Fedricho Purba Seniman Visual yang Sajikan Kritik melalui Estetika Seni

219

Penulis: Indriyana Octavia
Fotografer: Vicky Siregar

Sosoknya kerap menyuarakan keresahan tentang situasi dan kondisi sosial melalui jalur seni. Mural kini juga berperan sebagai bisnis kreatif di tengah era digital.

Tak banyak seniman yang memilih ornamen budaya Batak sebagai motif objek yang akan dilukis. Salomo Fedricho Purba atau yang akrab disapa Richo, gemar melukis sejak kelas 2 SMA. Terinspirasi oleh seniman tato ukiran Batak, mendiang Chay Siagian, Richo pun belajar ornamen batak dan menuangkannya dalam bentuk tulisan di kertas kala itu.

Semakin ditekuni, Richo semakin yakin bakat dan hobinya memang melukis. “Awalnya kan gambar ukiran-ukiran Batak gitu, terus didalami jadi suka desain grafis. Kebetulan dulu suka musik metal juga, jadi sempat gambar yang seram-seram underground. Sampai akhirnya muncul niat kuliah seni rupa,” ungkap pria kelahiran Medan, 22 November 1992 ini.

Dinding kamar pribadi Richo menjadi ruang pertama kalinya ia menuangkan bakatnya melukis. Sedangkan karya pertamanya di jalanan berupa mural dengan tema kritik sosial “Menolak Lupa Kematian Munir”. Ada kalanya Richo khawatir aksi muralnya mendapat kecaman dari aparat karena dianggap vandalisme. Belum lagi ada organisasi masyarakat yang suka menagih ‘uang rokok’.

“Vandalisme memang tujuannya merusak, kalau mural tujuannya estetika untuk keindahan. Bahkan ilmu yang kami dapatkan dari akademik dituangkan ke jalan,” tutur Richo.

Penggagas Mural Medan

Sekitar tahun 2015 Richo berinisiatif mendirikan komunitas Mural Medan sebagai wadah sharing dan menyalurkan hobi bermural. Bermula dari keisengan, siapa sangka sekarang komunitas tersebut paling banyak dicari para penikmat seni bahkan yang bersifat komersil.

“Dulu suka sedih juga kalau kerja sendirian. Tahun 2016 ngerasain buat mural kecil gitu untuk logo. Satu hari bisa tiga tempat aku sendiri yang ngerjain. Misalnya dari jam 10 ke 12 siang di satu tempat, dari jam 12 ke jam 2 siang pindah tempat lagi, bagi-bagi waktu,” ujar pria bungsu dari tiga bersaudara ini.

Dua tahun belakangan, Mural Medan sudah membenahi manajemennya karena orderan mural berdatangan silih berganti. Komunitas yang membesarkan mereka kini menjadi ladang mata pencaharian para pemural. Sekarang anggota Mural Medan berjumlah 16 orang dengan pemural 12 orang dan 4 orang bagian manajemen.

Omzet Puluhan Juta Menurut Richo, lukisan dan mural tidak jauh berbeda, sama-sama bergambar, hanya saja mural diaplikasikan pada bidang yang lebih luas seperti dinding atau tembok. Masyarakat juga mulai ‘melek’ dengan seni rupa, terbukti mural semakin digandrungi industri eksterior dan interior baik restoran, perusahaan atau pun wahana rekreasi.

“Kebetulan mural makin berkembang, banyak pesanan masuk, ternyata butuh tim yang lebih banyak juga, sekarang kami turun ke lapangan 3-5 orang untuk satu tempat. Dari situ bisa lihat peluang untuk dijadikan sebuah kegiatan serius. Soal harga tergantung ukuran dinding dan tingkat kesulitannya. Misalnya jenis 3D yang pop art seperti kartun berbeda dengan surealis. Bisa dibilang omzet per bulannya puluhan juta,” pungkas Richo menjelaskan.

Tahap pengerjaan mural mula-mula menggunakan contoh desain, kemudian disesuaikan dengan space, dilanjutkan dengan menggambar pola lalu masuk ke proses coloring dan diakhiri dengan pengerjaan detail.

