Mengapa Orang Kurus Juga Bisa Terkena Diabetes? Ini Penjelasan Medisnya

Selama ini, diabetes sering dikaitkan dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Tidak sedikit orang yang menganggap tubuh kurus berarti terbebas dari risiko diabetes. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Orang dengan tubuh kurus atau berat badan normal tetap bisa mengalami diabetes, termasuk diabetes tipe 2. Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa diabetes pada orang dengan berat badan normal cukup banyak ditemukan pada populasi Asia.

Kondisi ini menjadi penting untuk dipahami karena ukuran tubuh dari luar tidak selalu menggambarkan kondisi metabolisme seseorang. Seseorang bisa terlihat langsing, tetapi memiliki faktor risiko seperti lemak yang menumpuk di sekitar organ dalam, kurang aktivitas fisik, faktor genetik, atau gangguan fungsi sel penghasil insulin.

Lantas, mengapa orang kurus bisa terkena diabetes?

Diabetes Tidak Hanya Disebabkan oleh Kegemukan

Diabetes terjadi ketika kadar glukosa atau gula darah terlalu tinggi. Pada diabetes tipe 2, tubuh dapat mengalami resistensi insulin dan pankreas tidak mampu menghasilkan insulin yang cukup untuk menjaga kadar gula darah tetap normal.

Memang, kelebihan berat badan dan obesitas merupakan faktor risiko penting. Namun, bukan satu-satunya faktor.

Riwayat keluarga, usia, kurang aktivitas fisik, tekanan darah tinggi, kadar lemak darah tertentu, serta faktor genetik juga dapat meningkatkan risiko diabetes.

Artinya, memiliki berat badan normal bukan berarti seseorang otomatis bebas dari diabetes.

1. Faktor Genetik Bisa Berperan

Salah satu alasan seseorang yang kurus dapat mengalami diabetes adalah faktor genetik.

Jika orang tua atau saudara kandung memiliki diabetes tipe 2, risiko seseorang untuk mengalami kondisi yang sama dapat meningkat. Faktor genetik juga dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam menghasilkan insulin atau merespons insulin.

Karena itu, orang yang memiliki riwayat keluarga diabetes sebaiknya tidak hanya memperhatikan berat badan, tetapi juga menjalani pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan.

2. Lemak di Dalam Tubuh Tidak Selalu Terlihat

Ini merupakan salah satu alasan mengapa seseorang yang tampak kurus tetap dapat memiliki risiko metabolik.

Berat badan dan indeks massa tubuh (BMI) tidak selalu menggambarkan jumlah maupun lokasi lemak dalam tubuh. NIDDK menjelaskan bahwa lemak yang tersimpan di sekitar perut dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan meskipun BMI seseorang tidak tergolong tinggi.

Pada sejumlah populasi Asia, risiko diabetes dapat muncul pada BMI yang lebih rendah dibandingkan populasi lainnya. Penelitian juga menemukan bahwa sebagian orang Asia dengan berat badan normal dapat memiliki lemak visceral atau lemak di sekitar organ dalam yang berkaitan dengan gangguan metabolisme.

Jadi, tubuh terlihat langsing dari luar belum tentu berarti kadar lemak internal berada pada kondisi ideal.

3. Produksi Insulin Bisa Tidak Optimal

Insulin merupakan hormon yang membantu glukosa dari darah masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi.

Pada sebagian orang dengan diabetes dan berat badan normal, masalah utamanya bukan selalu kelebihan lemak tubuh, tetapi kemampuan sel beta pankreas dalam memproduksi insulin yang tidak mencukupi.

Penelitian pada pasien diabetes tipe 2 bertubuh kurus menunjukkan adanya gangguan sekresi insulin yang lebih menonjol dibandingkan resistensi insulin pada beberapa kelompok pasien.

Artinya, seseorang bisa saja memiliki tubuh kurus tetapi tetap mengalami masalah dalam mengatur kadar gula darah karena produksi insulin tidak mencukupi.

4. Kurang Bergerak Tetap Bisa Menjadi Risiko

Tubuh kurus bukan berarti otomatis aktif secara fisik.

Seseorang yang memiliki berat badan normal tetapi menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk, jarang berolahraga, dan kurang melakukan aktivitas fisik tetap dapat memiliki risiko gangguan metabolisme.

Kurangnya aktivitas fisik merupakan salah satu faktor risiko diabetes tipe 2. Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai energi sekaligus meningkatkan kemampuan sel merespons insulin.

Karena itu, menjaga kesehatan metabolik tidak cukup hanya dengan mempertahankan berat badan.

5. Pola Makan Juga Berpengaruh

Orang kurus terkadang merasa tidak perlu memperhatikan makanan karena berat badannya tidak mudah naik.

Padahal, berat badan bukan satu-satunya indikator kesehatan metabolik.

