24 Jam Yang Mengobati (Bagian Pertama)

101
CERPEN

Puisi berjudul Danau Toba karya Sitor Situmorang ini tak kunjung pergi dari kepala. Sampai tibalah hari itu, hari dimana rindu itu dibayar tuntas. Hari Jumat dini hari, perjalanan di mulai dari warung kopi kecil seorang teman di daerah Setia Budi di kota Medan. Rute yang dipilih adalah rute dari barat, via Berastagi, Merek, menuju Samosir. Sama seperti perjalanan menuju Danau Toba umumnya, musik-musik yang diputar dalam perjalanan adalah musik-musik khas Batak, tapi ada satu pantangan yang tidak boleh dilakukan, yaitu memutar lagu yang berjudul “Pulo Samosir” sebelum danau bisa dilihat dengan mata telanjang. 

Di Berastagi kami singgah sebentar untuk sekedar mengisi perut dan menghangatkan badan dengan secangkir kopi. Jika orang di Jakarta punya “puncak” untuk menikmati dinginnya dataran tinggi, kami orang Medan juga punya Berastagi. Perjalanan dilanjutkan lagi menuju Merek, gelapnya malam membuat rimbunnya kebun-kebun jeruk selama perjalanan dari Berastagi menjadi tidak kelihatan, yang ada hanya dingin, suara Victor Hutabarat, dan anjing-anjing liar yang dari tadi bergantian menyeberang. 

 

Kami berhenti lagi di jalan Tele-Pangururan, sayang, niat hati ingin singgah untuk berfoto di bukit pandang tele harus diurungkan karena waktunya belum tepat akhirnya kami hanya duduk dipinggir jalan sambil berpura-pura menjadi satlantas yang mengatur jalan. Setelah lelah bermain peran, kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Pangururan, sekitar pukul 6.30 pagi kami sampai di pangururan dan tebak apa yang pertama kali menjemput kami, jembatan kecil pangururan?

Salah. “Pulo Samosir” punya Victor Hutabarat yang menyambut kami, selanjutnya rumah bolon dan hamparan bukit menyabut. Mulai dari sini orang-orang sudah tidak menggunakan bahasa Indonesia lagi untuk komunikasi sehari-hari, bahasa Batak merajai, di tempat lahirnya para raja Batak.

 

Waktu menunjukkan sekitar pukul 8 saat kami tiba di Tuk-Tuk, kalau kata orang bau bioskop itu juara, bagi kami bau Tuk-Tuk juaranya. Kata seorang teman, bau ini campuran antara bau tuak, bau ikan mas, ditambah bau jemuran-jemuran di depan rumah warga.

Sampai disini kami langsung menuju penginapan kami, penginapan yang biasa kami tumpangi selama tiga tahun belakangan setiap kesini. Penginapan kecil yang langsung menghadap danau, penginapan yang menjadi saksi perberkembangan kami secara fisik dan psikis. Disini selama tiga tahun terakhir cerita-cerita besar milik kami selama setahun tak berjumpa, tumpah ruah bersama deru air dan suara perahu.

Kalian tahu apa ritual wajib saat sampai di danau toba? Berenang di danau adalah jawabannya. Bagi kalian yang tidak memiliki kemampuan berenang, tenang saja, danau ini ajaib, Anda akan memiliki kekuatan secara spontan untuk memberanikan diri untuk berenang. Tidak percaya? Datang saja sendirian. Bagi kami sendiri danau ini ajaib, karena entah kenapa setiap kami berenang disini, danau ini berhasil mengembalikan masa kanak-kanak kami dan merubah kami menjadi bocah periang yang tidak punya beban hidup.

 

“Aku rindu pada bahagia anak,

Yang menunggu bapaknya pulang,

Dari gunung membawa puput,

Sepotong bambu tumbuh di paya-paya”