Gangguan Ledakan Amarah (Intermittent Explosive Disorder), Kenali Sebelum Terlambat

23

Medan, Kovermagz – Apakah Anda sering bertengkar dengan teman, kerabat, atau rekan kerja karena satu masalah yang sama? Apakah Anda bertingkah cepat dan kasar terhadap masalah kecil? Apakah orang lain sering menyebut Anda “overreacting” atau hiperbola atau berlebihan?

Atau mungkin Anda sering memukul objek tertentu, seperti dinding atau meja, pintu, untuk orang untuk melepaskan marah, walaupun Anda akhirnya merasa menyesal terhadap apa yang telah Anda perbuat.

Seringkah Anda merasa was-was saat memiliki interaksi dengan orang lain? Atau mungkin Anda mudah mengucapkan kata-kata kasar sebagai pelampiasan marah kepada orang-orang di sekitar Anda pada saat Anda merasa marah?

Apakah Anda memiliki gejala fisik seperti tekanan darah tinggi, sakit kepala, kelelahan, tekanan di kepala atau sinus cavity, palpitasi jantung atau sesak pada dada? Atau Anda memiliki gejala emosional seperti gelisah, susah tidur, mood swing, isolasi sosial, depresi, paranoia, maupun frustrasi?

Jika kebanyakan atau semua pertanyaan di atas Anda jawab “ya”, maka Anda hampir pasti memiliki permasalahan pengendalian amarah (anger management). Untuk itu, saya harap Anda cukup tenang dan bersabar untuk membaca artikel ini sampai akhir. 

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Proceedings of National Academy of Sciences, dipimpin oleh Alan S. Cowen dan Dacher Keltner PhD dari University of California, Berkeley, menyimpulkan bahwa ada 27 kategori emosi pada manusia. Namun, saya lebih menyukai 6 kategori dasar yang dicetuskan Dr.Paul Ekman, PhD yang telah menjadi dasar pembelajaran ahli-ahli psikologi sejak tahun 60-an, yakni: bahagia, sedih, takut, jijik, marah, dan terkejut (kaget). 

Salah satu emosi yang perlu dikendalikan adalah amarah. Masalah penanganan amarah dapat menyebabkan banyak efek jangka pendek dan panjang, seperti merusak hubungan dengan orang-orang terdekat dan hubungan sosial lainnya, atau bahkan menyakiti tubuh Anda dengan mempengaruhi kesehatan Anda. Memang masyarakat Indonesia belum mengadopsi pentingnya memelihara kesehatan mental dan mengobati atau merawat gangguan penyakit mental layaknya penyakit-penyakit yang mengganggu kesehatan fisik. Padahal keduanya sama pentingnya untuk kelangsungan hidup. 

Berikut adalah hal-hal yang mungkin bisa mempengaruhi seseorang untuk sulit mengendalikan amarahnya:

1. Kurang Tidur

Sebuah studi di Iowa State University, ditulis di Journal of Experimental Psychology, berjudul Sleepy Anger: Restricted Sleep Amplifies Angry Feeling oleh Zlatan Krizan dan Garrett Hisler. Temuan ini menyoroti konsekuensi penting dari kurang tidur setiap hari pada kemarahan dan implikasi kantuk dalam pengendalian amarah. 

Pada studi yang berbeda berjudul “The Role of Sleep in Emotional Brain Function oleh Andrea N. Goldstein and Matthew P. Walker, dikatakan bahwa kurang tidur membuat seseorang kesulitan berpikir jernih dan mengendalikan emosi. Teorinya, saat seseorang kurang tidur, terdapat peningkatan aktivitas amigdala, yaitu bagian otak yang mengatur emosi. Kondisi ini mendorong munculnya emosi negatif (seperti marah), sekaligus membuat kamu sulit mengendalikan perasaan negatif yang muncul.

2. Stres dan Depresi

Pada studi yang sama dikatakan, tekanan (stres) bisa mengganggu kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi. Alasannya saat stres terjadi, bagian otak yang berperan penting dalam fungsi kognitif (korteks prefrontal) menjadi sensitif. Depresi membuat seseorang mudah marah karena sulit mengendalikan emosi dan cenderung berpikiran negatif terhadap lingkungan sekitar.

3. Masalah Kesehatan

Beberapa masalah kesehatan seperti kondisi hipertiroidisme bisa membuat seseorang mudah marah. Kadar hormon tiroid yang berlebihan dalam tubuh dapat membuat seseorang gelisah dan sulit berkonsentrasi sehingga mempengaruhi kemampuannya dalam mengendalikan emosi. Obat statin yang dikonsumsi juga bisa menurunkan serotonin dalam tubuh, sehingga membuat seseorang rentan depresi dan menjadi emosional.

