Yuk Kenali Ciri-Ciri Avoidant Attachment Style dalam Suatu Hubungan

Istilah dalam hubungan romantis semakin beragam dan makin mudah dikenali. Salah satu yang belakangan sering menjadi pembahasan adalah avoidant. Tipe pasangan yang cenderung menjaga jarak secara emosional dan lebih nyaman mempertahankan kemandirian dibanding membangun kedekatan yang intens. 

Ada kalanya pasangan ingin merasa sangat dekat, tetapi di waktu lain juga membutuhkan jarak untuk dirinya sendiri. Masalahnya, ketika salah satu pihak terus-menerus memilih menjaga jarak dan menghindari keintiman, hubungan bisa terasa hambar, penuh kebingungan, bahkan perlahan kehilangan koneksi emosional.

Tidak heran jika menghadapi pasangan dengan karakter avoidant sering membuat seseorang mempertanyakan hubungannya sendiri. Sikap yang sulit terbuka, cenderung menarik diri, atau menghindari percakapan emosional kerap memicu overthinking dan rasa tidak aman. 

Karakter avoidant dapat dikenali lewat beberapa pola perilaku tertentu. Yuk, kenali ciri-ciri avoidant dalam hubungan versi Cosmo berikut ini. 

Merasakan Tidak Nyaman dengan Kedekatan Emosional

Memang tidaklah umum bagi seorang avoidant attachment style untuk dekat dengan orang lain. Ia membutuhkan banyak sekali pertimbangan dan konsekuensi yang harus dihadapi dan diterima baik bagi pribadinya sendiri ataupun bagi partnernya. Kejarangan seorang avoidant attachment untuk dekat dengan perasaan emosional membuatnya asing dan merasa tidak nyaman jika ada yang berusaha mendekatinya secara emosional untuk membangun sebuah hubungan, atau bahkan menjauh saat merasa didekati.

 Mereka cenderung semakin menarik diri saat pasangannya mencoba mendekat. Untuk itu, memang perlu beberapa waktu dan usaha yang keras bagi kedua kubu untuk meyakinkan bahwa nyatanya memulai sesuatu yang baik itu juga memerlukan usaha yang baik pula. Namun, tak serta-merta berarti seorang avoidant attachment tidak menyayangi partnernya, ia hanya perlu diyakinkan dan diberi waktu untuk suatu pendekatan secara emosional dan perasaan

Sulit Memberikan Kepastian dan Komitmen

Ini adalah ciri paling kentara. Pasangan avoidant akan menghindari pembicaraan masa depan jangka panjang.

  • Mereka ragu-ragu untuk sepenuhnya menerima pasangannya atau hubungan tersebut (hesitate to embrace their partner or the relationship fully).
  • Mereka bisa mengidealkan mantan atau fantasi tentang kekasih masa lalu, membuat hubungan yang sekarang terasa kurang istimewa atau belum selesai (not fully invested in the present). 
  • Mereka mungkin menetapkan kondisi yang kaku di awal hubungan, seperti, “Aku bukan tipe yang akan menikah,” atau, “Aku enggak akan pernah melepaskan kebebasanku untuk siapa pun.”
  • Mereka cenderung menggunakan kata-kata yang mengedepankan kemandirian, kebebasan, dan swasembada daripada keintiman atau saling ketergantungan. 

Tidak Suka Mengekspresikan Pikiran dan Perasaannya

Dikarenakan saat masa pertumbuhan ia sering menutup diri dan terbiasa dengan penolakan untuk menunjukkan emosinya, hal ini berdampak pada dirinya sendiri yang memutuskan untuk menutup diri. Mengekspresikan isi pikiran dan perasaan seorang avoidant attachment dirasa sulit dan bisa dikatakan jarang. Dalam pikirannya, muncul pikiran negatif yang membuatnya tampak takut dan akhirnya memilih untuk menutup pintu akses dalam hatinya. Hal ini berlanjut pula pada susahnya ia untuk percaya pada orang lain, sehingga untuk mengandalkan orang lain saja ia pastinya belum bisa. Mereka bisa terlihat jauh dan tertutup karena tidak nyaman dengan emosi mereka sendiri. Walaupun terkadang sulit dimengerti, terkadang orang yang memiliki avoidant attachment lagi-lagi bisa kamu luluhkan dengan berjalannya waktu. Ia hanya butuh keyakinan dan usaha keras yang kamu tunjukkan. Dengan itu, rasa percaya dan keterbukaan hati akan ia tunjukkan. 

Mandiri dalam Menyelesaikan Masalah

Keterbiasaannya untuk mendiri dalam berbagai kegiatan, membuatnya cenderung mengupayakan semuanya dengan dirinya sendiri, salah satunya ialah saat masalah dalam suatu hubungan muncul. Bukannya menyelesaikan dengan pasangan dengan cara bicara baik-baik bertukar pikiran dan berdiskusi kira-kira jalan keluar mana yang baik untuk hubungan mereka, seorang avoidant attachment style justru sebaliknya. 

Menjauh dengan dalih introspeksi diri lalu memikirkan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah dalam berhubungan secara sendiri-sendiri merupakan hal yang sering dilakukan oleh seorang avoidant. Hal ini dapat merujuk pada kesalahpahaman dan tidak adanya rasa menghargai presensi dari pasangan yang mana merujuk pada hal-hal yang tidak diingakan dalam sebuah hubungan. 

Itulah empat ciri dari avoidant dalam suatu hubungan. Mengatasi sifati avoidant dimulai dengan mengenali pola tersebut terlebih dahulu. Setelah seseorang menyadari bagaimana tembok emosional mereka memengaruhi hubungan, mereka perlahan dapat mulai membangun koneksi yang lebih sehat dan aman. Semoga artikel ini membantu Sobat Kovermagz!