Kopi Cimbang Sinabung : Wisata Kopi Pasca Erupsi Gunung Sinabung

279

Penulis : Sari | Fotografer : Vicky

MEDAN,kovermagz.com | Pasca erupsi  pada 27 Agustus 2010 hingga saat ini, Gunung Sinabung masih fluktuatif dan tak henti-henti nya mengeluarkan letusan lahar beserta gempa. Berada di ketinggian  2460 meter diatas permukaan laut, Gunung Sinabung masuk ke dalam Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara yang memiliki tekstur tanah subur sangat cocok untuk melakukan kegiatan pertaniaan sayur mayur dan buah- buahan sehingga banyak penduduk yang tinggal di kaki Gunung Sinabung. Akan tetapi dengan adanya aktifitas gunung yang meningkat memaksa sekitar 36 ribu penduduk setempat meninggalkan tempat tinggal dan lahan pertanian mereka. Akibatnya kegiatan ekonomi masyarakat sekitar terganggu dan lumpuh terutama di bidang bertani karena mayoritas penduduk di sekitar kaki Gunung Sinabung bergantung pada sektor pertanian.

Pemerintah merelokasi korban dan salah satu yang terbesar berada di Siosar, ada sekitar 2300 orang diungsikan. Di sini mereka kembali memulai hidup baru dengan lahan dan bantuan yang diberikan pemerintah dan belajar memahami alam baru. Bantuan pemerintah ini tentu sangat berguna bagi kelangsungan hidup masyarakat sekitar gunung yang tadinya hanya tahu mengenai bertani tapi saat ini mereka diajarkan mencari peluang lain untuk meningkatkan ekonomi mereka. Dengan bantuan pemerintah dan bekerjasama dengan LSM, masyarakat mencoba mengembangkan sektor kopi.

Salah satu sosok yang berhasil mengembangkan dan mengangkat kopi dengan merk “Kopi Cimbang Sinabung” adalah Imam Syukri Syah. Ditemani seduhan Kopi Cimbang Sinabung, sembari duduk santai di kedai Kopi Cimbang Sinabung, Kover Magazine berkesempatan untuk bertemu langsung dan berbincang dengan Imam selaku Ketua Petani Kopi Cimbang Sinabung. Imam menceritakan awal mula ia mulai terjun ke dunia kopi yang sama sekali tidak tahu mengenai industri kopi. “Tahun 2013 saya terjun ke dunia kopi,” ujarnya.

“Sebenarnya pekerjaan saya bangunan karena terkena dampak erupsi mengharuskan saya pergi ke pengungsian dan diungsikan selama empat bulan,” tuturnya.  Dampak dari erupsi tersebut membuat warga desa Cimbang, Ujung Payung, Karo, Sumatera Utara bangkit dari keterpurukan yang telah menghilangkan roda perekonomian di daerah tersebut. Di atas sisa-sisa abu vulkanik yang masih mengendap, warga Cimbang dengan didampingi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan FAO akhirnya berupaya mengelola pohon-pohon kopi, sebab hanya tanaman tersebutlah satu-satunya flora yang mampu tegak berdiri dan bertahan akibat erupsi tersebut.

Iman mengatakan melalui  program pemulihan pasca bencana, BNPB dan FAO melakukan pendampingan kepada para petani agar bisa mengelola tumbuhan kopi mulai dari pemetikan, mengolah biji kopi hingga dalam bentuk kemasan siap jual.

“Begitu saya masuk ke dunia kopi diadakan pelatihan yang difasilitasi oleh BNPB dan FAO pelatihannya di kabupaten Karo pada saat itu, belajar mulai dari bibit kopi, roasting, sampai ke bar,” tutur Imam. Ia menambahkan hal tersebut dilakukan agar kopi Cimbang memiliki nilai jual yang tinggi dan mampu memberi keuntungan yang lebih bagi petani setelah terjadi nya erupsi.

Dijelaskannya secara intensif pada saat itu,  Imam menuturkan terbentuk kelompok-kelompok tani dimana ada 14 desa wajib memiliki kelompok tani masing-masing dalam membudidayakan tanaman kopi dari hulu hingga hilir.

“Untuk nama kelompok tani serta brand kami  pertama kali yaitu Kopi Bubuk Sinabung,” tutur Imam sembari membuat kopi untuk tamu yang silih berganti datang.

Hanya memang untuk mengelola usaha kopi kebanyakan belum maksimal. Sehingga berganti nama menjadi Kopi Cimbang Sinabung dengan harapan bisa mengembangkan desa Cimbang  yang tadinya khalayak umum tidak tahu mengenai desa ini akan tetapi dengan adanya produk kopi tersebut bisa membuat Cimbang semakin terkenal dengan hasil perkebunan kopi yang subur, inilah yang menjadi salah satu alasan pemakaian nama Cimbang menjadi brand kopi tersebut.

“Desa Cimbang ini adalah desa tertinggal, yang tidak pernah disentuh oleh pemerintah, desa dimana yang tidak pernah dikenal oleh orang lain, bahkan saya pergi ke Kabupaten Kabanjahe saja tidak ada yang tahu dimana desa tersebut. Dari situ lah saya mempunyai inisiatif bagaimana saya bisa mengembangkan desa ini, jadi disebutlah Kopi Cimbang Sinabung,” ucapnya.

Lelaki asli Banyuwangi, Jawa Timur ini menuturkan sampai saat ini sudah ada 50 anggota petani Kopi Cimbang Sinabung dan untuk dibagian produksi ada delapan anggota. Imam menjelaskan bahwa dirinya saat ini fokus membudidayakan kopi, hal ini ia rasa sepulangnya dari pameran dimana antusias warga bahkan warga asing menyukai dan meminum Kopi Cimbang SInabung padahal saat itu Kopi Karo tidak terlalu dikenal dikalangan umum.

“Saya mempunyai dua peranan untuk desa saya yaitu pertama desa saya sendiri adalah di Cimbang walaupun bukan asli orang sini, tetap mempunyai semboyan dimana kaki dipijak disitu langit dijunjung. Jadi dari situ mulai terinovasi untuk terus melakukan perubahan yang positif. Yang kedua kalinya bagaimana produktifitas itu bagus bukan hanya kita kuantitas melainkan diperlukan kualitas yang  harus ditingkatkan,” pungkasnya.

Produksi Kopi Cimbang Sinabung

Tim Kover Magazine pun berkesempatan berkunjung ke perkebunan Kopi Cimbang Sinabung. Sambil berjalan menyusuri perkebunan kopi, Imam menuturkan saat ini Kopi Cimbang Sinabung memproduksi varietas seperti Gayo 1 yang diambil dari Gayo, lalu ada varietas kopi Sigarar Utang dan Andung Sari. Untuk varietas kopi asli dari Tanah Karo ada Ateng Super,Sigarar Utang, P88 bisa di sebut kopi janda Kopi-kopi ini adalah multi varian bukan single origin, multi varian berarti berbagai macam varitas.

Agar mendapatkan biji kopi yang terbaik, tidak sembarangan bisa diambil bijinya dari batang pohon kopi.  “Untuk disini tanaman kopi yang sudah 5, 10 sampai 15 tahun akan diambil bibitnya karena kopi dibawah 5 tahun itu belum maksimal bibitnya, kopi yang maksimal yaitu diatas 5 tahun. Itu baru bisa kita pilih dan pemilihan bibit itu tidak sembarangan bukan sesukanya ada yang merah langsung dipetik melainkan diambil sesuai fasenya,” tutur Imam.

Macam-Macam Proses Pengolahan Kopi

Setalah panen, buah-buah kopi yang dipetik kemudian dibawa ke tempat pengolahan. Produk Kopi Cimbang Sinabung memiliki proses natural, honey, semi wash, dan full wash.

