Angka Kesehatan Buruk Anak Melonjak, dr. Inke Nadia merasa terpanggil

118

Profesi dokter spesialis anak menghadapkannya pada sejumlah kasus penyakit infeksi terutama pada daerah tropis. Inke merasa terpanggil untuk mengurangi angka kesehatan buruk pada anak. Dengan sederet prestasi, ia tak hanya mengobati secara klinis namun juga sistematis.

Inke Nadia Diniyanti Lubis atau yang biasa disapa Dokter Inke, mulai tertarik menjadi dokter saat menemani sang ayah yang juga menjabat sebagai dokter anak. Inke kecil sering berkunjung dan bermain di tempat praktik sang ayah. Dari sana ia mengawali kegemarannya pada anak-anak hingga memutuskan bercita-cita menjadi dokter anak.

Inke menempuh studi kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Saat masa stase tiba, sebagai dokter muda, Inke ditugaskan ke daerah terpencil dengan peralatan terbatas untuk membantu dalam bidang kesehatan selama tiga hingga enam bulan. 

Di sana ia tersadar, kasus di wilayah pedalaman sangat mendasar bahkan tidak ditemui lagi di lingkungan perkotaan. Inke banyak menemukan penyakit pnemonia, diare, dan demam berdarah yang disebabkan karena kurangnya sanitasi, kebiasaan yang tidak higienis hingga pengaruh sosial ekonomi yang rendah.

Setelah meraih gelar sarjana, Inke mendapat penghargaan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk mengambil kursus di Vietnam yang memiliki unit penelitian cabang dari Universitas Oxford, Inggris, untuk mendalami penyakit tropis sejak Oktober 2012 hingga Januari 2013.

Tak berhenti di sana, Inke kembali memperoleh beasiswa dari pemerintah Belanda untuk meneliti penyakit tropis selama empat bulan dari Maret sampai Juni 2013. “Penyakit tropis bukan secara klinis saja, tetapi juga dari sistem kesehatan. Mengubah sesuatu enggak bisa hanya mengobati pasien. Kita harus mengerti bagaimana sistem kesehatan yang berjalan sehari-hari. Kalau mengobati pasien cuma satu orang, tetapi kalau saya bisa mempengaruhi untuk buat peraturan, misalnya ‘ngomong’ ke Dinas Kesehatan, jadi mereka bisa mengubah cara diagnosis. Lebih luas efeknya dibandingkan mengobati satu orang,” ujarnya.

Begitu kembali ke Indonesia, Inke lagi-lagi menerima beasiswa dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) Republik Indonesia untuk menempuh S3 Kedokteran Tropis di Inggris. Inke pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini, terbukti dengan banyaknya prestasi yang ia capai selama mengenyam pendidikan di sana.

Temukan Malaria Terbaru

Selama 4,5 tahun di Inggris, Inke melakukan penelitian mengenai malaria. Jika biasanya malaria disebabkan oleh parasit yang ditularkan oleh nyamuk yang menggigit penderita lainnya, uniknya, malaria jenis terbaru ini ditularkan dari nyamuk yang menggigit monyet. Gejala klinis malaria ini pada umumnya sama, namun berbeda secara genetik dan bentuknya. Malaria jenis terbaru ini sering terjadi di daerah perkebunan dan pedesaan yang dekat dengan hutan. 

 

“Penularannya dari monyet, monyetnya sakit, digigit nyamuk, nyamuknya gigit manusia. Sebelumnya kasus ini belum ada laporan karena hutan itu masih utuh. Sekarang sudah habis jadi sawah, desa diperluas, perkebunan, pembangunan, buat tempat baru akhirnya terjadi paparan antara manusia dan monyet. Nyamuk yang biasanya gigit hewan, karena lama-kelamaan hewannya enggak ada, ya sudah gigit manusia,” jelasnya.

Malaria jenis terbaru ini sebelumnya pernah diberitakan terjadi di Malaysia namun belum di Indonesia. Inke mulai meneliti kasus malaria ini sejak 2015 di Batubara, Langkat dan Nias Selatan dan melakukan publikasi hasil penemuannya pada 2017.

Hal ini pula yang membuat Inke fokus terhadap konsep “One Health” yakni bagaimana kesehatan manusia, hewan dan lingkungan saling mempengaruhi. Apabila lingkungan terganggu maka akan mempengaruhi kestabilan hewan yang mengakibatkan semakin banyak paparan hewan terhadap manusia sehingga bisa menimbulkan berbagai penyakit seperti flu babi dan ebola. 

