Kiprah Jurnalis Foto, Sutanta Aditya : Ubah Opini Jadi Fakta

Untuk menghasilkan foto jurnalistik yang baik, menurut Adit ada hal yang harus diperhatikan yakni penempatan subjek sebanyak 75% memenuhi luasan frame atau bingkai sehingga menjadi point of interest sedangkan 25% nya adalah informasi pendukung. Jika ada peristiwa kebakaran melanda 100 rumah maka foto yang dihasilkan bisa fokus kepada warga yang sedang berlari sambil menyelamatkan barang-barang, dengan background rumah yang dilalap ‘si jago merah’ namun diatur blur, maka foto tersebut secara langsung akan meningkatkan rasa kemanusiaan orang yang melihatnya.

Bagi Adit pemilihan warna pada foto juga berpengaruh besar. Apabila foto didominasi warna-warna yang eye catching maka sebuah karya foto jurnalistik akan menarik minat lebih banyak. “Atmosfer sebuah media terletak pada foto. Merngapa begitu? Karena ketika aku misalnya seharian mengamati sebuah kios koran di jalan raya banyak orang lalu lalang membeli koran. Aku melihat satu koran dengan warna mencolok yaitu kuning, beritanya tentang sport. Hasil observasiku ternyata koran dengan warna eksentrik tersebut paling laris, sampai akhirnya aku tidak melihat koran itu lagi karena sudah habis dibeli,” ujar Adit.

Sejak SMA, Adit memang sudah tertarik dengan seni. Ia bergabung dengan sebuah band aliran hardcore sebagai gitaris dengan lirik lagu bertemakan sosial politik. Lulus SMA, Adit mulai mempelajari jurnalistik dengan menciptakan karikatur. Merasa kurang cocok, Adit beralih menulis. “Aku melihat spot news itu hal yang menggiurkan. Aku mulai coba bekerja di surat kabar mingguan lalu harian. Sampai suatu saat aku merasa hanya menyodorkan opini, realisasi di lapangan tidak ada. Aku merasa tidak beres, akhirnya aku berhenti kerja kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIKP) Medan namun aku tidak ingin tamat sarjana, aku hanya ingin berkomunal dengan kaum jurnalis dan larut dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Potret,” tuturnya.

Baca Juga:  Sering Menggunakan Earphone Berjam-jam, Bagaimana Cara Menjaga Kesehatan Pendengaran?

Ketertarikan Adit sebagai jurnalis foto muncul saat ia merasa masyarakat tidak lagi percaya pada hasil tulisan jurnalis. “Saat jadi penulis aku merasa masyarakat tidak butuh opini tapi juga fakta. Jurnalis sedang dalam situasi tidak dipercaya. Kalau aku memang jurnalis, harusnya aku mengubah opini menjadi fakta sehingga kepercayaan masyarakat muncul kembali. Jadilah aku belajar fotografi,” tambahnya.

Memasuki semester tiga Adit baru mendalami fotografi dengan menggunakan kamera konvensional yang masih disertai roll film pinjaman dari UKM Potret tempatnya bernaung. Kamera digital Adit kenali saat ia bekerja di Warta Kita. Dilema mulai menghampiri Adit ketika harus memilih antara karir dan kuliah karena untuk mendapatkan karya yang berkualitas harus totalitas. Oleh karena itu ia memutuskan untuk vakum dari pendidikan. Walau pun begitu, Adit tetap menggali ilmu dari berbagai pihak dan berteman dengan segala kalangan.