Andaliman Gallery Ciptakan Batak-inspired Fashion

326

Andaliman

Sumatera Utara, dan khususnya Medan, memang terkenal dengan keheterogenan masyarakatnya. Kesemua etnik yang menyusun masyarakat kota Medan, termasuk suku Melayu, Batak, Jawa, Minangkabau, Aceh, Tionghoa, India dan lainnya menghidupi aspek budaya yang masih kental.

Kegiatan-kegiatan formal pun tidak luput dari tradisi budaya yang memang identik dengan kota Medan. Pantun yang disematkan ke dalam pidato, tarian Sekapur Sirih untuk membuka acara- acara besar, ulos yang diberikan kepada tamu-tamu kehormatan, adalah sebagian kecil dari bukti nyata bahwa Medan adalah kota metropolitan multi-etnis.

Ulos diciptakan oleh salah satu peradaban tertua di Asia sejak 4.000 tahun lalu, yaitu kebudayaan Batak. Ulos bahkan telah ada jauh sebelum bangsa Eropa mengenal tekstil. Sangatlah disayangkan, kalau ulos hanya dipakai saat acara resmi atau upacara adat Batak saja. Seperti Batik yang sudah lama mendahului, modifikasi ulos ke dunia fashion nusantara dalam 5 ke 6 tahun terakhir ini akhirnya semakin booming di nusantara, dan inovasi-inovasi produk-produk dari bahan ulos pun semakin berkembang.

Lidya Duma Mair Napitupulu, pemilik Andaliman Gallery, seorang designer dan pengusaha
yang berhasil melahirkan desain-desain pakaian bercorakkan motif Batak dengan ulos sebagai bahan utama. Andaliman Gallery yang bertempat di jalan Abdullah Lubis, nomor 37/25 Medansudah berdiri sejak Juli 2011 dan telah memproduksi beragam desain pakaian dengan streetwear style, handbag, slingbag, sampai wristlet yang sedang trend, semua terbuat dari ulos. Ada juga beragam asesoris yang bertema tradisional seperti kalung, gelang, scarf juga barang-barang dekorasi lainnya ynag terinspirasi dari budaya Batak.

Jenis ulos yang digunakan mayoritas Ulos Toba, Ulos Pakpak dan Abit Angkola. Asal daerah penenun ulosnya (pengrajin) berasal dari Balige, Samosir dan Tarutung. Lidya juga mengatakan terkadang Andaliman Gallery berekspresi dengan Hiou (dari Simalungun) dan Uis (dari Karo).

Baca Juga:  GREYSIA POLII & APRIYANI RAHAYU BERIKAN MEDALI EMAS PERTAMA UNTUK INDONESIA

Alasan Lidya menggunakan ulos sebagai bahan utama karena ada struktur yang indah dan motif yang kuat dalam selembar ulos, ditambah lagi ulos itu adalah bentuk identititas batak. “Bagi saya yang merupakan seorang boru Batak, ulos itu adalah identitas. Itu juga alasan desain di Andaliman Gallery lebih ke everyday wear. Pesannya adalah pakai identitasmu setiap hari, baik itu ke kantor, sekolah, ke pasar, bukan hanya yang selama ini kita kenal dipakai di acara pesta-pesta atau acara adat saja”, ucap Lidya.

Pantauan Kover Magazine saat menyambangi Andaliman Gallery, terlihat memang pakaian-
pakaian dalam beragam desain yang di display yang terlihat trendy sekaligus classy baik itu pakaian wanita ataupun pria, dan sangat cocok dipakai segala kalangan usia. Di rak dan etalase juga tertata rapi tas, dompet bando, topi, dan berbagai ukiran-ukiran yang bermotifkan corak Batak. Desain dan kualitas di galeri ini layak membawa ulos bukan saja ke nusantara namun go international.

Pakaian yang dijual disini tidak diciptakan dalam jumlah yang banyak untuk tiap jenisnya,
sehingga Anda akan membeli items yang langka, bahkan mungkin tidak ada duanya. Untuk
harga sendiri masih terjangkau dan worth buying, sebab seluruh yang didistribusikan disini mulai dari harga Rp 8.000-, sampai Rp 2.000.000-,

“Sudah saatnya kita memakai atribut identitas dari mana kita berasal. Saya selalu memasukkan identitas suku Batak ke dalam diri saya, mulai dari hal kecil seperti gelang, bando kepala, topi dan setelan pakaian. Karena apabila kita sudah mengesampingkan budaya identitas kita dan selalu menyimpannya di dalam lemari, disitulah ia kehilangan nilainya”, tutup Lidya.