Cerpen: Kisah di Tepi Sungai

309

Pagi ini, aku disambut kicauan burung yang bertengger di pohon sebelah rumah. Padahal biasanya burung-burung di pohon itu tidak berkicau merdu apalagi menari-nari mengitari pohon-pohon di sekelilingnya. Bagaimana burung-burung atau hewan lainnya bisa bergembira pagi ini, sementara tempat tinggal yang biasa mereka tempati saja telah dirusak habis oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

“Mira, ponselmu berdering, Nak.” 

“Iya, Bu.”

“Halo Mira, hari ini kita akan ada kegiatan di luar kampus.” suaranya terdengar menggebu-gebu. 

“Iya. Aku tidak lupa, terima kasih sudah mengingatkan.” 

Ini hari pertama, aku dan komunitas kampusku melakukan kegiatan konservasi lingkungan. Kami akan menanam pohon di lahan gundul. Kami ingin mengembalikan keasrian bumi, seperti dahulu, belum banyak polusi. 

Bukan hanya ingin mewujudkan itu saja, kami juga akan mengajak masyarakat ikut berpartisipasi bersama kami agar semuanya menyadari bahwa menjaga lingkungan itu penting. 

“Hai, sudah pada siap belum?” tanyaku pada teman-teman.

“Sudahlah, dari tadi kami menunggumu.” 

“Ya sudah kita berangkat sekarang. Hari ini bersepeda kan?” tanyaku.

Bukan hanya ingin mewujudkan bumi yang asri, kami juga ingin memberi contoh kepada orang banyak untuk tidak selalu menggunakan motor atau mobil mereka ketika bepergian. Dengan menggunakan sepeda, kita sudah mengurangi polusi.

“Tidak Mira, kalau kita semua bersepeda kapan akan sampai ke tempat kita tuju. Lumayan jauh loh.” 

“Bagaimana kau ini. Seharusnya kita memberi contoh kepada orang-orang agar tidak selalu menggunakan kendaraan yang menyebabkan polusi di jalan. Itulah gunanya kita membentuk komunitas kita.” jelasku.

“Ya sudah. Kita hari ini bersepeda saja, lagian ini masih pagi.” temanku menyahut.

Setelah perdebatan itu, akhirnya semua sepakat bersepeda. Sepanjang jalan, kami begitu menikmati sayup angin juga dedaunan yang jatuh mengenai kepala. Ditambah lagi, pagi ini adalah hari libur, jadi tidak banyak orang yang berkendara. 

Pada sepertiga jalan menuju kawasan konservasi, kami terpaksa berhenti. Lalu lintas macet total. Semua orang sibuk membunyikan klakson kendaraannya. Kami penasaran. Dengan tergesa-gesa, kami meminggirkan sepeda dan berjalan ke depan untuk melihat apa penyebab kemacetan. 

“Ayo, kita lihat ini ada apa.” 

“Astaga, Mira. Ini tidak bisa dibiarkan, bisa-bisa semua orang akan terjebak.” kata temanku dengan khawatir.

“Emang kenapa. Bahaya? Apa ada kecelakaan?” 

“Bukan. Itu ada pohon besar yang tumbang.” 

“Ya ampun. Ayolah kita bantu untuk menyingkirkan pohon itu.” 

Sungguh, ini keadaan yang menyedihkan. Di tengah kebutuhan bumi akan banyak pohon, justru semakin banyak pohon yang tumbang. Sayangnya, tidak banyak masyarakat yang peduli. Dimana-mana sampah, pepohonan ditebang secara liar, asap kendaraan melimpah. Bagaimana bumi ini bisa sehat?

Memang, mengembalikan keasrian bumi sangat sulit. Itulah gunanya kami mendirikan suatu komunitas yang kami namai Bumi Asri. Kami mempunyai program untuk menciptakan bumi tanpa sampah dan juga bumi yang asri. 

“Mira, kita mulai tanam saja pohonnya di sini.” ajak temanku.

“Iya, ini tempat yang sangat cocok kita tanam pohon. Lihatlah hanya ada beberapa pohon yang tumbuh di sekitar sini, sudah tidak seimbang bukan?”

“Iya, untuk orang berteduh saja tidak cukup.”

Setelah beberapa pohon ditanam, kami pun melanjutkan perjalanan mencari tempat lain untuk ditanami. Pada saat menyusuri jalan, kami melewati sungai yang lumayan panjang. Tetapi, sungainya sangat kotor, airnya juga keruh. Padahal, masyarakat sekitar selalu menggunakan air sungai ini  untuk mencuci pakaian, mandi, bahkan keperluan yang lain. 

“Itu sampahnya menumpuk di sudut sana.”

Pandangan kami tertuju pada tumpukan sampah yang tingginya lebih dari tiga hasta di tepi sungai. Tidak jauh dari tumpukan sampah itu, ada seorang laki-laki paruh baya yang sedang duduk termenung. 

“Pak, sedang apa di sini?” temanku memberanikan diri bertanya. 

“Bapak hanya duduk santai sambil menikmati suara air sungai dan berteduh di pohon rindang ini, Nak.” ucap Bapak itu pelan sembari menatap sayup ke arah kami. 

“Bapak sering duduk di pinggiran sungai ini?” tanyaku penasaran. 

“Iya, Nak. Bapak cukup sering di sini.” 

“Sejak kecil Bapak tinggal di tepi sungai ini?”

Bapak itu mengangguk, “Dulu, sungai ini bersih, indah. Anak-anak senang bermain di sungai ini. Tapi, sekarang semuanya berubah.” suaranya meninggi.

“Bapak tahu mengapa air sungai ini keruh dan berbau?” 

Sepasang mata Bapak itu berkaca-kaca. 

“Pabrik itu yang melimpahkan limbah ke sungai ini. Sayangnya penduduk tidak ada yang berani memberontak. Semua dibungkam. Mereka dibayar dengan uang atau ada juga yang dipekerjakan di sana. Bapak sendiri yang memberontak.” 

“Tetapi, apa tidak ada korban, Pak?”

“Banyak. Anak-anak kecil di tepi sungai ini keracunan. Sakit. Kami tidak punya sumber air yang bersih karena semua tercemar.”

“Pemerintah, Pak? Tidak tahu soal ini?”

Ia terdiam.

“Kalian pasti lebih mengetahui soal itu.”

“Keluarga korban tidak ada yang menuntut, Pak?”

“Sudah berkali-kali, Nak. Tetapi nihil. Perusahaan itu lebih kuat dari kami yang cuma pedagang kecil. Kami tak berdaya lagi. Akhirnya, kami harus merelakan begitu saja, anak-anak kami sakit hingga meninggal.” suaranya lirih. Matanya berlinang. Ia tak sanggup menyembunyikan perasaan sedihnya. 

Siang itu, seketika suasana haru dan begitu pilu. Kami yang menyaksikan sendiri bagaimana kehilangan mencabik-cabik hati Bapak itu. Semua karena polusi. Alam ini rusak. Anak-anak yang jadi korban. 

“Kalian lanjutkan perjuangan, Nak. Bapak masih berusaha mengobati kehilangan anak Bapak di sungai ini.”

 

Baca Juga:  MENGEJAR KESEMPURNAAN KECANTIKAN, SEJAUH APA?

*Penulis bernama Mei Elisabet Sibarani, seorang mahasiswa Program Studi Penerbitan Politeknik Negeri Media Kreatif

ilustrasi dikutip dari google.