Kuliner Malam Jalan Selat Panjang

332

Semua penggemar makanan chinese di nusantara yang pernah ke Medan, pasti sudah pernah, bahkan mungkin sering mengunjungi sudut kota Medan ini yang justru baru “hidup” di atas jam 6 sore ini. Jalan Selat Panjang yang sebenarnya cukup pendek dan sempit, hanya sekitar 300 meter panjangnya, digadang-gadang sebagai surga kuliner kota Medan. Walau mayoritas makanan-makanan yang ada di sini non-halal, namun beberapa menu halalnya juga sudah populer akibat diulas di beberapa televisi nasional. 

Jalan ini hanya bisa dilalui kendaraan satu arah, dan untuk parkir tersedia di jalan Bogor dan sekitarnya. Begitu memasuki jalan ini, pengunjung akan melihat sepanjang kiri dan kanan jalan ini adalah kedai-kedai (restoran) dan gerobak-gerobak makanan. Uap panas dari kompor, aroma makanan silih berganti, hiruk-pikuk pengunjung yang bersenda-gurau di dalam restoran, dentangan dan gesekan sendok penggorengan ke kuali adalah suasana khas kuliner malam ini. 

Pemilik satu restoran yang lebih ramai pengunjungnya dibanding kedai-kedai di sebelahnya, yakni restoran SP 16 berkata “Di sini orang-orang memang cari makanan enak. Biasanya tamu-tamu kita adalah keluarga atau teman-berteman, bukan pasangan yang cari suasana hening.” Memang, segala jenis mie dan nasi gorengnya sangat lezat. Di atas mie yang mengepul hangat, diletakkan setumpuk daging kepiting dan irisan-irisan lapchiong (sosis babi). Penampilan mungkin sederhana, namun kelezatannya memang selangit. Menu lainnya yang juga best-seller di kedai mie SP 16 ini adalah adalah Mie Hokkian dan Mie Udang. SP adalah kependekan dari Selat Panjang. Unik memang, beberapa restoran di sini memilih untuk tidak memberi nama tempatnya. Mereka memilih tetap menggunakan nomor alamat restoran itu. 

Di sepanjang jalan ini terdapat pula beberapa restoran Cina tertua di Medan. Salah satunya adalah Mie Tiong Sim yang legendaris, sudah ada sejak tahun 1960-an. Tidak hanya saat weekend, di hari biasa pun, meja kosong jarang terlihat di kedai mie ini. Bukan hanya mie yang menjadi andalan tempat ini, segala olahan daging babinya pun menjadi favorit pengunjung-pengunjung setianya. Restoran ini juga sudah menyediakan packing khusus untuk pembeli yang akan membawa pesanannya via pesawat. Mie dingin dan kuah yang terpisah dibungkus rapi dalam kotak kardus agar makanan terlindungi untuk beberapa jam ke depan.

Kemacetan yang terjadi di sepanjang jalan ini ternyata tidak menjadi penghalang untuk mengisi perut yang memang sudah dibiarkan kosong agar wisata kuliner ke daerah ini maksimal. Salah satu penyebabnya adalah pembeli-pembeli yang memesan makanan dari kendaraannya masing-masing.

“Di sini sudah biasa, yang pesan bubur untuk dibungkus, hanya perlu buka jendela (mobil), teriakkan ordernya, saya catat, lalu mobilnya keliling satu putaran, pesanannya sudah siap diambil,” kata seorang a pek (bapak) yang melayani pesanan Kede Bubur. Ini adalah salah satu menu halal andalan kuliner malam Selat Panjang ini. Bukan rahasia lagi pekcamkee (ayam kampung kukus) di restoran ini adalah salah satu yang terlezat di kota Medan.

Beberapa jajanan yang halal dan tidak kalah populernya juga terdapat di daerah ini. Martabak piring Murni, salah satunya. Sesuai namanya, martabak ini memang dimasak di atas piring kaleng, bukannya di atas wajan besi atau teflon pada umumnya. Adonan dituang ke piring kaleng, lalu dimasak di atas arang. Topping berupa gula pasir, coklat, kacang atau keju ditaburkan sesuai pesanan. Rasa dan penampilannya yang tradisional masih mengungguli  martabak-martabak kekinian, terbukti dari antrian pemesanan yang makin malam, makin ramai. 

Nah, makanan yang satu ini adalah salah satu oleh-oleh wajib, apabila keluar dari kota Medan, untuk kembali ke kota masing-masing, atau untuk mengunjungi sanak saudara atau sahabat yang berada di luar kota Medan. Bakpao. Bungkusan yang berisi daging, demikian artinya dalam bahasa hokkien.  Aslinya, daging yang paling sering digunakan adalah daging babi. Akan tetapi bakpao juga bisa diisi dengan daging ayam, serikaya, kacang hitam, kacang tanah, telur dan banyak variasi lainnya. Roti yang mengembang, wangi dan lembut dengan  filling-nya yang manis dan gurih, harus disajikan hangat dari kukusannya. 

Ada dua toko di sepanjang jalan Selat Panjang ini yang menjual bakpao, dua-duanya sama populernya. Bakpao Kacamata, adalah salah satunya. Disebut demikian, karena pemiliknya adalah a cek (paman) yang memakai kacamata. Toko yang terletak di nomor 34 ini mempertahankan ketradisionalannya baik dalam bentuk toko maupun rasa bakpao-nya. Toko kedua adalah Bakpao Ho Phing, yang terletak di ujung jalan Selat Panjang, tepatnya di jalan Bogor no.39. Toko ini terlihat lebih modern dan lebih besar, rasa bakpao juga sedikit berbeda. Namun, sungguh hampir tidak bisa memilih bakpao mana yang lebih enak, hanya masalah selera masing-masing lidah saja. Lucunya, bakpao kacang hitam adalah best-seller kedua toko ini. 

Masih banyak lagi kekayaan makanan di sepanjang jalan Selat Panjang ini. Mulai dari makanan ringan seperti kue apem, kue-kue jajanan yang berwarna-warni, Ci Cong Fan, sampai makanan berat seperti nasi ayam Hainan, sate padang Fadli dan beragam jenis mie. “Tidak sah ke Medan, kalau belum menginjakkan kaki ke jalan ini”, mungkin adalah ucapan yang tepat, karena dengan berkunjung ke jalan ini, Anda tidak saja menikmati makanan enak, tetapi lewat lidah Anda, Anda mencicipi suatu budaya yang terbentuk dalam setengah abad, budaya yang kental dengan etnik Hokkien di kota Medan.

penulis: ade syaputra, fotografer: Vicky Siregar

Baca Juga:  TEKNOLOGI 5G: THE FUTURE IS HERE