisure tumbuh seiring meningkatnya kesadaran akan work-life balance, yang mendorong para profesional menggabungkan produktivitas dan rekreasi dalam satu perjalanan, dengan kota-kota seperti Yogyakarta, Denpasar, dan Bandung berkembang menjadi hub workation berkat dukungan ekosistem MICE dan wisata urban.
Kenapa Bleisure Dianggap “Hemat” Juga?
Meski terdengar mewah karena biasanya dibiayai kantor untuk komponen bisnisnya, bleisure justru bisa jadi strategi hemat kalau dihitung dengan cermat:
– Tiket pesawat dan penginapan untuk keperluan kerja sudah ditanggung, kamu tinggal menambah 1–3 hari untuk leisure sehingga biaya per hari liburan jadi jauh lebih murah dibanding trip solo penuh.
– Waktu istirahat lebih fleksibel, karena American Airlines bahkan menyebut bleisure sebagai segmen bisnis mereka yang tumbuh paling cepat, tanda bahwa infrastruktur pendukungnya makin matang.
– Bisa memilih shoulder season, yakni periode di luar puncak liburan yang harganya lebih murah dan lebih sepi wisatawan, mengikuti pola pemesanan yang makin bergeser dari musim panas puncak.
Cocok untuk siapa? Bleisure ideal buat kamu yang sudah bekerja, sering dinas luar kota atau luar negeri, dan ingin memaksimalkan setiap perjalanan kantor tanpa harus cuti panjang.
Jadi, Pilih yang Mana?
Nggak ada jawaban benar atau salah — semua kembali ke kondisi hidupmu sekarang. Kalau kamu punya waktu luang lebih banyak daripada uang, dan ingin pengalaman otentik menjelajah nusantara dari ujung ke ujung, backpacking adalah jawabannya. Riset destinasi secara mendalam, bandingkan harga dari berbagai sumber, dan nikmati proses “berjuang” mencari yang termurah — karena di situlah keseruannya.
Sebaliknya, kalau kamu sudah bekerja dan sering dapat tugas dinas, jangan sia-siakan kesempatan itu. Tambahkan 1–2 hari cuti setelah agenda kerja selesai, lalu manfaatkan hotel dan tiket yang sudah tersedia untuk eksplorasi kota. Cara ini terbukti membuat karyawan lebih bersemangat menerima tugas dinas karena ada “bonus” liburan di akhir.
Bahkan, kamu sebenarnya bisa menggabungkan keduanya: gunakan mindset hemat ala backpacker — transportasi umum, kuliner lokal, tempat wisata gratis — di sela-sela trip bleisure kantormu. Hasilnya, dompet tetap aman, produktivitas kerja tetap jalan, dan jiwa petualangmu tetap terpuaskan.


