Sabet Penghargaan
Sistem lisensi karya fotografi yang digunakan kantor berita hanya dibagi dua yaitu rights managed dan royalty. Jika menggunakan sistem rights managed maka kantor berita atau pembeli bisa memiliki hak pakai jangka panjang dan penggunaan berkali-kali, sedangkan royalty maka karya hanya bisa digunakan satu kali, jika ingin menggunakannya lagi harus melakukan pembayaran ulang.
Penghargaan pun mulai menghujani karya-karya Adit, di antaranya Adiwarta Sampoerna Awards 2009, National Geographic Indonesia 2009, Indonesian Photojournalist Awards 2010, Int’l Photography Awards 2014, Indonesian Photojournalist Association Awards 2015, The Other Hundred Educators Edition 2016, Photojournalism Nominee 2017, dan Climate Topic Nominee 2018.
Langganan Media Internasional
Sejumlah hasil fotografi Adit sudah melanglang buana diterbitkan berbagai majalah, koran, media online, news photo agencies hingga Non-Governmental Organization (NGO), sebut saja seperti Agence France Presse (AFP) yang merupakan kantor berita di Perancis, Reuters di Inggris dan Caters News Agency.

“Chief fotografer Indonesia untuk kantor berita Perancis kontak aku, dia bilang hai Adit apakah kamu memiliki karya peristiwa Sinabung saat ini. Ternyata setelah aku kirim, rating distribusinya kuat dan dipakai banyak media. Feedback yang didapat bisa memperkerjakan satu fotografer selama setahun,” ujar pria kelahiran Tanjung Morawa, 7 Desember 1984 ini.
Walau pun foto jurnalistik Adit banyak diterbitkan media internasional bukan berarti Adit mengesampingkan media yang ada di Indonesia. Baginya ada hal-hal yang membutuhkan perhatian khusus berdasarkan lokasi peristiwa yang terjadi. “Ada mekanisme khusus dan nilai tersendiri. Misalnya jika aku foto menteri yang lagi rapat, enggak mungkin aku sebari ke luar negeri,” ucap pria yang hobi berenang dan main gitar ini menambahkan.
Rencana ke depannya Adit akan tetap fokus pada isu global seperti rainforest, volcano, dan climate change. Topik khususnya yaitu karakter gunung api, beragam kearifan lokal masyarakat dalam menghadapi bencana yang tidak bisa diprediksi dan destruktif serta kehidupan manusia di kaki gunung. Adit juga berharap kelak Indonesia memiliki kamera termal yang bisa mendeteksi aktivitas magma pada gunung api sehingga bisa meminimalisir jumlah korban akibat bencana alam gunung meletus.


