Balai Kota, Saksi Bisu Sektor Perbankan dan Pemerintahan Kota Medan

176

Tak banyak yang tahu, Medan memiliki gedung Balai Kota saat dahulu kala. Gedung peninggalan Hindia Belanda ini mulai dibangun pada tahun 1906 oleh kantor Konsultan Arsitektur Hulswit & Fermont, Weltevreden yang bekerja sama dengan Konsultan Ed Cuypers dari Amsterdam.

Gedung Balai Kota terletak di kawasan titik nol Kota Medan, Jalan Balai Kota No. 1, bersebelahan dengan gedung Bank Indonesia. Bangunan kolonial ini telah mengalami beberapa kali renovasi tanpa mengubah struktur bangunannya.

Tahun 1913, seorang pengusaha Tionghoa bernama Tjong A Fie menyumbangkan sebuah jam raksasa buatan Van Bergen Firm yang diletakkan pada bagian menara kubah gedung Balai Kota. Tahun 1923, bangunan ini kembali mendapatkan pembaruan dari Hulswit & Fermont, Weltevreden dan Ed Cuypers dari Amsterdam.

Kental Nuansa Kolonial 

Sentuhan warna putih yang mendominasi gedung Balai Kota menjadikannya tampak megah layaknya bangunan di negara Eropa. Pilar yang menopang bangunan bersejarah ini masih kokoh seperti sedia kala. Jendelanya pun berukuran besar dilengkapi terali yang terpasang pada luar jendela.

Tak heran banyak wisatawan yang berswafoto saat mengunjungi gedung yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya ini. Penduduk lokal pun kerap mengabadikan momen pernikahan dengan latar belakang gedung Balai Kota.

Kini, gedung Balai Kota tampak lebih menawan dengan sentuhan warna emas pada sudut-sudut bangunan luar. Pintu utama gedung ini tidak dibuka untuk umum, tetapi hanya dioperasikan jika ada permintaan khusus. Pengunjung bisa memasuki ruangan melalui pintu masuk Grand Aston City Hall Medan. 

Pernah Jadi Kantor Wali Kota Medan

Pada awalnya gedung Balai Kota digunakan sebagai kantor De Javasche Bank (kini Bank Indonesia) yang merupakan pusat perbankan Belanda. Hingga akhirnya gedung Balai Kota dibeli oleh Dewan Kota Medan untuk dijadikan kantor mereka. 

Dewan Kota Medan dibentuk sejak tahun 1909 dan mayoritas anggota adalah orang Eropa. Tahun 1917, Dewan Kota Medan membuka kesempatan bagi orang Pribumi, Tionghoa dan India untuk menjadi anggota dewan. 

Tahun 1918, Baron Mackay terpilih sebagai Wali Kota Medan pertama dan menduduki gedung Balai Kota untuk pertama kalinya. Raja Gunung dan Muhammad Syaaf juga terpilih menjadi anggota dewan mewakili pribumi serta Tan Boen An merepresentasikan etnik Tionghoa.

Beralih Fungsi Jadi Restoran

Baca Juga:  ALBUM "KOMPILASI SATU DEKADE MEDAN BLUES SOCIETY” IS OUT!!

Sejak pembukaan Grand Aston City Hall Medan pada 16 Januari 2010, gedung Balai Kota sudah menjadi bagian dari Archipelago International, grup hotel terkemuka yang menaungi Grand Aston City Hall Medan. Melihat indahnya rancangan dan tingginya nilai sejarah gedung Balai Kota, Grand Aston City Hall Medan memutuskan untuk mengubah fungsi bangunan ini menjadi restoran daripada sekadar kamar.

Gedung Balai Kota terdiri atas dua tingkat. Lantai atas telah menjelma menjadi sebuah restoran mewah bergaya kolonial bernama D’Heritage. Beberapa ruangan privat di restoran ini diberi nama-nama tokoh seperti ruangan Mayor yang disinyalir merupakan ruangan Wali Kota saat dahulu kala dan ruangan Tjong A Fie sebagai wujud terima kasih atas jasanya untuk Kota Medan. 

Restoran D’Heritage banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, domestik maupun masyarakat Kota Medan untuk sekadar bersantap, menggelar acara khusus, bahkan mengabadikan momen spesial.

Lantai dasar gedung Balai Kota seperti ruangan bawah tanah yang difungsikan sebagai ruang serbaguna, tempat dilaksanakannya aktivitas pameran lukisan, pertunjukan musik dan lokasi pemotretan. 

Interior Balai Kota dirancang elegan dengan ornamen klasik dan perabotan vintage. Lantainya tak berubah, masih berupa ubin kayu sehingga rentan getaran. Oleh sebab itu pihak manajemen Grand Aston City Hall Medan membatasi jumlah pengunjung maksimal 80 orang.

Walaupun gedung Balai Kota telah berubah menjadi restoran D’Heritage, bangunan ini tetap menjadi ikon Kota Medan. Memiliki sejarah yang autentik, D’Heritage berbeda dengan restoran lainnya yang hanya bergaya kolonial.

Harga yang ditawarkan restoran di hotel bintang lima ini pun masih terjangkau. Tersedia masakan Asia dan peranakan dalam menu buffet dan ala carte serta sajian kopi lokal dan kue tradisional dengan potongan harga tertentu. Ditambah lagi interior dan eksterior asli zaman dahulu menjadikan D’Heritage istimewa wajib dikunjungi jika berada di Kota Medan.

Penulis: Indriyana Octavia

Fotografer: Vicky Siregar & Dok. Hotel