Simak Beberapa Contoh Budaya Luar Yang Sepertinya Harus Kita Tiru di Indonesia

153

Medan, Kovermagz – Setiap negara pasti punya budayanya masing-masing. Budaya biasanya dipengaruhi oleh lingkungan, kebiasan orang-orang terdahulu, atau juga kepercayaan atas sesuatu.

Di Indonesia sendiri, ada beberapa budaya lumrah yang sering kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari. contohnya seperti budaya senyum, sapa, dan salamnya Indonesia, yang akhirnya mencerminkan Indonesia sebagai bangsa yang ramah. Ada juga budaya bertetangga, dan budaya-budaya lain yang diturunkan dan terbawa hingga kini.

Terlepas dari budaya Indonesia tersebut, ternyata ada beberapa budaya asing yang sepertinya juga patut kita contoh. Bukan dianggap harus kebarat-baratan, namun beberapa budaya ini sepertinya akan sangat baik untuk diri sendiri dan orang sekitar jika kita terapkan pada kehidupan kita sehari-hari, berikut penjelasannya:

  1. Menahan pintu atau lift orang lain

Pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan saat pergi kesuatu tempat atau pusat perbelanjaan ketika sedang membuka pintu atau lift? Pasti tidak mengenakkan sekali ya rasanya jika kita sedang buru-buru ingin naik lift lalu pintu lift nya tertutup begitu saja akibat penumpang llift lain tidak terlalu peduli dan responsif.

Padahal, hanya dengan menahan pintu sebentar akan sangat membantu orang lain yang sedang menunggu lift, lho.. Mulai sekarang yuk coba sama-sama tingkatkan rasa awareness pada orang sekitar. Hidupmu akan lebih berarti jika bisa membantu orang lain.

2. Membuang sampah makanan sendiri

Diluar negeri, mungkin hal ini adalah hal yang biasa. Sehabis makan disuatu tempat, mereka terbiasa untuk memberishkan sisa sampah makanannya sendiri.

Meskipun tetap ada helper dan pegawai direstoran tersebut, mereka tetap akan membersihkan sampahnya sendiri. Dengan hal ini setidaknya akan sedikit meringankan pekerjaan pegawai tersebut.

3. Menyapa dengan ceria

Sekedar sapa teman dan orang sekitar dengan sapaan “Hi”, “Selamat pagi” , “Have a nice day” mungkin agak terkesan akward ya jika dilakukan di Indonesia.

Ternyata, diluar negeri hal ini lumrah sekali lho dilakukan. Meski dua orang tersebut tak saling kenal dan hanya bertemu pada saat itu saja, mereka tak enggan untuk menyapa duluan lawan bicara mereka dengan sapaan-sapaan positif.

Baca Juga:  ALBUM "KOMPILASI SATU DEKADE MEDAN BLUES SOCIETY” IS OUT!!

Selain terkesan ramah dan friendly, hal ini dapat membuat keduanya semakin bahagia dan menyenangkan.

4. Tepat waktu

Pernah dengar istilah “jam karet Indonesia” ? Mungkin terdengar sangat kurang baik ya, tapi ternyata kenyataannya mayoritas masyarakat Indonesia masih banyak yang kurang bisa untuk menghargai waktu.

Mengambil contoh negara Jepang, tepat waktu adalah salah satu patokan sopan santun atau tidaknya seseorang. Masyatrakat Jepang terbiasa mengagungkan ketepatan waktu dan akhirnya hal ini sudah menjadi budaya bagi mereka.

Pepatah Time is money, harus selalu dipegang kita pegang teguh. karena 1 hari hanya terdapat 24 jam, jadi pergunakanlah waktu dengan sebaik mungkin.

5. Mengutamakan orang dengan kebutuhan khusus

Orang dengan berkebutuhan khusus memang seharusnya lebih diprioritaskan. ibu hamil. lansia, atau orang-orang difabel, mereka harus diberikan priority dibanding orang biasa.

Tapi pada beberapa kasus, justru banyak orang yang tidak memperdulikan hal ini. Terlebih di Indonesia, rasanya masih sangat kurang akan kesadaran tentang hal seperti itu.

Bukannya tidak tahu, mungkin hanya malas jika harus berdiri atau memberikan kursi kepada orang lain yang membutuhkan. Mulai sekarang, cobalah untuk lebih utamakan orang-orang dengan kebutuhan khusus saat sedang berada di tempat atau transportasi umum ya..

6. Berdiri di sisi kiri eskalator dan tangga.

Mungkin di Indonesia tidak banyak tahu hal ini. Ternyata, untuk naik eskalator juga ada adabnya, lho.. Untuk kamu yang sedang naik eskalator dengan keadaan santai cobalah pinggir ke sisi kiri eskalator dan kosongkan sisi kanannya.

Sebab, sisi kanan eskalator sebenarnya sengaja dikosongkan untuk orang yang tergesa-gesa dan terburu-buru.

Penulis: Jehan Erwita

Sumber: Berbagai sumber