
Kabar mengejutkan datang dari musisi Indonesia. Baru-baru ini, salah satu musisi Indonesia bernama Ardhito Pramono mengaku pada publik bahwa ia memiliki masalah BPD (Borderline Personality Disorder). Hal itu terungkap lewat pengakuan Ardhito Pramono saat jadi bintang tamu di channel YouTube HAS Creative, yang ditayangkan pada 13 Mei 2025 lalu.
Masalah ini ternyata sangat berdampak pada kehidupan pribadinya, bahkan disebut menjadi salah satu penyebab perceraiannya dengan mantan istrinya, Jeanneta Sanfadelia. Lantas apa itu Borderline Personality Disorder? Bagaimana hal ini mempengaruhi kehidupan pribadi seseorang? Berikut penjelasannya, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber.
Mengenal Borderline Personality Disorder
Borderline personality disorder adalah suatu gangguan kepribadian yang menyangkut dengan masalah mental karena memengaruhi cara berpikir serta pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri. Melansir Mayo Clinic, Borderline Personality Disorder adalah kondisi mental yang mempengaruhi cara seseorang berpikir dan berperasaan tentang diri sendiri dan orang lain.
Gangguan kepribadian ini membuat seseorang mengalami ketidakstabilan dalam emosi, citra diri, hubungan sosial, dan perilaku. Bukan sekadar “moody” atau “sensitif”, namun jauh lebih kompleks. Orang dengan BPD sering kali merasa kosong, takut ditinggalkan, dan kesulitan mengelola emosi yang datang begitu intens.
Biasanya, penderita BPD adalah para remaja yang baru memasuki masa awal dewasa. Akan tetapi, borderline personality disorder adalah gangguan kepribadian yang tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada orang dewasa sekalipun.
Dalam kasus Ardhito Pramono, perasaan takut ditinggalkan ini membuatnya jadi pribadi yang selalu mendahulukan orang lain. Hal ini mungkin membuatnya terlihat mulia dan baik hati, namun pada akhirnya berimbas pada kehidupan pribadinya.
Gejala Borderline Personality Disorder
Gejala BPD bisa sangat beragam dan sering kali membuat penderitanya disalahpahami. Melansir laman NHS, secara umum gejala ini dapat dikelompokkan ke dalam empat area utama:
- Ketidakstabilan emosi: Seseorang dengan BPD sering mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem dan cepat. Misalnya, dari merasa bahagia tiba-tiba berubah menjadi marah, sedih, atau frustrasi tanpa pemicu yang jelas. Emosi yang dirasakan sangat intens dan bisa berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari.
- Pola pikir atau persepsi yang terganggu: Ini bisa berupa perasaan tidak nyata, seperti merasa diri atau lingkungan sekitar tidak benar-benar ada (derealization), atau berpikir bahwa orang lain ingin menyakiti mereka, walau tidak ada bukti yang kuat. Ada juga distorsi citra diri yang menyebabkan mereka tidak tahu siapa sebenarnya diri mereka.
- Perilaku impulsif: Melakukan hal seperti menyakiti diri sendiri, menyalahgunakan alkohol atau obat-obatan, belanja secara kompulsif, makan berlebihan, atau melakukan hubungan seks berisiko. Perilaku ini biasanya muncul sebagai pelarian dari emosi negatif yang intens.
- Hubungan yang intens tapi tidak stabil dengan orang lain: Hubungan personal sering kali diwarnai pola idealization (mengagumi seseorang secara berlebihan) lalu tiba-tiba berubah menjadi devaluation (merasa orang itu sangat buruk). Ini menyebabkan hubungan yang penuh drama, konflik, dan ketakutan akan penolakan.
Beberapa gejala lainnya yang juga kerap muncul antara lain:
- Perasaan takut ditinggalkan yang ekstrem, bahkan oleh orang yang baru dikenalnya.
- Perasaan kosong dan hampa yang kronis
- Citra diri yang tidak stabil, sulit mengenali siapa dirinya sebenarnya
- Amarah yang meledak-ledak dan sulit dikontrol
- Suicidal thought, yaitu muncul pikiran untuk bunuh diri atau tindakan menyakiti diri sendiri
Perlu dipahami, gejala-gejala BPD ini bukan hasil dari “drama” atau pencarian perhatian semata. Mereka sungguh berjuang dengan dunia batin yang terasa kacau, menyakitkan, dan sering kali tidak bisa mereka kendalikan sendiri. Gejala gangguan kepribadian seperti BPD biasanya mulai muncul sejak remaja dan terus berlanjut ke usia dewasa. Tingkat keparahannya pun bisa bervariasi, mulai dari yang ringan hingga berat, tergantung lingkungan, pengalaman hidup, dan dukungan yang tersedia.