Pola makan yang terlalu banyak mengandung minuman manis, makanan tinggi gula, makanan ultra-proses, serta rendah serat dapat menjadi bagian dari pola hidup yang kurang sehat. NIDDK merekomendasikan pola makan sehat dan aktivitas fisik sebagai bagian penting dalam menjaga kadar glukosa serta kesehatan secara keseluruhan.

Dengan kata lain, kurus bukan berarti bebas mengonsumsi gula dan makanan tidak sehat tanpa batas.

6. Faktor Usia dan Kondisi Kesehatan

Risiko diabetes tipe 2 juga meningkat seiring bertambahnya usia.

Selain itu, kondisi seperti tekanan darah tinggi, gangguan kadar kolesterol dan trigliserida, prediabetes, serta riwayat diabetes saat kehamilan dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami diabetes.

Karena faktor risikonya cukup beragam, pemeriksaan kesehatan menjadi penting, terutama bagi orang yang memiliki riwayat keluarga diabetes atau faktor risiko lainnya.

Populasi Asia Perlu Lebih Waspada

Hal ini menjadi semakin relevan bagi masyarakat Asia.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa diabetes tipe 2 dapat terjadi pada orang Asia dengan BMI yang lebih rendah dibandingkan kelompok populasi lain. Penelitian pada populasi Asia juga menemukan bahwa diabetes tipe 2 dapat muncul pada individu dengan berat badan normal atau bahkan kurang.

Karena itu, menggunakan ukuran tubuh sebagai satu-satunya patokan risiko diabetes dapat memberikan rasa aman yang keliru.

Apa Saja Tanda Diabetes yang Perlu Diperhatikan?

Diabetes terkadang tidak menimbulkan gejala yang jelas, terutama pada tahap awal.

Namun, beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:

  • Sering merasa haus.
  • Lebih sering buang air kecil.
  • Mudah merasa lapar.
  • Tubuh mudah lelah.
  • Penglihatan menjadi kabur.
  • Luka lebih sulit sembuh.
  • Kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

NIDDK mencatat bahwa sebagian penderita diabetes tipe 2 bahkan tidak menyadari dirinya mengalami kondisi tersebut karena gejalanya dapat berkembang perlahan atau tidak terasa.

Bagaimana Mengetahui Seseorang Mengalami Diabetes?

Cara paling tepat untuk mengetahui kondisi gula darah adalah melalui pemeriksaan medis, bukan hanya melihat bentuk tubuh.

Salah satu pemeriksaan yang umum digunakan adalah HbA1c, yang menggambarkan rata-rata kadar gula darah dalam sekitar dua hingga tiga bulan terakhir.

Menurut American Diabetes Association, HbA1c 6,5 persen atau lebih berada pada rentang diabetes. Pemeriksaan lain seperti gula darah puasa dan tes toleransi glukosa oral juga dapat digunakan untuk membantu diagnosis.

Jika seseorang memiliki faktor risiko atau mengalami gejala yang mencurigakan, pemeriksaan sebaiknya dilakukan di fasilitas kesehatan.

Cara Mengurangi Risiko Diabetes Meski Tubuh Kurus

Memiliki tubuh langsing bukan alasan untuk mengabaikan kesehatan metabolik.

Beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan antara lain:

Aktif bergerak. Luangkan waktu untuk berjalan kaki, berolahraga, atau melakukan aktivitas fisik secara rutin.

Perhatikan pola makan. Utamakan makanan bergizi, sayuran, buah dalam porsi sesuai, sumber protein, dan makanan tinggi serat.

Batasi minuman manis. Minuman tinggi gula dapat menyumbang asupan gula dan kalori dalam jumlah besar.

Jaga kualitas tidur. Tidur yang cukup merupakan bagian dari gaya hidup sehat.

Kenali riwayat keluarga. Jika orang tua atau saudara kandung memiliki diabetes, diskusikan kebutuhan pemeriksaan dengan tenaga kesehatan.

Lakukan pemeriksaan gula darah bila diperlukan. Jangan menunggu tubuh menjadi gemuk untuk mulai memperhatikan kadar gula darah.

Kesimpulan

Jadi, mengapa orang kurus juga bisa terkena diabetes? Jawabannya karena diabetes tidak hanya ditentukan oleh berat badan.

Faktor genetik, distribusi lemak tubuh, kemampuan pankreas menghasilkan insulin, kurang aktivitas fisik, pola makan, usia, dan kondisi kesehatan tertentu dapat berperan dalam meningkatkan risiko.

Bagi masyarakat Asia, kewaspadaan juga penting karena penelitian menunjukkan diabetes tipe 2 dapat terjadi pada BMI yang lebih rendah dibandingkan beberapa populasi lainnya.

Karena itu, jangan menjadikan tubuh kurus sebagai jaminan bahwa kadar gula darah pasti normal. Menjaga pola makan, aktif bergerak, tidur cukup, dan melakukan pemeriksaan kesehatan bila memiliki faktor risiko merupakan langkah yang jauh lebih penting untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang.