Siapakah Pendiri Worldcoin? Intip Profil 3 Tokoh Dibaliknya

Mendadak viral di Indonesia, kini banyak orang yang ramai mempertanyakan tentang siapakah pendiri aplikasi worldcoin tersebut? Perlu diketahui, aplikasi ini merupakan proyek mata uang kripto (cryptocurrency) global yang bertujuan menciptakan identitas digital unik berbasis teknologi blockchain untuk setiap manusia.

Di Indonesia sendiri, Worldcoin menjadi perbincangan karena banyak masyarakat yang bisa mendapatkan insentif berupa uang tunai sebesar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu. Adapun caranya ialah dengan melakukan verifikasi diri melalui pemindaian iris mata menggunakan alat bernama Orb.

Akibat itu, fenomena ini langsung mendapat sorotan serius dari pemerintah, hingga akhirnya Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI memutuskan untuk memblokir sementara aplikasi tersebut karena dinilai mencurigakan.

Kendati demikian, di balik viralnya aplikasi ini, ternyata ada tiga tokoh kunci yang menjadi pendiri Worldcoin. Mereka bukan orang sembarangan, melainkan sosok berpengaruh dalam dunia teknologi global. Siapa saja mereka? Dalam artikel ini, tim kovermagz akan membahasnya untuk anda. Simak selengkapnya disini! 

Alex Blania

Jika membicarakan siapa pendiri Worldcoin, maka Alex Blania pun termasuk di dalamnya. Ia adalah co-founder sekaligus CEO dari Tools for Humanity, perusahaan yang mengembangkan teknologi inti Worldcoin. Blania berperan besar dalam merancang infrastruktur teknologi seperti Orb dan sistem enkripsi World ID yang menjadi pondasi proyek ini.

Blania sendirir berasal dari latar belakang riset fisika dan teknologi. Selama ini, ia dikenal memiliki minat kuat terhadap privasi digital serta infrastruktur identitas global. Ia sering menjadi juru bicara teknis untuk Worldcoin dalam berbagai konferensi dunia.

Perannya menjelaskan bagaimana proses verifikasi biometrik berjalan dan bagaimana data tersebut diamankan. Berbeda dengan Altman yang lebih fokus pada visi makro dan strategi global, Blania adalah sosok teknokrat yang mendalami aspek teknis dan etika penggunaan data biometrik.

Sam Altman

Sam Altman adalah sosok paling dikenal dalam proyek Worldcoin. Ia merupakan CEO dari OpenAI, perusahaan pengembang teknologi kecerdasan buatan yang melahirkan ChatGPT. Altman memiliki latar belakang sebagai pengusaha teknologi dengan rekam jejak panjang di Silicon Valley. Sebelum mendirikan OpenAI dan Worldcoin, ia sempat menjabat sebagai presiden Y Combinator, inkubator startup teknologi yang melahirkan perusahaan raksasa seperti Airbnb, Stripe, dan Dropbox.

Visi Altman selalu berpijak pada bagaimana teknologi bisa merevolusi cara manusia hidup dan bekerja. Dalam Worldcoin, Altman melihat peluang menciptakan sistem identitas global yang adil dan aman di tengah maraknya AI dan deepfake. Ia percaya di masa depan, manusia perlu bukti bahwa mereka benar-benar manusia. Hal itulah yang menjadi alasan di balik teknologi pemindaian iris Worldcoin.

Max Novendstern

Nama Max Novendstern mungkin tidak setenar Altman atau Blania, tetapi ia adalah salah satu pendiri awal Worldcoin. Novendstern ikut merancang sistem ekonomi dan strategi peluncuran proyek ini di tahap awal. Sebelum terlibat dalam Worldcoin, Novendstern bekerja di sektor keuangan dan investasi. Ia sempat menjadi analis di Bridgewater Associates, salah satu hedge fund terbesar di dunia.

Gagasannya di tahap awal Worldcoin adalah bagaimana menciptakan distribusi kripto yang merata di seluruh dunia, terutama bagi mereka yang belum memiliki akses ke sistem keuangan formal. Namun, Novendstern diketahui sudah tidak lagi aktif di Worldcoin sejak beberapa waktu lalu.

Apa itu World App?

Dilansir laman resminya, World App adalah aplikasi dirancang dan dikembangkan oleh Tools for Humanity (TFH). Menjadi bagian dari proyek Worldcoin, aplikasi ini hadir dari gagasan Sam Altman, pendiri OpenAI. World App juga dapat dipahami sebagai salah satu jenis dompet digital yang bisa mengelola mata uang kripto untuk Worldcoin.

Aplikasi ini menyediakan akses mudah ke jaringan mudah ke World Network. Fungsinya dapat dipakai untuk menyimpan World ID dengan aman, menukar aset digital, dan mengakses Mini App. Selain itu, World App diklaim dapat membuktikan bahwa pengguna adalah manusia unik secara online dengan World ID, menggunakan aset digital, mengakses Mini Apps, dan mengklaim token Worldcoin.

Sejak diluncurkan, total sudah ada 1,5 juta pengguna yang bergabung, lebih dari 500 ribu di antaranya menggunakan World App setiap bulan. Untuk hari biasa, aplikasi ini mencatat sekitar 60 ribu transaksi dan 25 ribu pemeriksaan World ID.

Empat komponen utama World

Ekosistem World terdiri atas empat komponen utama, yaitu:

  • World ID: Identitas digital berbasis biometrik yang menjadi bukti bahwa seseorang adalah manusia nyata, bukan bot atau kecerdasan buatan (AI).
  • World App: Aplikasi dompet kripto yang memungkinkan pengguna mengelola World ID, aset digital, dan mengakses berbagai fitur lainnya.
  • Worldcoin (WLD): Token digital asli World yang dapat diklaim oleh pengguna yang telah diverifikasi.
  • World Chain: Blockchain human-first yang mendukung perluasan jaringan World di seluruh dunia.
  • World ID diperoleh melalui proses pemindaian mata dengan Orb, sebuah perangkat seukuran bola boling yang secara langsung memindai struktur iris pengguna. Data iris kemudian dikonversi menjadi serangkaian kode unik bernama IrisHash yang disimpan secara anonim di jaringan blockchain World.

Cara kerjanya

Menjawab pertanyaan mengenai apa itu World App, aplikasi ini diklaim sebagai dompet digital yang mudah diakses dan diunduh di Play Store atau App Store. Dikembangkan oleh TFH, World App adalah aplikasi yang berfokus pada Worldcoin dan Ethereum. Untuk bisa mengaksesnya, identitas pengguna akan disajikan dalam World ID.

Dalam hal ini, World ID dapat dipahami sebagai paspor digital yang dipakai pengguna untuk mengakses layanan online terdesentralisasi. Untuk bisa memperoleh World ID, pengguna harus memindai iris mata dengan perangkat khusus bernama Orb yang tersedia di lokasi tertentu. Proses tersebut akan menghasilkan kode enkripsi unik dari informasi biometrik tersebut.

World ID diklaim dirancang untuk memverifikasi keunikan pengguna dan tidak memerlukan informasi pribadi. Bahkan, mereka mengklaim bahwa data yang dibagikan dalam aplikasi dapat dihapus dengan mudah. Intinya, menurut pengembangnya, sistem ini menjamin privasi karena data biometrik tidak disimpan oleh World. Setelah proses verifikasi selesai, citra iris akan dihapus dari perangkat Orb dan hanya disimpan secara lokal di ponsel pengguna, dalam konsep yang disebut sebagai personal custody.

 

Baca Juga:  Kisah Sukses Bernard Arnault, Orang Terkaya di Dunia Mode