Baca Juga:  HANNA PAGIET: PEREMPUAN DAN MUSIK

Alat yang digunakan untuk pembuatan mural adalah cat minyak untuk media kanvas dan cat akrilik untuk tembok karena berbahan dasar air. Mural yang diaplikasikan pada luar ruangan akan bertahan selama kurang lebih lima tahun, sedangkan yang diterapkan pada area indoor bisa sampai tujuh tahun.

Sama layaknya harga, waktu yang dibutuhkan untuk merampungkan pengerjaan mural juga bergantung pada ukuran media dan tingkat kesulitan. “Kalau misalnya dinding 7×3 itu bisa 2 sampai 3 orang dalam waktu seminggu. Kalau jenisnya tiga dimensi (3D) itu dua minggu baru selesai,” ucap Richo.

Gelar Pameran Tunggal

Kemahirannya melukis menggiring Richo untuk menggelar Pameran Tunggal Seni Rupa di Taman Budaya Sumatera Utara pada 15-17 Mei 2017 lalu yang bertajuk Ulubalang. Sebagian besar lukisan Richo menceritakan kritik sosial warisan budaya dan kearifan lokal yang perlu dijaga melalui sosok ulubalang yang merupakan profesi penjaga kampung halaman di tanah Batak.

Diharapkan dengan adanya pameran ini tercipta kesadaran untuk memelihara hubungan antara manusia dan bumi. Ditanya mengenai kesukaannya mengangkat tema kritik sosial pada karya-karyanya, Richo menanggapi dengan bijak, “Kita harus peduli. Kritikan, saran dan masukan kepada pemerintah juga perlu apalagi secara visual.”

Richo juga berharap pemerintah lebih mendukung para pelaku seni visual di Medan dengan memberikan akses dan menyediakan tempat untuk berkarya memperindah kota.
Uniknya, orang tua Richo awalnya tidak mengetahui bahwa sang anak memiliki bakat di bidang seni, walau pun begitu mereka tetap mendukung kegiatan yang digeluti Richo. Begitu pameran tunggal diselenggarakan, baru lah orang tua Richo menyadarinya.

“Yang paling mengesankan waktu pameran tunggal, almarhum bapakku datang,” ucap Richo bangga.

Sulap Sejumlah Tempat

Banyak restoran, kafe, perusahaan, perumahan, bahkan tempat wisata sudah disulap oleh tangan-tangan kreatif tim Mural Medan. Sebut saja beberapa brand ternama seperti Sour Sally, Warung Steak and Shake, Warung Wakaka, Tijili Square hingga gerai bisnis milik anak presiden, Markobar, Sang Pisang dan Kopi Jolo. Selain outlet kuliner, Mural Medan juga pernah mendekorasi Pertamina, Railink, Funland Mikie Holiday, Pantai Cermin, Ringroad City Walks, dan Givency One milik Wiraland Property.

“Ringroad City Walks lantai 1-2-3, Wiraland Givency One sekitar 8 tembok tingginya 5-6 meter pakai tangga ngelukisnya. Paling tinggi sekitar 10 meter yang di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) tahun 2015 lebarnya 22 meter,” tambah Richo.

Melalui Mural Medan, Richo juga berkesempatan mengunjungi beberapa kota untuk mengerjakan proyek muralnya seperti Berastagi, Jakarta dan Makassar. Rencana ke depannya, Richo akan menerapkan seni visual pada produk semisal custom baju. Menurut Richo keahliannya sebagai pemural tidak serta merta diperoleh begitu saja, butuh proses dan tahapan.

“Skill yang dibutuhkan sebenarnya sederhana saja. Kadang orang mikir ‘ah karena kuliah makanya dia bisa ngelukis’ ternyata kuliah tidak banyak membantu, semuanya kembali ke kita mau latihan terus atau enggak,” kata pria yang hobi diskusi sambil minum kopi ini mengakhiri.