5 Fakta Menarik Film Perang Kota, Wajib Nonton!

Film Perang Kota merupakan karya terbaru dari sutradara Mouly Surya yang telah berhasil menarik perhatian banyak penonton di Indonesia. Film ini terinspirasi dari novel klasik Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis.

Dalam film ini, Mouly Surya menghadirkan sisi kemanusiaan di tengah konflik urban yang penuh dengan dilema moral. Para pemeran utama terdiri dari para aktor terkenal seperti Chicco Jerikho, Ariel Tatum, dan Jerome Kurnia yang masing-masing memberikan warna tersendiri dalam cerita.

Yuk, intip fakta-fakt menarik dari film sudah tayang tayang 30 April ini!

1. Adaptasi novel klasik Mochtar Lubis

Film Perang Kota merupakan adaptasi bebas novel Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis yang pertama kali terbit 1952. Perang Kota menjadi film pertama adaptasi yang ditulis dan digarap oleh sutradara Mouly Surya.

Mouly Surya bercerita, dia bersama rumah produksi Cinesurya yang menawarkan diri Yayasan Pustaka Obor Indonesia untuk mengadaptasi novel Jalan Tak Ada Ujung menjadi film layar lebar pada 2018. Dia mengaku tertarik dengan prosa-prosa karya Mochtar Lubis, dan menilai bahwa karya-karya sang penulis memiliki daya tarik visual sendiri untuk dialihwahanakan menjadi film.

Mouly mengadaptasi novel Jalan Tak Ada Ujung menjadi film Perang Kota secara bebas. Artinya, dia tidak mencoba memindahkan cerita yang ada di dalam novel menjadi film, melainkan mengambil esensi utama prosa tersebut, kemudian menghadirkan kisahnya melalui sudut pandangnya dengan mempertimbangkan relevansi zaman.

Dalam menulis sekaligus menggarap film Perang Kota, Mouly melakukan riset yang cukup ekstensif. Mulai dari menggali arsip-arsip sejarah di perpustakaan hingga berdiskusi dengan sejarawan terkait latar belakang sejarah yang ada di novel Jalan Tak Ada Ujung. Hal tersebut dilakukan untuk menggali perspektifnya terkait latar sejarah dalam film Perang Kota.

Adapun, pemilihan judul Perang Kota diambil berdasarkan kesaksian dari sejarawan yang menyebutkan bahwa kondisi latar sejarah di novel Jalan Tak Ada Ujung menggambarkan perang di sebuah kota.

2. Film layar lebar pertama Mouly Surya setelah 8 tahun

Perang Kota menjadi film Indonesia layar lebar pertama yang dihadirkan Mouly selama 8 tahun terakhir, sejak merilis film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak pada 2017. Sejak itu, Mouly lebih sering menggarap film pendek, serta film Trigger Warning yang menjadi debut dirinya menyutradarai film berbahasa Inggris. Film yang tayang di Netflix itu dibintangi aktris Hollywood Jessica Alba.

Mouly mengatakan film Perang Kota mengeksplorasi kisah berlatar sejarah kelam pada 1946. Ketika semua orang memekik kata “Merdeka!” sebagai bentuk ekspresi kemerdekaan bangsa, ada kota yang masih bergejolak dengan perlawanan terhadap penjajah yang tidak menampakkan sebuah kebebasan negara yang sudah merdeka.

Pemimpin negara dan banyak masyarakat lainnya meninggalkan ibu kota, dan garis antara benar dan salah menjadi kabur. Di tengah situasi itu, film Perang Kota menyoroti kisah tokoh Guru Isa, yang kehilangan banyak hal sehingga membentuk perannya sebagai laki-laki baik dalam situasi perang maupun kehidupan domestik rumah tangganya. Baik di ranjang pernikahannya bersama Fatimah maupun sebagai pencari nafkah bagi keluarga.

3. Hadirkan eksplorasi sinematik yang berbeda

Menariknya, film Perang Kota disajikan dengan aspek rasio 4:3, alih-alih format widescreen seperti kebanyakan sinema modern. Keputusan ini membuat tampilan visual Perang Kota terasa retro atau jadul, memberikan pengalaman menonton yang unik bagi audiens.

Eksplorasi sinematik ini dihadirkan Mouly agar penonton bisa lebih fokus pada karakter-karakter di film tersebut. Menurutnya, kebanyakan film periodik rentan membuat audiens justru lebih berfokus untuk melihat sajian set film yang megah, alih-alih fokus untuk mengikuti karakter-karakternya.

Sebaliknya, dalam film Perang Kota, Mouly justru ingin mengajak penonton bisa fokus mengikuti emosi dari karakter-karakternya yang menggerakkan cerita. Hal itu dimungkinkan dengan aspek rasio 4:3 yang membuat gambar film tidak menampilkan set dengan ruang yang lebih luas seperti format widescreen, sehingga gambar film menjadi lebih fokus pada karakternya.

4. Digarap oleh tim produksi Hollywood

Diproduksi oleh Cinesurya, Starvision, dan Kaninga Pictures, film Perang Kota digarap melalui sistem ko-produksi antara Indonesia, Singapura, Belanda, Prancis, Norwegia, Filipina, dan Kamboja. Film ini juga merupakan hasil kolaborasi dari nama-nama hebat di industri Hollywood.

Untuk foley sound recorder, film Perang Kota menggandeng Yellow Cab Studios yang berbasis di Paris, yang telah menggarap film-film pemenang Oscar seperti Emilia Perez, Barbie, dan serial Emily in Paris. Lalu ada juga Vincent Villa sebagai sound designer, Robert Grigsby Wilson dan Natalie Soh sebagai editor, serta Sandra Klass sebagai colorist.

5. Tayang perdana di Belanda

Sebelumnya, film Perang Kota telah world premiere atau tayang perdana di ajang International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2025. Film tersebut menjadi penutup IFFR dan mendapatkan respons positif dari audiens global. Selain di Indonesia, film ini juga tayang secara komersial di layar bioskop beberapa negara seperti Belanda, Belgia, dan Luksemburg sejak 17 April 2025.