Cerpen: Seberkas Binar Surga

10

Baskara menjulang di ufuk timur, menampak secarik cahaya menerangi bumi. Tapi yang dilihat Intan tetap sama –hanya hitam. Hari mencipta sepi diiring deru, hingga hangat mendekap, menjelanak sampai kulit. Mentari membulat sendirian, namun tampak kirananya. Megah, membuat langit seolah jatuh cinta padanya. Gadis bermata indah itu masih bergeming di depan jeruji bersibak tirai, membebaskan angin meniup anak rambut yang bermain hingga ke wajah. Tangannya coba meraba ke arah luar, lalu seketika tersimpul senyum gundah.

“Intan? Kamu sedang apa, Nak?”

Buyar, senyum pun hilang. “Melihat matahari.”

“Kamu selalu melakukan hal itu setiap hari. Sudah, istirahat ya.”

“Jangan pedulikan aku. Jika bukan karena ibu, aku tidak akan melakukan semua ini.”

Kakinya beranjak pelan, tangannya menggenggam tongkat untuk meraba jalan, sesekali ia gunakan tangan lain memegang tembok-tembok yang menunjukkan arah ke kamarnya. Begitulah setiap harinya. Dokter memprediksi bahwa Intan mengalami *1katarak kongenital yang disebabkan oleh *2infeksi intrauterin dari ibu pada janin, maka sedari lahir ke dunia hingga 18 tahun ini ia mengalami kebutaan. 

Sungguh, lelah rasanya menerka-nerka setiap hal yang ingin dilakukan. Ia tak mengenal warna-warni dunia beserta keindahannya. Rasanya ingin marah pada Tuhan, bukan karena diberi takdir akan kebutaannya, melainkan ketidakinginannya dilahirkan dari sosok ibu yang telah membuatnya menjadi seperti ini. Sebenarnya ada cara untuk penyembuhan, melakukan operasi dengan donor mata atau mengonsumsi obat-obatan dan perawatan lainnya. Namun dari keduanya tak didapati Intan, karena keterbatasan ekonomi kehidupan.

Ibunya yang single parent hanya seorang tukang cuci di salah satu rumah, untuk makan dan kebutuhan sehari-hari saja rasanya masih payah. Jangan tanya ayahnya, ia sendiri tak mengenal sosok itu. Sejak mengandung tujuh bulan dirinya, ayah pergi meninggalkan mereka. Beritanya, sudah menikah lagi dengan wanita lain. Itu yang diketahuinya. Rasanya memang bosan hanya mengenal satu warna, tapi apa yang bisa dilakukannya? Mungkin hingga akhir hayat akan tetap seperti ini. Begitu pikirnya.

Tak ingin berlarut dengan pikiran buruknya, ia berjalan menuju dapur, mengambil sebuah gelas yang akan diisikan air. Biasa ibu meletakkan teko di atas meja sebelah kiri, tapi hari ini kenapa tidak ada? Intan coba meraba bagian lain dengan perlahan, sebelum menemukan yang dicari gelasnya malah terjatuh. Ia meringis kesakitan, sebab ada pecahan kaca mengenai ujung kakinya. Padahal niatnya ingin menjauh dari kepingan gelas yang pecah, tapi karena tak dapat melihat ia malah menginjaknya.

“Ada apa Intan?” panik ibu buru-buru keluar dari kamar. “Kaki kamu berdarah, sini ibu bantu duduk, biar ibu obati lukanya.”

Tepisnya kasar. “Ini semua karena ibu! Kalau saja ibu tidak menderita penyakit saat mengandung diriku, maka aku akan dilahirkan dengan baik, aku tidak akan buta seperti ini. Jika ibu memiliki banyak uang pasti aku juga bisa melakukan operasi atau perawatan lain, tapi kenyataannya ibu tidak berusaha apa pun untukku. Aku bosan hidup seperti ini terus-menerus, Bu!”

“Nak, ibu sedang berusaha…”

Potongnya cepat, “Lalu kenapa hingga sekarang aku masih saja buta? Aku tidak pernah meminta apa pun pada ibu, hanya ingin melihat. Itu saja.”

“Bersabarlah sebentar, Nak, ibu pasti akan mendapat uang banyak untuk kesembuhanmu.”

“Sampai kapan, Bu? Aku bosan hidup seperti ini terus. Sampai aku mati? Atau sampai ibu yang mati?”

Ibu terdiam, rasanya tak percaya dengan apa yang didengar. “Baiklah, tidak lama lagi kamu akan bisa melihat, Nak. Itu janji ibu padamu.” 

 

***

“Intan? Coba buka mata kamu perlahan,” ucap seorang dokter yang baru saja membuka perban di matanya.

Sungguh, begitu takut rasanya. Setelah menjalani operasi dengan donor mata, ia buka perlahan dan yang dilihat begitu banyak warna. Senyum tak hilang dari wajahnya, tak pernah ia sebahagia ini. Ternyata begini dunia yang selama ini hanya bisa ia raba? Begitu pikirnya. Matanya mencari ke sekeliling ruang, sosok wanita yang ia pikir akan dilihat pertama kali ternyata tak ada di sana. Seketika raut wajahnya berubah.

“Di mana ibu, Dok? Aku sudah bisa melihat segalanya, hanya tidak melihat ibu.”

“Walaupun kamu tidak bisa melihatnya, tapi ia saat ini bisa melihat kebahagiaanmu.”

“Apa maksud dokter?”

“Ibu kamu menderita penyakit kanker hati stadium akhir, selama ini ia tidak mau menjalani pengobatan karena segala uang yang ia punya akan digunakan untuk pengobatan mata kamu. Kini mata yang saat ini ada padamu adalah mata milik ibumu.”

“Ibu di mana, Dok?”

“Di surga.”

Tangisnya pecah, tak kuasa menahannya. Saat ia sudah bisa melihat matahari dengan nyata, tapi kenapa ia malah kehilangan cahaya lain untuk bisa dilihat? Seberkas binar surga; ibunya. Ia menyesal selama hidup hanya menyalahkan wanita hebat itu, padahal segala hal yang dilakukan semata-mata hanya untuknya. Begitulah seorang ibu, memberi pengorbanan sangat besar tanpa harus diketahui bahkan oleh seisi dunia.

Catatan kaki

*1katarak kongenital: kekeruhan lensa mata yang terjadi sejak lahir

*2infeksi intrauterin: infeksi yang terjadi di dalam rahim pada kehamilan

 

Penulis bernama Khairun Nisa, Mahasiswa Universitas Prima Indonesia, dan Aktif di Komunitas Penulis Anak Kampus Medan

ilustrasi dikutip dari google