Wajib Dibaca! Cara Jitu Mengahapi Cewek Yang Lagi ‘PMS’

Apa yang terjadi saat PMS?

PMS atau PreMenstrual Syndrome biasanya dialami wanita menjelang menstruasi.  PMS datang dengan serangkaian gejala fisik dan psikologis. Rangkaian gejala ini muncul akibat perubahan keseimbangan hormon di dalam tubuh wanita. Gejalanya berkaitan, walaupun yang sering kali disalahkan adalah gejala psikologisnya (mood).

Gejala PMS yang bersifat fisik meliputi kram (nyeri) perut, susah buang air besar, nyeri payudara, insomnia, atau sakit kepala. Gejala fisik yang dialami ketika PMS bermacam-macam dan bisa bervariasi antara wanita yang satu dengan yang lain. Ada yang gejalanya ringan sehingga nggak dirasakan wanita yang bersangkutan. Ada juga yang PMS-nya parah banget, sampai membuat si wanita pingsan atau nggak bisa ngapa-ngapain selain tiduran beberapa hari. PMS normalnya berlangsung beberapa hari menjelang menstruasi dan bisa juga baru berakhir setelah hari ketiga menstruasi.

Pria harus ngapain?

Bantu pasangan kamu, mungkin inilah kata-kata yang tepat. Misalnya kasih dia kesempatan untuk beristirahat. Istirahat adalah obat yang paling manjur buat mengatasi PMS, walaupun di situasi tertentu dia butuh obat dari dokter.

Selain istirahat, ada enggak hal lain yang bisa dilakuin? Mau ngasih perhatian yang lebih? Bawakan dia makanan yang mengandung omega 3 dan antioksidan (buah-buahan seperti pisang, apel, atau anggur). Kandungan dalam makanan-makanan tersebut sangat membantu dalam mengendalikan mood. Jika perlu, beri dia vitamin B kompleks. Vitamin B membantu mengurangi rasa depresi dan membantu produksi energi, biar nggak lemas.

Selain makanan sehat seperti di atas, minta dia untuk mengurangi makanan asin dan kafein (kopi atau teh).  Diet seperti ini biasanya akan sangat membantu. Pasanganmu jadi enggak terlalu moody dan aktivitasnya lebih lancar.

Bila pasanganmu menjadi sangat sensitif, jangan membuat candaan yang tidak berguna. Sebagai pencegahan PMS, ajak pasangan kamu untuk rajin berolahraga biar kesehatannya stabil dan enggak mudah diutak-atik perubahan hormon saat PMS. Karena efek psikologis PMS sendiri masih jadi perdebatan di kalangan para ilmuwan, banyak pria jadi punya argumen untuk tidak meladeni dan menyepelekan PMS. Padahal, semua gejala fisik dari PMS adalah nyata.