Mengenal 5 Tradisi Unik Perayaan Isra Mikraj di Indonesia

Setiap daerah di Indonesia memiliki cara tersendiri untuk merayakan Isra Miraj, dan itu bukan hanya soal ritual keagamaan, tetapi juga untuk mempererat hubungan antar warga. Di tengah kesibukan dan kehidupan modern, tradisi-tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya menghargai sejarah, budaya, dan keluarga. Tradisi seperti ini juga memberikan ruang untuk mempererat persaudaraan dalam komunitas, sembari memperdalam pemahaman spiritual.

Perayaan ini tidak hanya menjadi momen refleksi bagi umat Islam, tetapi juga dirayakan dengan berbagai tradisi unik di berbagai daerah di Indonesia. Tradisi-tradisi ini menunjukkan betapa kaya dan beragamnya budaya Nusantara dalam memaknai momen penting ini.

Lantas, apa saja tradisi unik perayaan Isra Mikraj di Indonesia? Dilansir dari berbagai sumber, berikut rangkuman informasinya. Simak!

Ngurisan – Lombok

Tradisi Ngurisan menjadi bagian penting dalam perayaan Isra Mikraj di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tradisi ini berupa ritual cukur rambut bayi baru lahir, yang dilakukan secara simbolis di masjid atau musala.

Bayi di bawah 6 bulan dibawa ke masjid, sementara para tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat secara bergantian memotong sedikit rambut bayi sambil melantunkan salawat dan doa. Bermakna sebagai ungkapan syukur, harapan bayi tumbuh sehat, berakhlak baik, sekaligus mempererat tali silaturahmi dan kerukunan antar sesama umat Islam.

Dalam pelaksanaannya juga kerap diiringi pembacaan kayat, dulang pesaji, pembacaan doa, dan acara keagamaan lainnya untuk memeriahkan peringatan Isra Mikraj.

Nyadran (Jawa Tengah)

Di Jawa Tengah, tradisi Nyadran menjadi cara untuk mengenang dan berdoa bagi leluhur. Proses dimulai dengan membersihkan makam leluhur, kemudian diikuti dengan doa bersama dan pengajian di masjid. Beberapa daerah bahkan menutup acara ini dengan karnaval budaya yang melibatkan masyarakat setempat. Nyadran adalah momen yang tak hanya menggugah spiritualitas, tetapi juga memperkuat rasa persatuan dan gotong royong antar warga.

Rajaban (Cirebon, Jawa Barat)

Di Cirebon, tradisi Rajaban diawali dengan ziarah ke makam Pangeran Kejaksan dan Pangeran Panjunan, dua penyebar Islam yang sangat dihormati di daerah tersebut. Acara dilanjutkan dengan pengajian di Keraton Kasepuhan, di mana pembagian nasi bogana menjadi bagian dari perayaan. Nasi bogana, yang terdiri dari nasi lengkap dengan lauk seperti telur, tempe, tahu, dan bumbu kuning, disajikan sebagai simbol kebersamaan dalam masyarakat Cirebon.

Khatam Kitab Arjo (Jawa Tengah)

Di Temanggung, tradisi Khatam Kitab Arjo menghidupkan kembali kisah Isra Miraj melalui pembacaan Kitab Arjo karya KH Ahmad Rifai al-Jawi. Kitab ini ditulis dengan aksara Arab Pegon dan menceritakan perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Acara dimulai dengan tahlil malam, diikuti dengan pembacaan kitab tersebut hingga selesai, yang menjadi sarana untuk mendalami sejarah spiritual dalam Islam.

Ambengan (Jawa Tengah dan Jawa Timur)

Ambengan adalah tradisi makan bersama yang meriah, di mana masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur berkumpul untuk menikmati hidangan bersama. Wadah makanan yang disebut ambeng berisi nasi dan lauk seperti ayam, telur, dan mi goreng. Sebelum makan, doa bersama dipimpin oleh sesepuh desa atau kiai untuk mengundang berkah dan kebaikan bagi seluruh masyarakat.