Konfrensi Pers: Tao Silalahi Arts Festival 2019 Mengangkat Kearifan Lokal dan Kekayaan Alam

132

Penulis & Fotografer: Nursari Indah

Tao Silalahi Arts Festival (TSAF) 2019 akan diselenggarakan pada tanggal 6-8 September di Tao Silalahi, Desa Silalahi III, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi. Acara yang dinaungi oleh Rumah Karya Indonesia (RKI) ini sudah empat tahun berturut-turut hadir meramaikan para traveler Indonesia.

Hermanto Situngkir, Direkrut Tao Silalahi Arts Festival mengatakan TSAF 2019 berbeda dari tahun sebelumnya. Jika dulu TSAF mengangkat kopi Sidikalang yang terkenal, tahun ini TSAF mengangkat tor-tor Silahisabungan yang ternyata berbeda dari tor-tor Toba lainnya.

“Di TSAF kita (RKI) mengajak 7000 ribu peserta manortor bersama,” kata Hermanto.

Acara ini pun menjadi ajang memperkenalkan kearifan local dan kekayaan alam Paropo melalui trip yang dilakukan ke desa-desa. Salah satunya mengunjungi situs Partonunan Namboru Diang Namora, cikal bakal adanya ulos Silahisabungan. Peserta akan disuguhi cerita foklor melalui warga yang berprofesi sebagai guide. Lalu para peserta trip desa juga akan berkunjung ke air terjun Siringo dan Taman Wisata Iman Dairi.

Baca Juga:  ALBUM "KOMPILASI SATU DEKADE MEDAN BLUES SOCIETY” IS OUT!!

Sembari berkemah di tepi pantai dan menikmati musik bertajuk tradisional tentu menjadi hal yang dinanti-nanti oleh para traveler milenial. Tao Silalahi Arts Festival (TSAF) 2019 akan diisi oleh pekarya-pekarya local dan luar daerah serta akan diadakan pameran karya dari Pekan Baru, Padang, Sumenep, Ciamis, Jogyakarta, dan Aceh yang tergabung dalam Begawai Nusantara. Pada tanggal 6 September akan dilaksanakan ramah tamah di Desa Silalahi III yang menghadirkan pertunjukan seni dari sanggar-sanggar setempat dan monolog. Selain itu juga ada perlombaan mewarnai bagi anak-anak SD.

Ojax Manalu selaku Ketua Rumah Karya Indonesia mengatakan acara ini bertujuan untuk menggali dan menjaga kearifan lokal dan kekayaan alam Tao Silalahi kemudian mengeksposnya. Seluruh acara ini akan dilakukan bersama-sama penduduk local sebagaimana RKI adalah komunitas berbasis kemasyarakatan.

“Harapnya masyarakat dan panitia sama-sama belajar sehingga kegiatan seperti ini terus berkelanjutan,” tutur Ojax.