Apa Penyebabnya?
Berdasarkan ulasan laman NHS, penyebab pasti BPD masih belum jelas. Namun, para ahli sepakat bahwa kondisi ini biasanya terbentuk dari kombinasi berbagai faktor:
- Genetik: Riwayat keluarga dengan gangguan kejiwaan bisa meningkatkan risiko.
- Lingkungan masa kecil: Trauma, pelecehan, atau pengabaian di masa kecil sangat berpengaruh.
- Struktur otak: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bagian otak yang mengatur emosi dan kontrol impuls bisa berfungsi berbeda pada penderita BPD.
Penting untuk tidak menyalahkan diri sendiri atau orang tua sepenuhnya. BPD bukan hasil dari kelemahan karakter, tapi sebuah kondisi medis yang kompleks.
Bagaimana Kondisi Ini Bisa Mempengaruhi Kehidupan Pribadi?
BPD bisa terasa seperti kutukan dalam hubungan pribadi. Banyak penderita merasa sangat takut kehilangan orang terdekat, namun cara mereka menunjukkan cinta justru bisa membuat orang menjauh. Pada akhirnya hal ini menciptakan siklus menyakitkan, yaitu semakin takut ditinggalkan, semakin mereka berperilaku impulsif, dan akhirnya semakin merasa sendiri.
Dalam dunia kerja, seseorang dengan BPD juga bisa kesulitan menjaga stabilitas karena suasana hati yang fluktuatif. Mereka bisa sangat bersemangat satu saat, lalu keesokan harinya merasa tidak berharga dan ingin menghilang.
Yang sering terlupakan adalah, penderita BPD juga penuh kasih sayang dan loyalitas. Mereka hanya belum tahu cara sehat untuk mengekspresikan perasaan yang meluap-luap di dalam diri.
Misalnya dalam kasus Ardhito Pramono, dia memberikan kasih sayang pada seseorang, namun hal ini berdampak pada keluarganya sendiri. Dia sampai melupakan istri yang tulus menyayanginya, sehingga berdampak pada perceraian.
Diagnosis Borderline Personality Disorder
Dokter akan mendiagnosis pasien yang diduga mengidap borderline personality disorder melalui beberapa tahap.
- Pertama, dokter akan melakukan wawancara medis dan mengamati gejala yang terlihat. Selain itu, dokter juga akan memeriksa riwayat medis pasien dan keluarganya.
- Selanjutnya, dokter melakukan evaluasi psikologis. Evaluasi psikologis ini biasanya menggunakan perantara kuesioner agar pasien bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan bersifat personal dan mendalam dengan lebih leluasa.
Umumnya, langkah diagnosis ini dilakukan oleh orang dewasa yang mengidap borderline personality disorder. Sebab, anak-anak atau remaja yang mengidap gangguan kepribadian ini biasanya akan membaik seiring bertambahnya usia. Namun, apabila gejala yang ditimbulkan cukup membahayakan, Anda tetap dapat membawa anak untuk mengunjungi dokter.
Bagaimana Menanganinya?
Kabar baiknya, BPD bisa ditangani. Memang tidak mudah dan tidak cepat, tapi bukan berarti mustahil. Berikut beberapa Langkah yang bisa diterapkan:
- Terapi Dialektikal Behavior Therapy (DBT) : menjadi salah satu pendekatan paling efektif. Terapi ini membantu penderita mengenali dan mengatur emosi serta membangun keterampilan sosial yang sehat.
- Terapi Kognitif Perilaku (CBT) : juga bisa membantu mengatasi pola pikir negatif yang merusak.
- Obat-obatan seperti antidepresan atau penstabil mood mungkin diresepkan oleh dokter, walau bukan pengobatan utama.
- Dukungan sosial, seperti dari keluarga atau komunitas, sangat krusial agar penderita tidak merasa sendirian dalam perjuangannya.
Namun yang paling penting adalah mengenali gejala dan mencari bantuan sejak dini akan sangat membantu proses pemulihan. Bagi sobat kover yang punya orang terdekat dengan BPD, belajar memahami dan mendampingi tanpa menghakimi adalah bentuk cinta yang paling tulus.


