PERCEPATAN VAKSINASI
Presiden Jokowi beberapa waktu yang lalu menyoroti bahwa suntikan vaksin di seluruh Indonesia memang saat ini masih belum merata. Vaksinasi Covid-19 dosis pertama di sejumlah provinsi masih terbilang rendah. Jokowi menargetkan angka vaksinasi agar mencapai 70% pada akhir tahun ini. Menurutnya, vaksinasi menjadi salah satu senjata melawan pandemi Covid-19.
Hingga saat ini, sudah ada 10 jenis vaksin COVID-19 yang akan digunakan di Indonesia. Masing-masing memiliki efikasi, mekanisme untuk pemberiannya: jumlah dosis, interval pemberian, platform vaksin yang berbeda-beda (yakni inactivated virus, berbasis RNA, viral-vector, dan sub-unit protein), sampai efek sampingnya pun berbeda-beda.
Bahkan perkembangan terbaru, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberikan izin penggunaan darurat vaksin Covid-19 Sinovac untuk anak-anak usia 6-11 tahun. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menargetkan program vaksin Covid-19 untuk anak usia 6-11 tahun itu bisa dilaksanakan pada awal 2022 setelah uji klinis vaksin tersebut keluar.
VAKSIN SAJA TIDAK CUKUP
Berita baiknya, dalam keterangan Pers Perkembangan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Selasa 2 November 2021 yang juga disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, juru bicara Satgas Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan saat ini penularan kasus di Indonesia cukup rendah, dengan rata-rata 700 kasus perhari dan angka kesembuhan pun sudah berada di angka 96,33 persen.
Namun Wiku menekankan bahwa penularan Covid-19 tidak dapat ditekan hanya melalui vaksinasi semata.

Peran aktif masyarakat adalah kontribusi yang vital dalam pencapaian prestasi tersebut. Peranan masyarakat yang dimaksud adalah penerapan aturan 6M: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas, dan menghindari makan bersama.
Belajar dari negara-negara lain, vaksinasi saja tidaklah cukup untuk menekan kasus aktif. Sebagai contoh Australia dan Singapura sudah memvaksin lebih dari 60 persen penduduk. Namun akibat varian Delta, begitu aktivitas dibuka, kasusnya langsung naik tajam hingga 40 – 90 kali lipat karena prokes yang tidak sejalan.
Prof Wiku mengatakan “Hal ini menandakan upaya pembatasan mobilitas yang sangat ketat dan peningkatan cakupan vaksinasi bukanlah solusi tunggal untuk menekan kasus. Karena negara yang melakukan keduanya nyatanya tetap meningkat kasusnya karena aktivitas masyarakat yang tidak sejalan dengan disiplin protokol kesehatan.”


