Tidak lama setelah acara mandi-mandi yang isinya hanya tawa dan kencing diam-diam kami beranjak pergi menyusuri desa. Di masa pandemi ini keadaan sedikit berubah, tidak banyak bule-bule gokil di jalan-jalan, toko-toko cendera mata pun banyak yang tutup, namun itu semua tidak menghilangkan indahnya keadaan daerah keci ini. Kami singgah di kedai kecil yang menyediakan masakan khas batak namun yang paling nikmat jelas, arsik ikan mas nya.
Walau sudah berkali-kali kesini, si penjual masih saja tidak ingat dengan kami, mungkin karena banyaknya pengunjung, atau mungkin karena kami yang dari dulu tidak mengakrabkan diri. Parahnya, sehari sebelum memulai perjalanan kami, kami memasang taruhan tentang apakah sang ibu nanti ingat atau tidak dengan kami, dan sialnya hari ini saya yang kalah. Kedai ini berada di tengah-tengah desa, dari sini kita bisa melihat raut lelah seorang ayah pulang dari danau untuk sekedar makan siang. Biasanya sebelum pandemi anak-anak sekolah akan kelihatan lalu lalang, tak jarang ada anjing di sampingnya. Namun, di situasi sekarang, anak-anak itu berubah menjadi asisten koki sang ibu di rumah, sekaligus menjabat sebagai teman sang ayah untuk makan sang siang.
“Pada perahu tiba-tiba muncul sore,
Dari balik tanjung di teluk danau,
Membawa Ibu dari pekan,
Dengan oleh-oleh kue beras bergula merah” – Danau Toba-Sitor Situmorang
Sore datang, danau semakin ramai, jalanan semakin riuh diisi ibu dan anak berjalan ke pekan untuk memberi bahan masak untuk santapan makan malam. Daerah ini tidak banyak berubah setiap kami kesini, yang berubah paling hanya jalan yang semakin bagus atau bangunan-bangunan baru ala ibu kota. Sore ini kami memilih bersantai di kedai kopi kecil untuk sekedar mengobrol tentang apa-apa saja yang terjadi selama beberapa bulan belakangan, khususnya perihal pasangan. Pahitnya kopi, pahitnya perjalanan cinta, tidak begitu terasa, saat yang kau tatap danau itu, saat yang kau dengar cerita orang-orang terdekat itu. Nikmat itu, hanya didapat disitu, di Danau Toba itu.
Menit-menit selanjutnya jalanan ramai diisi para nelayan yang membawa hasil tangkapan yang lebih banyak dari siang tadi, dibawa ke pasar, di jual untuk modal makan besok. Hari semakin malam, langit mulai gelap, waktunya kembali ke penginapan. Sepanjang jalan pulang, jalan diisi anak-anak yang pulang membawa belanjaan, lalu para ibu yang mengobrol membahas menu nanti malam, juga para anak muda di lapo tauk yang sibuk dengan gelas dan nyanyi-nyanyiannya.
Aku rindu pada malam berbulan,
Kala si tua dan si anak mandi sinar purnama,
Berkaca di permukaan danau biru –
Sebelum air mengelucak di musim kemarau – Danau Toba-Sitor Situmorang
Selain ajaib, danau ini juga sangat magis. Aku, teman-temanku, dan banyak orang lainnya percaya bahwa danau ini mengeluarkan unsur paling magisnya di malam hari. Bagaimana tidak, danau yang awalnya penuh suka ria, keriuhan, dan kehangatan menjadi sangat hening dan terkesan mengancam. Setidaknya, itu yang membuat aku dan teman-temanku percaya perihal kemagisan danau ini. Saat malam, deru ombak yang awalnya biasa saja menjadi gendering perang yang memecah keheningan. Namun, perang itu perang batin, perang antara harapan dan ujian, perang antara haru dan kesepian.
Di bibir danau, biasanya ada saja orang-orang mandi atau dimandikan setelah magrib, namun kali ini tidak. Biasanya, kalau kami melihat kegiatan ini, pikiran kami akan liar seliar-liarnya. “pesugihan itu wak” “buang sial itu wak” “nanam ilmu hitam itu wak”. Sekiranya begitu tipikal justifikasi yang selalu diulang setiap momen itu terjadi.
Opungku pernah berkata “Berkacalah di danau toba saat malam, maka akan kau lihat siapa dirimu” awalnya aku mengira itu hanya omong kosong yang diucapkan orang bijak, namun itu salah, waktu menjawab dan membenarkan itu semua. Duduklah di bibir danau, jatuhkan kakimu ke dalam danau, tunduklah, kegelapan tidak menjadi masalah, kau tetap akan temukan sebuah wajah, lalu danau biarkan danau memainkan perannya, untuk setiap masalah yang tak sempat diobati, untuk setiap kejadian yang tak bisa terulang lagi.
Penulis: Dimas Sibarani


