Hipospadia Dapat Diketahui Sejak Dini

108

Hipospadia adalah suatu kelainan yang menyebabkan letak lubang kencing (uretra) bayi laki-laki menjadi tidak normal. Kondisi ini merupakan kelainan bawaan sejak lahir. 

“Saat dilahirkan, anak ini punya kelainan pada sistem reproduksinya yang dalam terminologi kesehatan disebut hipospadia,” ujar Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa, sebagaimana diberitakan Kompas.com (9/3/2021). Pernyataan tersebut mengarah kepada pemberitaan mantan atlet voli putri nasional kita Aprilia Manganang yang mengganti statusnya dari perempuan menjadi seorang laki-laki.

“Dari hasil pemeriksaan itu, dilihat dari urologi ternyata Sersan Manganang lebih memiliki organ-organ jenis kelamin laki dan bahkan tidak ada organ internal jenis kelamin wanita,” kata KSAD. “Kemudian pemeriksaan hormonalnya juga begitu, hormonalnya normal, hormon testoteronnya juga diukur sehingga secara faktual dan ilmiah kita bisa meyakini bahwa Manganang lebih memiliki hormonal yang masuk kategori normal laki-laki,” lanjutnya.

Aprilia Manganang yang kini berpangkat Sersan Dua (Serda) ini mengalami kelainan medis bernama hipospadia. Lebih lanjut mengenai jenis penyakit ini akan kita bahas lebih lanjut :

Dikutip dari laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, hipospadia adalah kondisi cacat lahir pada anak laki-laki, di mana lubang uretra (saluran pembawa urin dari kandung kemih ke luar tubuh) atau lubang kencing tidak berada di ujung penis.

Uretra anak laki-laki yang mengalami hipospadia terbentuk secara tidak normal selama pekan ke 8-14 dalam masa kandungan.

Apa yang Dimaksud dengan Hipospadia?

Dikutip dari laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, hipospadia adalah kondisi cacat lahir pada anak laki-laki, di mana lubang uretra (saluran pembawa urin dari kandung kemih ke luar tubuh) atau lubang kencing tidak berada di ujung penis. Uretra anak laki-laki yang mengalami hipospadia terbentuk secara tidak normal selama pekan ke 8-14 dalam masa kandungan.

Karena kondisi hipospadia pada setiap orang berbeda-beda terdapat 3 jenis hipospadia, di antaranya:

  • Subkoronal, yakni pembukaan uretra terletak di suatu tempat di leher penis.
  • Poros tengah, yakni pembukaan uretra terletak di sepanjang batang penis.
  • Penoscrotal, yakni pembukaan uretra terletak di tempat pertemuan penis dan skrotum.
Baca Juga:  Virus Omicron, Ancaman Gelombang Ketiga?

Laki-laki yang mengalami kelainan hipospadia cenderung punya bentuk penis melengkung. Karena letak lubang kencing yang tidak normal, pengidap hipospadia biasanya bermasalah dengan jatuhnya urin yang tidak normal, sehingga agak sulit buang air kecil jika berdiri, lebih mudah jika duduk.

Selain itu, testis beberapa pengidap hipospadia kadang belum sepenuhnya turun ke dalam skrotum. Oleh karena itu, penanganan hipospadia yang tidak ditangani dikhawatirkan akan menyebabkan masalah yang serius di kemudian hari, seperti kesulitan buang air kecil berdiri atau melakukan hubungan seksual.

Namun masih menurut laman resmi CDC, hipospadia merupakan cacat lahir yang umum terjadi. Para peneliti bahkan memperkirakan bahwa ada 1 dari setiap 200 bayi laki-laki yang lahir dengan hipospadia di Amerika Serikat.

Penyebab dan Faktor Risiko Hipospadia

Hipospadia terjadi karena perkembangan saluran lubang kencing (uretra) dan kulup penis saat di dalam kandungan terganggu. Penyebab kondisi ini belum diketahui secara pasti. Namun, ada sejumlah faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seorang anak mengalami hipospadia, antara lain karena sang ibu:

  • Mengandung pada saat berusia 35 tahun ke atas
  • Menderita obesitas dan diabetes saat hamil
  • Menjalani terapi hormon untuk merangsang kehamilan
  • Terpapar asap rokok atau pestisida saat hamil

Selain karena faktor di atas, memiliki keluarga yang pernah mengalami hipospadia dan kemungkinan anak terlahir secara prematur, juga dapat meningkatkan risiko anak mengalami hipospadia.

Penanganan Hipospadia

Jika posisi lubang kencing sangat dekat dari posisi yang seharusnya, dan bentuk penis tidak melengkung, penanganan mungkin tidak diperlukan. Namun, bila letak lubang kencing jauh dari posisi normalnya, operasi perlu dilakukan. Idealnya, operasi dilakukan ketika bayi berusia 6 sampai 12 bulan.

Operasi bertujuan untuk menempatkan lubang kencing ke posisi yang seharusnya, dan untuk memperbaiki kelengkungan penis. Operasi dapat dilakukan lebih dari sekali, tergantung pada tingkat keparahannya.

Pada banyak kasus, fungsi penis anak akan kembali normal setelah operasi. Akan tetapi, perlu dilakukan kontrol rutin setelah operasi untuk memastikan hal ini.

Penting untuk diingat, jangan menyunat anak sebelum operasi dilakukan. Dokter bedah mungkin akan memerlukan cangkok dari kulup untuk membuat lubang kencing baru.

Penulis : Annette Thresia Ginting

Berbagai Sumber