Kasus Penumpang Pesawat Positif Covid-19, Amankah Traveling di Masa New Normal?

92

Kasus positif covid-19 penumpang pesawat Lion Air di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Sumatera Barat yang menghebohkan kembali dunia penerbangan menjadi ramai di perbincangkan. Tidak sampai disitu, bahkan untuk kasus terbaru penumpang pesawat Garuda Indonesia rute Jakarta-Sorong juga diketahui positif covid-19.

Sampai saat ini belum diketahi bagaimana proses dokumen rapid penumpang positif tersebut lolos, hingga ia layak untuk terbang. Lantas muncul pertanyaan, amankah bepergian menggunakan pesawat terbang saat masa new normal?

Dikutip dari Kompas.com, Penelitian dari Emory University, Atlanta, melakukan permodelan hingga bagaimana penumpang dan kru bergerak saat pesawat terbang serta bagaimana pengaruhnya terhadap transmisi penyakit menular.

Dari penelitian itu, kemudian peneliti menyimpulkan bahwa penyakit infeksi pernafasan yang menyebar oleh tetesan (aerosol) tidak mungkin ditularkan secara langsung lebih dari satu meter dari penumpang yang terinfeksi.

Hal yang harus dicatat adalah, harus ada jarak aman antar penumpang dan masing-masing orang menggenakan masker adalah langkah pencegah penularan.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sebelumnya juga telah mengeluarkan aturan terkait kapasitas angkut transportasi publik.

Didalam aturan tersebut, pesawat dapat menampung 70-100 persen dari kapasitas angkut, tergantung jenis armadanya. Jika pesawat menampung 100 persen penumpang, maka tak ada jarak antar penumpang.

Baca Juga:  ALBUM "KOMPILASI SATU DEKADE MEDAN BLUES SOCIETY” IS OUT!!

Meski banyak masyarakat berfikir bahwa duduk dalam waktu diruang terbatas dengan yang lama dapat memicu penularan virus dengan baik, nyatanya pesawat terbang modern memiliki cara khusus untuk menjaga agar udara tetap bersih.

Sederhananya, udara dikumpulkan diluar pesawat melalui  mesin dan dicampur dengan udara daur ulang dari luar kabin.

Untuk menjaga agar suhu tetap stabil dan terjaga kelembapannya, udara daur ulang dilewatkan melalui filter HEPA (Udara partikulat efisiensi tinggi) yang mirip dengan filter rumah sakit.

Sementara itu, Konsultan Virologi Dr Julian Tang, mengatakan bahwa filter HEPA ini tak dapat menangkap semua tetesan covid-19 sebelum dihirup.

“Filtrasi hanya bekerja pada aliran udara massal. Sebagian besar transmisi selama perjalanan pesawat akan menjadi percakapan tatap muka jarak pendek,” kata Dr Julian.

Pada kenyataannya meskipun kita sudah berada jauh pada orang yang terinfeksi, resiko penularan tidak bisa dianggap hilang begitu saja. Sebab penyakit ini dapat bertahan di udara dalam waktu tertentu, dan pada benda-benda di permukaan virus ini dapat bertahan dalam kurun waktu 2 jam hingga 5 hari.

Lantas masih mau traveling pada meski sudah new normal?

Penulis: Jehan Erwita

Fotografer: Berbagai Sumber