Proses Natural atau Wine,  dimana setelah biji kopi berwarna merah dipanen dan dicuci bersih, ceri kopi akan ditebarkan di atas permukaan alas-alas plastik dan dijemur di bawah sinar matahari selama 35 hari. Pada proses natural, buah kopi yang dikeringkan masih dalam berbentuk buah atau ceri, lengkap dengan semua lapisan-lapisannya. Prosesnya yang natural dan alami ini akan membuat ceri terfermentasi secara natural pula karena kulit luar ceri akan terkelupas dengan sendirinya.

Proses Honey, setelah biji ceri merah dipanen langsung dilakukan penyucian ceri. Kemudian ceri merah digiling namanya Pulper atau giling basah. Setelah siap di giling basah kami tidak melakukan penyucian langsung kita jembur itulah namanya honey. Pada honey process ada sedikit mucilage yang tampak lengket pada biji kopi, dari sinilah dinamakan proses honey.

Proses Semi Wash, setelah dipanen, kulit terluar ceri kopi dikupas dengan menggunakan depulper dan dikeringkan sebentar. Proses ini melibatkan dua kali pengeringan, ketika proses pengeringan kelembaban kopi disisakan hingga 30-35 % sebelum dikupas lagi hingga bentuknya benar-benar biji atau green bean. Nah, green bean inilah yang kemudian dikeringkan lagi sampai ia benar-benar cukup kering untuk disimpan.

Prose Full Wash, proses ini banyak sekali tahapan pencucian untuk biji kopi yang akan dipanen. Penggunaan jumlah air, dan tentunya karakter rasa berbeda dengan semi wash. Full wash cenderung memiliki body yang light

Proses Roasting Kopi

Sehabis berkunjung ke kebun Kopi Cimbang Sinabung, tim Kover langsung kembali ke kedai kopi disana kami dihadirkan proses roasting.  Tentu setelah kopi dipanen dan diolah, proses selanjutnya yang akan dilakukan adalah roasting. Proses ini sangat menentukan citarasa kopi yang akan dinikmati untuk diminum. Setiap proses kopi yang diolah memiliki roastingan berbeda beda. Untuk Semi Wash tingkat roasting yang diambil yaitu Medium to Dark , sedangkan Natural diambil ditingkatkan light medium, dan Honey ditingkat Medium.

Selain biji kopinya yang memiliki kualitas terbaik, Kopi Cimbang Sinabung memiliki prestasi yang membanggakan untuk Indonesia. Kopi Cimbang Sinabung termasuk dalam 23 Kopi Indonesia yang mendapatkan penghargaan AVPA Gourmet Product di pameran SIAL Paris, Perancis. Selain itu Imam menuturkan, ia mendapat kesan  yang tak terlupakan saat mendapat sertifikat di Vietnam. “Sertifikat pada saat ke Vietnam yang paling berkesan karena yang belajar kesana penyaringannya sangat susah lalu sangat sulit dan pengorbanannya sangat kuat sekali. Hanya ada 50 peserta yang mendapat setifikat tersebut termasuk saya,” ucap Imam dengan menggebu-gebu.

Bagi Anda yang penasaran dengan Kopi Cimbang Sinabung bisa dibeli dengan beragam harga yang ditawarkan. Harga biji kopi ini dijual untuk umum pun berbeda-beda, untuk harga paling rendah yaitu semi wash. Semi wash  di bandrol dengan harga Rp. 120.000/kg, full wash Rp. 130.000/kg, Honey Rp. 150.000/kg, Natural Rp.175.000/kg dan Wine Rp 750.000/kg. Jika Anda berminat dengan kopi Cimbang Sinabung bisa mampir kesini, tentu 100% kopi arabika terbaik yang disediakan.  

Sembari menikmati kopi, pengunjung yang mampir ketempat ini dapat melihat langsung panorama Gunung Sinabung. Bangunan kedai kopi yang terbuat dari kayu menambah sensasi suasana pedesaan ala kaki Sinabung.