Mengenal Oppenheimer, Pencipta Bom Atom yang Akhirnya Menyesal

Oposisi pasca-perang terhadap senjata nuklir

Setelah perang berakhir, tepatnya tahun 1947, Oppenheimer diangkat sebagai Ketua Komite Penasihat Umum untuk Komisi Energi Atom (AEC). Dan ini menjadikan peran yang dia pegang sampai tahun 1952.

Oppenheimer memanfaatkan posisi ini untuk melobi kontrol internasional tenaga nuklir. Dia ingin mencegah proliferasi nuklir dan perlombaan senjata nuklir dengan Uni Soviet.

Oktober 1949, Oppenheimer dan AEC menentang pengembangan bom hidrogen selama debat pemerintah mengenai masalah tersebut. Baik Oppenheimer maupun AEC akhirnya bersikap menentang masalah terkait pertahanan.

Amerika berada di tengah-tengah  McCarthyisme dan perasaan antikomunis yang kuat pada tahun 1953. Selama ‘Ketakutan Merah Kedua’ ini, Oppenheimer mendapat info tentang laporan keamanan militer yang nggak membawa keuntungan untuk dirinya.

Dia dituduh memiliki simpati terhadap komunis dan menunda penujukkan agen Soviet. Tuduhan ini dikombinasikan dengan penentangannya terhadap bom hidrogen berdampak pada izin keamanan militernya dicabut. Kasus tersebut juga mengakhiri tugasnya di AEC dan posisinya sebagai penasihat eselon tertinggi pemerintah AS.

Federasi Ilmuwan Amerika dan hampir seluruh komunitas ilmiah dikagetkan dengan keputusan AEC dan memprotes persidangannya. Kasus tersebut menuai kontroversi luas di dunia sains.

Oppenheimer dijadikan simbol seorang ilmuwan yang menjadi korban perburuan penyihir. Padahal, ia berusaha menyelesaikan masalah moral yang muncul dari penemuan ilmiah. Hingga tahun 1963, Presiden Johnson mencoba menebus ketidakadilan, menganugerahi Oppenheimer dengan Penghargaan Enrico Fermi yang bergengsi dari AEC.

Di antara tahun 1947-1966, Oppenheimer menjabat sebagai Direktur Institute for Advanced Studi di Princeton. Dia berdiskusi dan melakukan penelitian tentang fisika kuantum dan relativistik, serta menyusun gagasan mengenai hubungan antara sains dan masyarakat.

Setahun setelah pensiun, Oppenheimer tutup usia karena kanker tenggorokan yang menimpanya pada 18 Februari 1967. Akhirnya pada 16 Desember 2022, Menteri Energi AS, Jennifer Granholm akhirnya membebaskan Oppenheimer dari tuduhan yang membuat izin keamanannya dicabut.

Pada Akhirnya, Oppenheimer percaya bahwa kondisi tangannya yang berlumur darah atas perannya dalam pengembangan bom atom.

Rasa bersalah yang muncul juga bukanlah atas penggunaan bom itu selama Perang Dunia II. That’s why, dia merasa bom itu dibenarkan secara moral. Begitu juga sebaliknya, Oppenheimer merasa dia bertanggung jawab atas perlombaan senjata berikutnya, juga ancaman terhadap peradaban yang ditimbulkan oleh bom itu. Di sisi lain, Oppenheimer berharap teknologi nuklir bisa diaplikasikan untuk perdamaian.