Mengenal Cortisol Face, Gejala dan Penyebabnya

Belakangan ini istilah cortisol face ramai dibahas di media sosial. Banyak orang mengaitkan wajah yang tampak lebih bengkak, bulat, atau sembap dengan stres berkepanjangan. Tidak sedikit pula yang merasa bentuk wajahnya berubah setelah mengalami tekanan pekerjaan, kurang tidur, atau kelelahan emosional. 

Penasaran lebih jauh  tentang penyakit ini? Untuk mengetahuinya lebih jauh, berikut penjelasan tentang apa itu cortisol face 

Apa Itu Cortisol Face?

Kortisol adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal, yaitu kelenjar kecil yang terletak di atas ginjal. Hormon ini sering disebut sebagai hormon stres karena perannya yang penting dalam respons tubuh terhadap stres. Ketika kita menghadapi situasi yang dianggap mengancam atau menekan, baik secara fisik maupun emosional, tubuh akan melepaskan kortisol ke aliran darah.

Meski terkenal sebagai hormon stres, kortisol sebenarnya justru membantu kita dalam menghadapi stres. Tanpa adanya hormon kortisol, seperti dijelaskan dalam National Library of Medicine, tubuh akan berhenti berfungsi dan mengalami  “krisis adrenal.” Krisis adrenal adalah kondisi darurat endokrin yang parah dan mengancam jiwa karena insufisiensi adrenal akut.

Cortisol face atau wajah kortisol mengacu pada kondisi wajah yang terlihat bulat dan penuh seperti bulan purnama. Dunia medis tidak mengenal istilah cortisol face, melainkan moon face untuk kondisi ini. Menurut para pakar kesehatan, wajah memang bisa tampak bengkak karena kadar kortisol yang tinggi dalam tubuh. Kortisol tinggi juga bisa menyebabkan:

  • Penipisan kulit sehingga pembuluh darah lebih terlihat
  • Jerawat atau kulit kusam, karena peningkatan produksi minyak
  • Lingkaran hitam di bawah mata akibat gangguan sirkulasi dan kurang tidur

Penyebab Cortisol Face

Bukan hanya stres, ternyata ada banyak penyebab wajah terlihat puffy dan lebih bulat. Beberapa di antaranya, sebagai berikut:

Stres Kronis

Seseorang yang mengalami stres kronis dapat memproduksi hormon kortisol dalam jumlah tinggi. Ketika stres berlangsung lama tanpa jeda yang memadai, maka dapat meningkatkan risiko penumpukan cairan dan redistribusi lemak di area wajah, leher, dan perut.

Kurang Tidur

Kebiasaan begadang atau kualitas tidur yang buruk dapat meningkatkan produksi kortisol. Jika tubuh kamu tidak mendapatkan istirahat yang cukup secara terus-menerus, maka bisa membuat kondisi tersebut sebagai ancaman sehingga memicu respon stres.

Pola Makan Tidak Sehat

Konsumsi makanan sembarangan, seperti makanan tinggi gula, makanan olahan, serta minuman bersoda atau alkohol secara berlebihan dapat memicu peningkatan kadar kortisol dalam tubuh, sehingga menyebabkan wajah tampak lebih bulat atau bengkak.

Kondisi Medis Tertentu

Penggunaan obat kortikosteroid, seperti prednison atau deksametason untuk mengobati kondisi medis tertentu, seperti asma, artritis, lupus, atau penyakit autoimun lainnya, dapat menyebabkan peningkatan kadar kortisol dalam tubuh.

Penggunaan jangka panjang atau dosis tinggi dari obat-obatan ini juga dapat memicu cushing syndrome, yang menyebabkan penumpukan cairan dan lemah di wajah dan pembengkakan.

Gangguan Hormonal

Beberapa kondisi kesehatan seperti gangguan tiroid, resistensi insulin, atau PCOS, juga dapat memengaruhi keseimbangan hormon dalam tubuh, bahkan memperburuk kondisi cortisol face.

Gejala Kortisol Face 

Jarang disadari, berikut adalah tanda-tanda bahwa kamu mungkin mengalami cortisol face, di antaranya:

Wajah Membulat dan Sembap

Seseorang yang mengalami cortisol face memiliki kontur wajah yang terlihat lebih penuh dan bulat, terutama di area pipi dan rahang. Bahkan, ketika berat badan tidak naik secara drastis sekalipun.

Pembengkakan pada Area Wajah

Bengkak biasanya muncul di area pipi, rahang, dan area kelopak mata juga terlihat sembap, membuatnya tampak lebih berat dan lelah. Bahkan, setelah Beauties tidur yang cukup.

Muncul Double Chin

Selain itu, terjadi juga penumpukan lemak di dagu (double chin), serta di bagian leher atau pundak (buffalo hump). Hal ini membuat garis rahang menjadi kurang tegas dan bahu tampak membesar.

Kulit Kusam dan Mudah Berjerawat

Kadar kortisol yang tinggi juga dapat merangsang kelenjar minyak berlebih (sebum) dan peradangan pada kulit. Akibatnya, wajah jadi lebih berminyak dan rentan berjerawat.

Wajah Mudah Merah

Penurunan produksi kolagen membuat kulit tampak lebih tipis, sensitif, gampang memar, dan mudah kemerahan. Sebagian orang mengalaminya akibat gangguan sirkulasi dan pelebaran pembuluh darah.

Baca Juga:  Sarapan atau Intermittent Fasting, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?