Kisah 3 Srikandi Panahan Peraih Medali Pertama Indonesia di Olimpiade

827

Sobat Kovermagz, tahukah Anda bahwa olimpiade Seoul 1988 menjadi saksi sekaligus momen bersejarah bagi Indonesia. Pasalnya bertepatan pada tanggal 1 Oktober 1988, Trio Srikandi pemanah yakni Nurfitiriyana Saiman Lantang, Lilies Handayani, dan Kusuma Wardhani meraih, medali perak beregu di Olimpiade tersebut. Mereka mempersembahkan medali pertama bagi Indonesia dalam ajang Olimpiade.

Ketiga Srikandi anak bangsa tersebut berhasil mengalahkan tim panahan Amerika Serikat dan melahirkan legenda sembilan anak panah. Dengan keberhasilan tersebut, Indonesia berhasil keluar sebagai juara ke-2. Segera setelah kemenangan itu, kabar keberhasilan Trio Srikandi panahan Indonesia segera menghasilkan apresiasi yang tidak terhingga.

Mengukir Sejarah di Dunia Panahan 

momen bersejarah tersebut dicapai oleh Nurfitriyana-Lilies-Kusuma melalui proses yang tidak mudah. Mereka menggapai kejayaan setelah ditempa dengan latihan keras dibimbing oleh pelatih Donald Pandiangan. Saat itu ketiga atlet ini sama sekali tidak terkenal sebelum meraih medali perak olimpiade.

Nama mereka kalah tenar dibandingkan Mardi Lestari (atletik), Yayuk Basuki (tenis), Suharyadi (tenis), Donald Wailan Walalangi (tenis), dan Adrianus Taroreh (tinju), yang menjadi atlet terkenal yang mengikuti Olimpiade 1988. Pada masa itu memang olahraga tenis, atletik, dan tinju, sedang digemari oleh masyarakat Indonesia.

Kategori lomba panahan beregu baru pertama kali dipertandingkan di Seoul dalam Olimpiade modern. Pepanah putri Indonesia tidak diperhitungkan dalam persaingan di Olimpiade 1988. Saat itu ada trio pepanah Korea Selatan (Korsel) yang menyapu bersih medali nomor individual.

Selain itu ada duet pepanah Tiongkok, Ma Xiangjung dan Yao Yawen, pemenang dan ranking 3 kejuaraan panahan dunia tahun 1987. Ikut serta pula pemanah Uni Soviet yang merupakan pemenang beregu Kejuaraan Dunia Panahan 1987. Ada juga tim putri Amerika Serikat (AS) yang sudah sering menjadi juara dunia.

Tapi, lapangan panahan Hwarang yang terletak di dalam kompleks militer Seoul, Korea Selatan (Korsel), menjadi saksi bisu kesuksesan tim polesan Donald Pandiangan kala melahirkan medali perak untuk Indonesia. Saat itu, lawan Indonesia seperti Korsel, AS, Uni Soviet, dan Britania Raya, merupakan juara dunia panahan beregu putri

Tampil dengan Maksimal Untuk Indonesia 

Tak diunggulkan, Trio Srikandi Indonesia tampil tanpa beban di final. Mereka dengan mantap dan penuh percaya diri mendulang banyak poin. Ketiganya sukses mendulang total 952 poin, menyamai poin pepanah Amerika Serikat, mengalahkan poin dari Uni Soviet dan juga Britania Raya.

Hanya trio pemanah putri Korsel yang mampu melampaui perolehan poin Indonesia. Sejarah besar kemudian tercipta, medali pertama olimpiade untuk Indonesia. Tapi karena poin sama, trio pepanah Indonesia dan AS kembali diadu dalam sesi tri-breaker. Sembilan anak panah terakhir yang dilepaskan trio srikandi Indonesia mendulang 72 poin.

Baca Juga:  Mengenal Legenda Pemain Sepak Bola Amerika dan Aktor O.J. Simpson Yang Tutup Usia di 76 Tahun

Hasil tersebut sudah cukup untuk mengalahkan AS yang hanya meraih 67 poin usai satu anak panah melenceng dari papan target. Akhirnya, Nurfitriyana-Lilies-Kusuma sukses menjadi runner up, mempersembahkan medali perak buat Indonesia. Keberhasilan yang tidak pernah diduga sebelumnya.

Hal ini karena pencapaian ketiganya kurang maksimal saat bertarung di nomor perorangan putri. Kusuma dan Lilies tumbang di perempat final. Sementara Nurfitriyana terhenti di babak semifinal. Medali perak tersebut menjadi yang pertama setelah 36 tahun Indonesia mentas di Olimpiade. Juga motivasi bahwa atlet Indonesia bisa berprestasi pada ajang Olimpiade.

Melampaui target

Saat di Seoul, tekanan semakin berat dirasakan oleh para atlet, termasuk para atlet panahan. Mereka memikul beban sebagai wakil Indonesia di ajang Olimpiade. Sejak ikut Olimpiade pertama kali di Helsinki, Finlandia (1952), Indonesia belum pernah menorehkan prestasi.

Padahal saat itu, Donald Pandiangan sudah bolak-balik juara Asia dalam tahun 70-an. Bahkan ia pernah memecahkan rekor dunia di PON 1977 Jakarta. Mimpinya meraih medali di Olimpiade Moscow 1980, hancur berantakan setelah Pemerintah Indonesia memutuskan memboikot karena invasi Uni Soviet ke Afghanistan.

Sebenarnya cabang panahan putri Indonesia hanya ditargetkan menyumbang medali perunggu. Secara mengejutkan Trio Srikandi berhasil melampaui target yang diberikan dengan raihan medali perak. Berkat sumbangan itu, Indonesia berada di urutan ke-36 di atas dua negara tetangga Asia Tenggara, Thailand dan Filipina.

Kabar itu pun menyebar dengan cepat di Tanah Air. Kepulangan Trio Srikandi disambut antusias rakyat Indonesia di bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Presiden Soeharto mengundang ketiga atlet panahan beserta tim pelatih ke Istana Negara sebagai bentuk apresiasi.

Kisah 3 Srikandi Diangkat menjadi Film 

Hingga akhirnya, kisah perjuangan 3 Srikandi menarik perhatian produser Raam Punjabi dan sutradara Imam Brotoseno untuk diabadikan dalam sebuah film yang berjudul sama dengan sebutan mereka yaitu, 3 Srikandi.

Pada Film 3 Srikandi ini diperankan oleh beberapa aktor dan aktris kenamaan Indonesia. Adalah Reza Rahadian yang berperan sebagai Donald Pandiangan, Tara Basro sebagai Kusuma Wardhani, Chelsea Islan sebagai Lilies Handayani, dan Bunga Citra Lestari sebagai Nurfitriyana Saiman yang juga sebagai penyanyi untuk soundtrack 3 Srikandi ini.

Film 3 Srikandi ini dapat membangkitkan rasa nasionalisme Masyarakat Indonesia yang pesimis akan perkembangan dunia olahraga di tanah air. Juga, rasa cinta 3 Srikandi terhadap tanah air yang ditonjolkan pada film ini dapat menjadi motivasi dan pantas untuk diteladani.


Warning: A non-numeric value encountered in /home/kovermag/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 353