Adit mencicipi dunia jurnalis mulai tahun 2006 saat bekerja di mingguan Indonesiaku, dua tahun kemudian ia pindah ke harian Bersama, lalu Warta Kita, dilanjutkan harian Global dan Analisa sampai akhirnya memilih resign dan kini independent menjadi jurnalis foto. “Jurnalis harus mengambil kepentingan banyak golongan untuk menjadi topik beritanya, balance dan profesional, bukan demi perusahaan,” tuturnya.
Taruhan Nyawa di Sinabung
Gunung Sinabung memiliki daya pikat tersendiri bagi siapa saja yang memandang, termasuk bagi seorang jurnalis foto seperti Adit. Tahun 2010 ia mencoba tinggal di Sinabung selama sebulan penuh untuk mencari informasi perihal letusan pertama gunung Sinabung. Pada 2013 ia kembali mengabadikan momen gunung Sinabung yang kembali bergejolak hingga mengeluarkan awan panas. Dilanjutkan pada tahun 2014 hingga 2016 Adit juga terus meneliti perkembangan gunung yang kerap erupsi tersebut.

“Aku mulai larut dengan teknik long exposure melebihi mata manusia pada dasarnya dalam mengumpulkan data science. Hari pertama aku membaca hasil fotografiku terdapat titik api, hari kedua jumlah titik api bertambah, hari ketiga juga terjadi peningkatan. Kemudian ada ancaman yang mengkategorikan ini zona bahaya, jurnalis dilarang masuk. Walau aku jurnalis foto yang independent, aku memutuskan untuk motret namun harus tetap selamat dan membawa hal penting untuk masyarakat,” pungkas anak ketiga dari lima bersaudara ini.
Adit nyaris menjadi korban amukan gunung Sinabung pada tahun 2014. Beruntung, Adit mempercayai prediksi rasionalnya. Ia memotret dari punggung gunung Sinabung walau pun pemandangan yang ditawarkan tidak semenarik dari jalur depan, namun ia masih bisa menyelamatkan diri jikalau gunung tersebut memuntahkan isinya. Benar saja, gunung Sinabung meletus dan mengeluarkan material panas, merenggut banyak nyawa. Sayang, dua sahabat Adit turut menjadi korban lantaran memotret dari jalur luapan lava, padahal Adit sudah berulang kali mengingatkan.


