MALAS ITU TIDAK APA-APA

160

Seorang Penulis buku best-seller buku, diantaranya: The Productivity Project: Accomplishing More by Managing Your Time, Attention, and Energy, dan buku Hyperfocus: How to Be More Productive in a World of Distraction, yang juga adalah seorang pembicara motivator, Chris Bailey mengatakan “I’m a big fan of being lazy.” Dia mengaku biasanya orang-orang akan terkejut mendengar ucapannya tersebut karena researching, mengajar dan menulis buku-buku mengenai produktivitas adalah pekerjaannya. 

“Namun, belakangan ini, tampaknya tidak mungkin untuk rileks. Pandemi Covid-19 telah menyebabkan jumlah stres yang tidak dapat diatasi. Banyak orang bahkan merasa seperti berada di ambang kegilaan, sebagian karena mereka khawatir tidak melakukan sebanyak yang mereka pikir seharusnya.

Memberi diri Anda izin untuk menjadi malas mungkin merupakan penangkal yang sempurna,” lanjutnya seperti yang dilansir oleh CNBC, sebuah channel televisi bisnis Amerika Serikat.

“Most people are bad at being lazy. And when I say “lazy,” I’m not talking about occupying your time with mindless distractions; I’m talking about proper idleness — or choosing to do nothing” (Chris Bailey).

Kalau sehari-hari biasanya kita akan memelihara pola pikir produktif agar pekerjaan atau usaha berjalan sesuai target dan rencana, di masa pandemi ini, pola pikir seperti itu justru berakibat buruk.

Ketika kita terpaksa untuk stay at home, pola pikir produktif membuat kita melakukan aktifitas-aktifitas sesuai checklist, bukannya mengerjakan hal-hal yang lebih enjoy. Kita mencoba menjejalkan lebih banyak tugas setiap hari, sehingga menghindari kegiatan yang lebih lambat (dan lebih sehat) yang membuat kita  bahagia, seperti berjalan-jalan atau membaca buku.

Namun memang, kemalasan yang dimaksud bukan menghayal dengan pikiran yang mengembara kemana-mana. Satu penelitian Consciousness and Cognition (2011) oleh Benjamin Baird dkk menjelaskan bahwa saat pikiran kita mengembara, pikiran akan bergerak ke masa depan (48%), sekarang (28%) dan masa lalu (12%). Pengembaraan pikiran ini tidak selamanya tak berguna, malahan menurut Chris pengembaraan pikiran ini memungkinkan kita melakukan tiga hal penting:

Pertama: Beristirahat. Ketika kita memilih untuk membiarkan pikiran kita lepas dan bebas atau disebut juga dengan istilah “scatterfocus”, ini bersifat energi-restoratif, yang membantu kita fokus lebih dalam nanti. Untuk memperluas manfaat energi ini, ada baiknya melakukan sesuatu yang menyenangkan, yang tidak buat capek, dan berupa kebiasaan, sambil mengistirahatkan perhatian atau fokus, seperti berinvestasi dalam hobi kreatif, berlari tanpa musik atau berjalan mengambil kopi tanpa handphone yang bisa mengalihkan perhatian Anda. Melakukan sesuatu kebiasaan (habitual) juga telah terbukti mengarah pada wawasan yang lebih kreatif.

Kedua: Membuat rencana. Penelitian menunjukkan kita memikirkan masa depan 14 kali lebih sering ketika perhatian kita bebas berkeliaran, dibandingkan dengan ketika kita fokus pada satu hal. Kita juga memikirkan tujuan jangka panjang tujuh kali lebih sering ketika pikiran kita beristirahat. Jadi tanpa menyadarinya, kemalasan yang  strategis memungkinkan kita untuk menetapkan niat dan mengingat tujuan-tujuan awal kita.

Ketiga: Gali ide-ide baru. Cobalah untuk mengingat kapan terakhir kali Anda menemukan ide atau solusi kreatif. Kemungkinan itu tidak terjadi ketika Anda berlomba untuk mengalahkan tenggat waktu pekerjaan. Namun, hal ini bisa muncul ketika Anda sedang mandi yang lama atau duduk di bangku menikmati pemandangan taman. Pikiran kita yang mengembara menghubungkan ketiga tujuan mental: masa lalu, sekarang dan masa depan. Ini memungkinkan kita untuk mengalami wawasan kreatif yang jauh lebih signifikan daripada ketika dalam keadaan fokus.

Misalnya, Anda mungkin mengingat sebuah ide yang kebetulan muncul ketika Anda membaca sesuatu beberapa minggu lalu dan menjadikannya solusi untuk suatu situasi yang sedang Anda hadapi sekarang. Gagasan yang paling tidak masuk akal dan cemerlang sering datang ketika kita tidak fokus.

Jadi berhentilah mencari-cari kesibukan dan biarkan otak Anda relax. Berhenti terobsesi dengan berita. Lupakan nilai waktu yang Anda buang. Lepaskan diri Anda dari pola pikir produktivitas. Pergi bersepeda, nikmati duduk-duduk di taman sepi di kompleks rumah Anda, nikmati hobi yang sudah lama Anda tinggalkan.

 Penulis: Elsa Malona

Baca Juga:  Menahan Kantuk Selama WFH? Minuman Ini Bisa Jadi Alternatif Kopi.