Saraf Terjepit, Antara Gaya Hidup dan Aktivitas yang Salah

398

MEDAN | Pernah merasakan sakit saat leher menoleh ke kanan atau ke kiri atau tiba-tiba leher belakang terasa sangat sakit saat bangun tidur. Ditambah sering merasakan pusing-pusing. Jika mengalami hal yang demikian, sebaiknya cepat-cepatlah berkonsultasi pada dokter spesialis saraf. Karena, bisa saja yang anda alami adalah gejala saraf terjepit.

Saraf Terjepit Menyerang Semua Usia

Saraf terjepit atau Herniasi Nukleus Pulposus (HNP) adalah adanya penonjolan inti dari diskus yang menjadi bantalan tulang belakang, sehingga penonjolan tersebut menekan saraf sehingga urat-urat terasa sakit. Saraf terjepit menyerang tulang belakang manusia yakni, tulang belakang leher, tulang belakang dada, tulang belakang punggung. Saraf terjepit ini tak pandang bulu. Artinya, bisa menyerang siap saja, baik anak-anak, remaja dan orang dewasa.

Saraf Terjepit dan Penyebabnya

Keluhan saraf terjepit pada umumnya, kondisi tidak nyaman, gangguan menoleh ke kanan dan ke kiri, tegang di leher, tangan kebas atau kesemutan serta nyeri di kepala. Kalau dibiarkan bisa menyebabkan gangguan gerakan pada anggota tubuh lain.

DR. dr. Ridha Dharmajaya, SpBS kepada Cover Magazine menjelaskan, pada umumnya target utama penyerangan rasa sakit di bagian tungkai, lengan, pinggang serta punggung, sehingga membuat penderita tak nyaman dalam beraktivitas.

“Pada umumnya dirasakan di tulang belakang leher, tulang belakang dada dan tulang belakang punggung. Nah, saraf yang lewat di tulang belakang itu terletak oleh sesuatu yang berada didalam tulang belakang itu juga. Yang paling sering adalah bantalan tulang belakang itu. Itulah yang disebut diskus. Keluar dari tulang belakang untuk menekan ke sarafnya. Itulah yang dinamakam saraf terjepit,”kata dr Ridha di Neurosurgery Spine&Pain Clinic di RS Adenin Adenan, Medan, baru-baru ini.

Menurutnya, faktor utama penyebab penyakit penjepitan saraf ini adalah gaya hidup (posisi yang salah saat beraktivitas). Misalnya, kebiasaan menonton televisi sambil tiduran. Kemudian, penggunaan gadget seperti pegawai kantoran yang bekerja di depan komputer tidak pada posisi yang tepat atau nyaman. Bagian lehernya tegang hingga berjam-jam. Seharusnya posisi tersebut sejajar dengan

“Posisi duduk saat bekerja yang menggunakan komputer, tapi posisinya tidak ekonomis, sehingga cenderung untuk menunduk atau main gadget dengan leher yang terlalu menunduk, atau menonton tv terlalu mendongak atau juga menonton tv kepalanya tertekuk. Itu bisa menyebabkan saraf terjepit. Kasus pada leher dan dada inilah yang sering terjadi,”jelas pria kelahiran Medan, 14 Mei 1973 ini.

Di bagian punggung, potensi terkena saraf terjepit sangat memungkinkan bagi yang sering mengangkat beban yang salah. Misalnya, mengangkat beban 20 kg seperti air galon dengan posisi yang salah.

“Untuk di bagian punggung ini sangat jarang, tapi kasusnya pernah terjadi. Saya pernah melakukan operasi pada anak usia 16 tahun karena terjadi saraf terjepit di bagian punggungnya. Itu karena posisi mengangkat beban yang salah,” jelasnya.

Gejala Saraf Terjepit

Berbeda denga penyakit lainnya, penyakit ini sangat jelas gejalanya. Oleh karena itu, begitu mengalami gejalanya, dokter menganjurkan agar segera mendatangi dokter yang tepat.

dr Ridha Dharmajaya menuturkan, gejala apabila urat syaraf terjepit pertama, bisa terjadi dan muncul di bagaian bawah. Ini artinya, rasa nyeri yang paling intens akan di rasakan sekitar betis, paha, kaki dan bokong. Namun apabila urat terjadi di alami di bagian leher, yaitu tulang belakangnya, rasa sakit akan timbul dan paling intens pada lengan dan bahu. Rasa sakit biasanya akan memburuk ketika batuk, bersin atau menggerakan tulang belakang ke posisi tertentu.

Baca Juga:  Menahan Kantuk Selama WFH? Minuman Ini Bisa Jadi Alternatif Kopi.

Gejala kedua sebut dr Ridha, mati rasa atau kesemutan. Bagian tubuh tertentu akan mengalami mati rasa jika urat syaraf terjepit. Biasanya rasa kesemutan atau mati rasa akan menyerang bagian tubuh di mana saraf yang terkena.

Yang ketiga, gejalanya kelemahan. Otot yang di persarafi oleh saraf yang terjepit cenderung melemah dari waktu ke waktu. Hal ini dapat menyebabkan seseorang mudah tersandung atau tidak kuat mengangkat atau memegang barang.

“Oleh karena itu, jika mengalami gejala-gejala seperti yang saya sampaikan itu, langsung saja datang ke dokter. Agar dokter bisa langsung memberikan tindakan. Sehingga bisa disadari dan menghindari tindakan operasi. Kalau kita datang terlambat, misalnya, yang seharusnya dilakukan operasi tapi tidak di operasi, maka yang akan terjadi bisa mengalami kelumpuhan,” pungkasnya.

Tindakan Medis Untuk Saraf Terjepit

Banyaknya anggapan masyarakat yang menyatakan bahwa penyakit saraf terjepit yang berawal dari nyeri dibagian leher tapi tidak kunjung membaik ini tidak dapat disembuhkan. Hingga mengharuskan penderita mengkonsumsi obat-obatan seumur hidup.

Di Neurosurgery Spine&Pain Clinic di RS Adenin Adenan, Medan, dr Ridha Dharmajaya akan menyembuhkan saraf terjepit melalui tindakan Anterior Cervical Discektomy and Fussion (ACDF). Dimana, tindakan ini pengambilan HNP yang akan membebaskan penekanan terhadap saraf pasien.

Pemilihan tindakan ini katanya, sesuai dengan asal dari penekanan diskus yang berada didepan (anterior) dari batang saraf (medula spinalis). Dengan demikian, tindakan ini tidak menganggu posisi perjalanan batang saraf, sehingga sangat aman dan tidak membuat kelumpuhan maupun kelemahan tangan dan kaki.

“Kenapa, karena melalui tekhnologi bedah mikro, seluruh tindakan dapat dimonitor hingga menyingkirkan kemungkinan terjadinya cidera pada saraf pasien. Saraf kejepit ini bukanlah penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Bisa disembuhkan tanpa harus mengkonsumsi obat-obatan seumur hidup,”tutur pria yang menyelesaikan pendidikan spesialis bedah saraf di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 2007 yang lalu ini.

Tips Menghidari Saraf Terjepit

Saraf terjepit ini faktor utamanya adalah karena pola hidup dan aktifitas yang salah. Untuk itu, hal-hal yang perlu dijaga agar terhindar dari penyakit saraf terjepit adalah mengubah pola hidup dan aktifitas yang benar.

Diantaranya, duduklah dengan posisi yang benar saat bekerja atau aktuftas duduk lainnya. Duduk yang benar harus tegak dan benar-benar pas. Tidak boleh selonjoran.

Kemudian, hindari bermain gadget saat menjelang tidur, apalagi dengan posisi yang miring. Jika ingin bermain gadget, pastikan dalam posisi yang tegak.

Yang terkahir, hidup sehat dan hindari gerakan-gerakan yang salah. Disamping itu, harus sertai dengan olagraga . “Olagraga yang baik itu berenang, jalan kaki dan lari. Namun, bagi yang sudah mengalami saraf terjepit, hindari olahraga yang berat karena akan menambah masalah,” ujarnya.

Penulis: Eko Fitri Brahmawati

Sumber: DR. Dr. Ridha Dharmajaya, SpBS