
Tren underconsumption core sedang ramai di TikTok dan diviralkan oleh banyak orang. Tren ini pun sering dikaitkan dengan solusi potensial untuk mengatasi isu lingkungan, terutama dalam konteks keberlanjutan. Lalu, apa itu underconsumption core?
Sebelum memahami tren yang sedang viral ini, maka kita perlu mengetahui arti underconsumption terlebih dahulu. What is underconsumption? Underconsumption diartikan sebagai konsumsi kurang, yaitu praktik mengonsumsi barang yang lebih sedikit atau di bawah rata-rata.
Penasaran lebih jauh dengan istilah ini. Mari simak penjelasan selengkapnya di bawah ini
Apa itu underconsumption
Secara harfiah, underconsumption sendiri memiliki arti konsumsi rendah atau kurang konsumsi, yang berarti tidak mengonsumsi secara berlebihan. Dalam kata lain, ini berarti ketika seseorang hanya membeli barang yang dibutuhkan saja atau tidak membeli barang tertentu sebelum benar-benar rusak.
Ketika mendengar istilah underconsumption, tidak sedikit orang yang mungkin mengasosiasikannya dengan sifat pelit. Pasalnya, bagi beberapa orang yang terbiasa hidup berkelimpahan atau bahkan boros, gaya hidup yang satu ini dianggap terlalu irit hingga menjatuhkan persepsi pada satu kata, “pelit”.
Pelit sering kali diartikan sebagai ketidakinginan untuk berbagi, baik itu kepada dirinya sendiri maupun orang lain, meskipun sebenarnya mampu melakukannya dan biasanya tidak didorong oleh alasan yang benar-benar masuk akal. Berbeda dengan pelit, underconsumption bukan tentang kekurangan atau ketidakinginan untuk berbagi, melainkan tentang menemukan keseimbangan dan kepuasan dalam kesederhanaan.
Sebagian besar masalah yang dialami oleh generasi muda, seperti Gen Z dan para milenial, termasuk tekanan ekonomi, masalah lingkungan, dan tekanan sosial, menjadi sumber munculnya tren konsumsi rendah ini, menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya pola hidup yang lebih hemat dan berkelanjutan, baik dari segi keuangan maupun dampaknya terhadap lingkungan.
Alih-alih mengikuti tren belanja berlebihan, orang-orang yang mengadopsi gaya hidup underconsumption memanfaatkan barang-barang yang mereka miliki sampai habis, memilih produk yang lebih terjangkau, dan menghindari membeli barang yang tidak diperlukan.
Manfaat Underconsumption
Tidak bisa dipungkiri bahwa ketidakpastian ekonomi setelah pandemi memengaruhi banyak orang. Namun, kreator di TikTok dan Instagram tetap memberikan rekomendasi barang yang harus dibeli dan memperlihatkan produk-produk itu di lingkungan rumah mereka yang tampak sempurna.
Hal ini sering kali menciptakan persepsi bahwa memiliki barang-barang tersebut akan membawa kebahagiaan dan kesempurnaan, dan banyak orang merasa terdorong untuk mengikuti tren tersebut, bahkan dengan risiko finansial. Ini sering kali menjadi siklus yang sulit dihentikan, dengan banyak orang merasa terjebak dalam gaya hidup konsumtif.
Kondisi inilah yang membuat tren underconsumption menjadi sangat relevan, karena memberi manfaat bagi banyak orang dengan mengingatkan mereka untuk lebih bijak dalam mengonsumsi dan mengurangi tekanan sosial yang ada di media sosial.
Setelah memahami underconsumption meaning, kita perlu mengetahui manfaat dari tren yang satu ini. Underconsumption core ternyata memiliki dampak positif bagi mereka yang menerapkannya, baik itu dalam hal finansial, kualitas hidup, hingga ikatan sosial dengan orang lain.
Berikut beberapa manfaat underconsumption core bagi individu yang menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari:
1. Menghemat Keuangan
Underconsumption berarti menahan diri untuk tidak konsumtif dan hanya membeli barang saat benar-benar dibutuhkan. Underconsumption core mendorong seseorang untuk tidak tergoda tren konsumerisme seperti membeli fast fashion atau gawai keluaran terbaru.
Perilaku ini tentunya akan sangat berdampak pada kondisi keuangan. Memakai barang hingga habis masa pakainya bisa menghemat uang dalam jumlah besar. Hal ini memungkinkan kita untuk menabung atau menyimpan uang demi hal-hal yang lebih penting, misalnya biaya pendidikan atau kesehatan.
2. Meningkatkan Kesejahteraan Hidup
Pengeluaran yang lebih sedikit dan memiliki tabungan otomatis akan membuat hidup lebih damai. Tak hanya itu, hidup dengan lebih sedikit barang membuat rumah lebih rapi sehingga secara psikologis juga dapat mengurangi stres.
Terbiasa mengikuti tren, terutama yang bersifat konsumtif, justru bisa menimbulkan tekanan psikis, bahkan bisa memunculkan fear of missing out (FOMO). Hal inilah yang membuat seseorang menjadi mudah cemas dan stres sehingga tidak mendapatkan ketenangan karena merasa harus selalu mengikuti tren.
Sebaliknya, underconsumption core dapat melatih seseorang untuk memegang kendali dalam hidupnya. Orang seperti ini cenderung tidak mudah terpengaruh oleh tren konsumerisme sehingga hidupnya lebih tenang.
3. Meningkatkan Kreativitas
Underconsumption core mendorong seseorang untuk berpikir out of the box dalam memanfaatkan barang hingga benar-benar habis masa pakainya. Metode DIY (do it yourself) dalam menggunakan barang-barang bekas di sekitar kita pun bisa merangsang kreativitas.
Misalnya, alih-alih membuang kardus dan botol bekas, kita bisa memanfaatkannya untuk wadah, pot bunga, atau semacamnya. Contoh lainnya ketika baju kita mulai kekecilan, kita bisa menerapkan upcycle dengan mengubah fungsinya, misalnya dijadikan celemek, sarung bantal, tas, selimut patchwork, kain lap, hingga keset rumah.
4. Berkontribusi Menjaga Lingkungan
Mengikuti gaya hidup underconsumption core berarti ikut berkontribusi dalam menjaga lingkungan. Gaya hidup ini mendukung prinsip 5R, yaitu reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (daur ulang), recovery (memulihkan), dan repair (memperbaiki).
Prinsip 5R sering dikaitkan dengan pengolahan sampah atau limbah untuk mengurangi dampaknya pada lingkungan. Prinsip ini pun sejalan dengan underconsumption core alias konsumsi kurang atau minimalis.