Nah, parahnya lagi, ketidakmampuan dalam mengendalikan marah, apabila berlebihan bisa menjadi tanda adanya gangguan kepribadian seperti Intermittent Explosive Disorder (IED).

Baca Juga:  HARI AIDS SEDUNIA INGATKAN KITA UNTUK TINGKATKAN SOLIDARITAS DAN TERUSKAN KAMPANYE PENANGGULANGAN HIV / AIDS

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Novensia Wongpy, S.Psi., M.Psi., Psikolog., Intermittent Explosive Disorder atau gangguan ledakan marah merupakan sebuah gangguan saat seseorang mengalami kegagalan dalam mengontrol rasa marahnya dan memiliki dorongan-dorongan untuk bertindak secara kasar. 

Saat ada masalah, bahkan masalah kecil sekalipun, amarahnya dapat “meledak-ledak”. Ada agresi atau serangan yang timbul, baik itu agresi secara verbal maupun fisik. Agresi verbal yang timbul dapat berupa berteriak, membentak, mengumpat atau berkata-kata kotor, menghina, dan sebagainya.

Agresi non-verbal yang muncul dapat berupa perilaku merusak, menyakiti, memukul, dan sebagainya. Selain perilaku agresi ini tidak dapat dikontrol, juga sulit diprediksi karena dapat muncul sewaktu-waktu bahkan jika masalah yang dihadapi sebenarnya bukan masalah yang besar. Penderita IED juga biasanya mengalami gejala fisik sebagai akibat dari ledakan amarahnya, seperti sakit kepala, sulit bernafas, tremor, dan sebagainya.

Dilansir dari “Psychology Today” , seringkali penyesalan yang tulus diungkapkan setelah ledakan amarah itu. Kemudian, individu tersebut mungkin juga merasa kesal, menyesal, atau malu tentang perilaku tersebut. Namun, tidak selamanya kerusakan yang telah dia perbuat dapat diperbaiki. Not as easy as pressing the undone button. 

Untuk seluruh pembaca secara umum yang kemungkinan mengalami kenaikan tekanan pikiran pada masa pandemi ini, beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan kemampuan mengendalikan amarah, antara lain:

  1. Hindari situasi bertekanan tinggi

Misalnya, apabila Anda mulai dihadapkan pada sesuatu yang memancing rasa amarah, coba hindari situasi panas tersebut dengan meminta time-out lalu pindah ke sudut ruangan. Atau apabila jalan macet membuat Anda stres, mulai atur jam Anda berangkat agar lebih awal dan terhindar dari macet.

2. Latihan relaksasi

Latihan ini dilakukna dengan menarik napas dalam-dalam melalui hidung, lalu hembuskan perlahan melalui mulut. Cara ini bertujuan menenangkan sistem saraf, meningkatkan fokus, serta mengurangi stres dan emosi yang dirasakan.

3. Pastikan Anda memiliki durasi dan kualitas tidur yang sehat.

Lakukan aktifitas yang menyenangkan

Berolahraga, liburan, atau melakukan hobi yang sudah lama Anda tinggalkan, akan membuat Anda menjadi sosok yang lebih rileks dan menyenangkan. Menjaga tubuh sehat juga memastikan mental lebih sehat, karena keduanya sangat berkaitan. 

Berdoa, berpuasa, sembahyang, meditasi, sering kali membawa kita kepada kondisi pikiran (mental) yang lebih tenang dan damai. 

Namun, Intermittent Explosive Disorder (IED) tentu di level yang berbeda. Gangguan ini  dapat memiliki konsekuensi yang serius dalam hidup Anda. Seperti yang dilansir dari Psychology Today, gangguan ini bisa berujung pada kehilangan pekerjaan, skorsing sekolah, perceraian, kesulitan dengan hubungan interpersonal, gangguan pekerjaan, kecelakaan lalu-lintas, cedera akibat perkelahian atau kecelakaan, masalah keuangan, penahanan, atau masalah hukum lainnya. 

Jadi, jika Anda menduga Anda memiliki masalah yang lebih berat dengan pengendalian amarah, atau seseorang memberi tahu Anda, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapat perawatan yang terbaik untuk kasus Anda.

Editor: Elsa Malona

Sumber: Berbagai sumber