Raih Ragam Penghargaan

Lulus S3 di usia 35 tahun dengan hasil penelitian dan prestasinya, Inke berhasil meraih berbagai penghargaan dari beragam institusi. Pada Maret 2016, Inke mendapat European Society for Paediatric Infectious Diseases General Travel Award. Februari 2017, Inke juga meraih Malaria Eradication Scientific Alliance Travel Award.

Sedangkan pada November 2017, Inke kembali meraih tiga penghargaan sekaligus yakni American Society of Tropical Medicine & Hygiene Elsevier Clinical Research Award yang merupakan kompetisi penelitian berbasis klinis, American Society of Tropical Medicine & Hygiene Travel Award yang merupakan persaingan mewakilkan negara untuk mempresentasikan hasil penelitian, serta American Society of Tropical Medicine & Hygiene Young Investigator Award sebagai juara pertama atas penemuan malaria jenis terbaru.

Inke seakan tak henti-hentinya menginspirasi kaum muda dengan segala kemampuannya. Sepulangnya dari studi di Inggris, Inke diamanahkan jabatan oleh Rektor Universitas Sumatera Utara sebagai Ketua Program Studi S2 Magister Kedokteran Tropis Universitas Sumatera Utara (USU).

Sekarang saya banyak bertugas membuat jalur kerja sama antara USU dengan pihak luar negeri. Selain membantu universitas, saya juga meningkatkan capacity building dengan melatih tenaga kesehatan, dokter umum, ahli laboran dan masyarakat serta mengeliminasi malaria karena target dari World Health Organization (WHO) Indonesia 2030 tidak punya malaria lagi. Jadi menentukan program apa yang digunakan berdasarkan data yang ada. Beberapa kali juga diundang Kementerian Kesehatan untuk jadi pembicara,” tutur wanita yang gemar membaca dan traveling ini.

Edukasi Orang Tua Pasien Anak

Menghadapi pasien anak tidaklah semudah yang dibayangkan. Bagi Inke, mengobati pasien anak juga berarti harus menangani orang tuanya karena tak jarang para orang tua datang dengan keadaan yang panik terhadap kondisi sang anak.

“Banyak orang tua yang belum mengerti, anak itu dibawa ke dokter bukan saat sakit saja. Saat sehat kita perlu tahu apakah berat dan tingginya cukup. Kalau dia datang saat sakit, kita tidak tahu pemantauannya,” ungkap wanita kelahiran Medan, 29 Mei 1983 ini.

Menurut Inke, di zaman yang serba digital ini, tumbuh kembang anak tidak hanya dipengaruhi oleh nutrisi yang berasal dari makanan tetapi juga ditentukan oleh imunisasi dan stimulasi.

“Penting bagi saya bisa memberikan edukasi kepada keluarga bukan sekadar menyembuhkan anak. Kesehatan itu bukan tentang penyembuhan tetapi pencegahan. Bagaimana tentang gizi, kebersihan, stimulasi seperti cara anak ngobrol, bermain, memegang bola, belajar jalan, bersosialisasi. Apalagi sekarang ada gadget, banyak anak yang jadi terlambat bicara,” tambahnya.

Dokter yang praktek di Klinik Syifa dan Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara ini juga menyebutkan bahwa tantangan di era digital semakin kompleks karena informasi yang keliru cepat beredar di internet sehingga para orang tua lebih sulit untuk diberi penjelasan.

“Banyak berita yang tidak jelas sumbernya dari mana terutama soal vaksi haram, isinya beginilah, membuat lumpuh, membuat anak sakit bahkan sampai ada grup anti vaksinasi. Mereka menolak diberikan vaksin hanya karena penyakitnya enggak mereka lihat lagi. Padahal itu karena imunisasi kita bagus makanya penyakit seperti cacar dan campak sudah jarang muncul,” ucapnya.

Walaupun begitu, Inke sangat menikmati profesinya sebagai dokter anak. Melihat perkembangan sang anak dari kecil hingga remaja membawa kebahagiaan tersendiri baginya. Apalagi jika pasien anak bisa kembali pulih dari sakitnya.

Penulis: Indriyana Octavia, Fotografer: Vicky Siregar

Baca Juga:  Ini 7 Peristiwa Penting di Agustus 1945