“Mengorganisir masyarakat di sana, sekitar 3 hingga 4 bulan. Tinggal dan berkeseharian, membaur dengan warga. Saya senang melakukannya, seperti klik, hobi saya tersalurkan. Karena nyaman akhirnya keterusan padahal penghasilan hanya sejuta sebulan. Setelahnya saya sempat bergabung dengan JALA (Jaringan Advokasi Nelayan) Sumut. Ini sewaktu kuliah menuju wisuda (2007–2009),” cerita alumni FISIP jurusan Administrasi Negara tersebut.
Dari sana, Dana sadar jika upaya pelestarian lingkungan harus dilakukan setiap saat dan merupakan tanggung jawab semua pihak tanpa terkecuali termasuk dirinya. Dua tahun setelahnya usai wisuda ia teguh bergabung dengan Walhi. Ia mulai dari fungsi Manajer Advokasi dan Kampanye.
“Saya tangani beberapa kasus dan kampanye termasuk PLTA Batubara. Sudah tidak persoalan gaji lagi karena di sini memang tidak bisa kaya. Namun ini tentang pendampingan masyarakat, mendengarkan mereka juga mendengarkan alam kita. Jika lingkungan rusak, hutan habis, maka kita habis. Saya merasa bertanggung jawab meski itu adalah tugas utamanya negara. Namun jika terus bertanya kemana negara tanpa mempertanyakan apa yang sudah kau buat untuk negara, saya rasa tidak etis juga,” tegasnya.
Mencerdaskan Masyarakat Itu Menyenangkan
Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) Sumut berdiri sejak 1995 sebagai reaksi dan keprihatinan atas ketidakadilan dalam pengelolaan sumber daya alam juga kesadaran akan kerusakan lingkungan hidup yang semakin masif dan kompleks, baik di pedesaan maupun di perkotaan.


