7 Penyebab Menstruasi Tak Kunjung Berhenti yang Jarang Diketahui

Siklus menstruasi adalah serangkaian perubahan dalam tubuh wanita untuk mempersiapkan potensi kehamilan. Setiap bulannya, wanita mengalami ovulasi atau pelepasan sel telur dari satu indung telur (ovarium). 

Pada saat bersamaan, terjadi perubahan hormonal yang mempersiapkan rahim bila terjadi kehamilan. Jika sel telur tidak dibuahi, lapisan rahim akan luruh dan darah akan mengalir sebagai darah haid (periode menstruasi).

Siklus menstruasi wanita rata-rata terjadi setiap 21 dan 35 hari. Sedangkan lama menstruasinya berlangsung tidak lebih dari 7 hari. Ketika ada gangguan, baik dari dalam tubuh maupun faktor eksternal, durasi menstruasi bisa berubah. Memahami penyebabnya bisa membantu kamu menentukan kapan perlu waspada dan mencari penanganan yang tepat.

Dilansir dari berbagai sumber, simak beberapa penyebab menstruasi tak kunjung berhenti berikut ini! 

Ketidakseimbangan Hormon

Siklus menstruasi sangat bergantung pada keseimbangan hormon estrogen dan progesteron. Estrogen berperan dalam membangun lapisan dinding rahim (endometrium), sementara progesteron membantu menjaga dan mempersiapkannya untuk kemungkinan kehamilan. Jika kedua hormon ini tidak seimbang, lapisan rahim bisa menebal secara berlebihan.

Akibatnya, saat menstruasi terjadi, tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk meluruhkan lapisan tersebut. Inilah yang menyebabkan haid berlangsung lebih lama dan sering kali disertai perdarahan yang lebih banyak. Ketidakseimbangan ini bisa dipicu oleh berbagai hal, mulai dari stres hingga gangguan kesehatan tertentu.

Pendarahan uterus disfungsional (DUB)

Pendarahan uterus disfungsional (DUB) dikenal sebagai pendarahan uterus yang abnormal. Hal ini umumnya disebabkan karena ketidakseimbangan hormon dalam tubuh. 

Dalam banyak kasus, kondisi ini menandakan bahwa Anda mengalami siklus anovulasi, yaitu ovarium tidak bisa menghasilkan telur tapi ada pendarahan dari rahim. Biasanya terjadi pada wanita usia subur, terutama 18-35 tahun.

Masalah anovulasi dapat terjadi akibat gangguan hormon dalam tubuh, terutama hormon estrogen. Hormon seks yang satu ini bertugas untuk membentuk lapisan rahim (endometrium), yakni tempat tempat menempelnya telur yang dibuahi atau akan luruh selama haid.

Penyakit tiroid

Pendarahan menstruasi yang berkepanjangan bisa terjadi karena rendahnya kadar hormon tiroid dalam tubuh. Oleh karena itu, jika Anda memiliki hipotiroidisme atau menderita gangguan tiroid, sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter.

Untuk mendiagnosis penyakit tiroid, dokter mungkin merekomendasikan tes darah.

Hiperprolaktinemia

Hiperprolaktinemia adalah kondisi yang ditandai dengan naiknya kadar prolaktin dalam tubuh. Prolaktin sendiri merupakan hormon yang dibutuhkan untuk perkembangan payudara selama kehamilan dan mempersiapkan proses menyusui.

Hiperprolaktinemia biasa terjadi pada kehamilan dan ini adalah hal yang normal. Namun, jika Anda tidak hamil dan mengalami menstruasi lama, maka segera temui dokter. Hiperprolaktinemia dapat terjadi akibat stres, penggunaan obat-obatan tertentu, penyakit ginjal, hingga tumor.

Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)

Sindrom Ovarium Polikistik atau PCOS adalah gangguan hormonal yang cukup umum terjadi pada perempuan. Pada kondisi ini, ovarium menghasilkan hormon androgen dalam jumlah lebih tinggi dari normal, yang dapat mengganggu proses ovulasi.

Ketika ovulasi tidak terjadi secara teratur, lapisan rahim terus menebal tanpa adanya peluruhan yang normal. Hal ini bisa menyebabkan menstruasi menjadi tidak teratur, lebih lama, atau bahkan sangat berat. Selain itu, PCOS juga sering disertai gejala lain seperti jerawat, rambut berlebih, dan kesulitan mengontrol berat badan.

 Perimenopause

Menopause umumnya terjadi pada wanita usia 47-51 tahun. Namun, beberapa wanita dapat mengalami menopause dini atau perimenopause.

Jika menstruasi Anda berlangsung lama pada usia 40-45 tahun, bisa jadi Anda mengalami perimenopause. Apalagi jika Anda mengalami pendarahan pascamenopause (pendarahan setahun setelah menopause).

Jangan dibiarkan, segera hubungi dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dokter mungkin merekomendasikan biopsi endometrium untuk mendeteksi kemungkinan adanya kanker.

Endometriosis

Endometriosis terjadi ketika jaringan yang mirip dengan lapisan dinding rahim tumbuh di luar rahim, seperti pada ovarium atau saluran tuba. Jaringan ini ikut menebal dan meluruh saat siklus haid, namun karena letaknya di luar rahim, darah tersebut terperangkap di dalam tubuh dan memicu peradangan kronis serta nyeri panggul yang hebat.

Selain itu, kondisi yang sering menyertai endometriosis adalah adenomiosis, yaitu ketika jaringan tersebut tumbuh masuk ke dalam dinding otot rahim. Adenomiosis inilah yang sering kali menjadi alasan utama mengapa ukuran rahim membesar, sehingga permukaan dinding rahim yang harus luruh menjadi lebih luas. Akibatnya, menstruasi tidak hanya terasa sangat menyakitkan, tetapi juga berlangsung jauh lebih lama dengan volume darah yang lebih banyak dari biasanya.

Untuk memastikan apakah kamu mengalami salah satu kondisi medis di atas, perlu pemeriksaan dengan dokter. Yuk, segera periksakan diri ke dokter! 

Baca Juga:  Sederet Sumber Mikroplastik di Rumah yang Jarang Disadari