10 Masjid Unik Tersebar di Seluruh Indonesia

78

Medan, KoverMagz – Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk muslim terbanyak, menjadikan negara ini sebagai tempat berwisata religi yang sangat diingat para turis lokal maupun turis asing. Bangunan masjid yang unik bisa anda lihat dari seluruh daerah di Indonesia mulai dari sabang hingga merauke dengan ciri khas masing-masing daerah.

Mulai dari desain arsitektur, nilai konsep yang berbeda, hingga akulturasi budaya, semua unsur tersebut bersatu padu dan menghasilkan bangunan masjid yang unik seperti yang telah kami rangkum di bawah ini :

  1. Masjid Perahu Nabi Nuh, Semarang

Masjid yang dibangun sejak pertengahan tahun 2015 itu memang menarik karena temboknya dilukis menyerupai kayu. Masjid ini sebenarnya bernama Masjid Safinatun Najah. Sesuai namanya, Safinatul Najah mengingatkan umat Islam tentang kisah Nabi Nuh saat diperintahkan Allah untuk menyelamatkan kaumnya dari bencana banjir. Oleh sebab itu, masjid ini dibuat menyerupai kapal Nabi Nuh. Bahkan terdapat jendela berbentuk lingkaran khas kapal. Bentuk kapalnya mengambil model dasar dari kapal Nabi Nuh. Masjid ini terletak di Jalan Kyai Padak, Kelurahan Podorejo, Kecamatan Ngaliyan, Semarang.

Bangunan masjid milik Yayasan Safinatun Najaat, Pekalongan itu memiliki 3 lantai dan sudah mulai difungsikan lantai 1 dan 2. Lantai pertama untuk aula dan kini ada pengobatan alternatif setiap hari Sabtu, Minggu, Senin, dan Selasa oleh Habib Sholeh Bin Ali Bin Yahya.

Lantai 2 sudah berfungsi untuk salat dan nantinya lantai 3 digunakan untuk perpustakaan. Lantai 3 masjid untuk perpustakaan untuk belajar. Masjid Kapal ini berdiri di atas lahan seluas 4.000 m2.

2. Masjid Raya Sumatra Barat, Padang, Sumatra Barat

Masjid ini adalah masjid terbesar di Sumatra Barat yang lokasinya berada di Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat.

Uniknya, masjid ini tidak memiliki kubah pada umumnya, melainkan beratap khas budaya Minangkabau yang didesain seperti Rumah Gadang. Ada empat sudut lancip di atap masjid dengan bangunannya yang berbentuk gonjong. Ditambah lagi, ukiran Minang dan kaligrafi pada dinding bagian luar yang menyempurnakan keseluruhan arsitektur masjid. Selain itu, Masjid Raya Sumatra Barat juga mengabadikan kejadian peletakan batu Hajar Aswad dengan menggunakan kain yang dibawa oleh empat orang perwakilan suku di Kota Mekkah pada setiap sudutnya.

3. Masjid Cheng Ho, Surabaya

Jika dilihat sekilas, orang akan menyangka bahwa bangunan ini merupakan sebuah klenteng. Tetapi, ternyata bangunan ini merupakan sebuah masjid yang diperuntukkan bagi umat Islam.
Masjid Cheng Ho, masjid yang terletak di Ketabang Genteng, Surabaya. Masjid ini merupakan salah satu masjid di Surabaya yang memiliki perpaduan arsitektur antara kebudayaan Arab dan China.
Dibangun pada tahun 2001, Masjid Cheng Ho merupakan wujud rasa syukur dan penghormatan segenap Muslim di Surabaya dan Indonesia, terhadap Laksamana Bahariawan asal negeri China yang memeluk agama Islam.
4. Masjid Agung An Nur, Pekanbaru, Kepulauan Riau
Masjid ikonik di Pekanbaru ini memiliki bentuk menyerupai salah satu ikon wisata India, Taj Mahal. Jika dilihat tak bisa dipungkiri bahwa proses pembangunannya dipengaruhi oleh unsur budaya India. Tak hanya itu, sentuhan Melayu yang kental juga bisa dirasakan berkat pemilihan warna hijau yang mendominasi bangunan masjid dan motif kubah serupa kain hias berlapis warna emas dalam songket Melayu.

Pengunjung Masjid Agung An Nur juga akan semakin terkesima dengan kehadiran beranda dalam masjid, seperti yang biasanya menjadi salah satu ciri khas rumah panggung ala Melayu.

5. Masjid Pink, Bintan

Secara geografis, Masjid Pink ini terletak pada Desa Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Masjid Pink ini memiliki satu kubah besar diatasnya, serta beberapa kubah kecil disekitar kubah utama. Untuk berkunjung ke masjid nan cantik ini, wisatawan harus menempuh jarak sekitar 24 kilometer dari Tanjung Pinang. Perjalanan ini setidaknya memakan waktu kurang lebih 40 menit saja.

Wisatawan bisa menggunakan kendaraan pribadi atau meyewa mobil, karena masih belum terdapat angkutan umum yang menjangkau hingga ke Gunung Kijang. Lokasi dari Masjid Pink ini juga cukup mudah untuk ditemukan, karena hanya berjarak 50 meter dari jalan raya menuju ke Pantai Trikora. Selain menjadi tempat ibadah bagi umat muslim, pembangunan masjid ini juga diharapkan menjadi tujuan wisata religi di Pulau Bintan.

6. Masjid Menara Kudus, Kudus, Jawa Tengah

Kudus merupakan kabupaten yang terletak di Jawa Tengah ini memiliki bangunan yang unik dan bersejarah, yaitu Masjid Al- aqsha dan lebih dikenal masjid menara kudus. Masjid ini dibangun Sunan kudus sekitar tahun 1549 Masehi atau tahun 956 Hijriah. Karena di mihrab masjid terdapat prasasti sebuah batu yang menunjukkan waktu kapan masjid itu dibangun. Menara kudus merupakan salah satu peninggalan terbaik.

Didalam masjid mempunyai gapura tumpukan batu merah berundak yang menggambarkan khas bangunan pura rumah suci umat Hindu. Masjid ini merupakan bukti salah satu akulturasi kebudayaan Islam dan kebudayaan Hindu yang keduanya merupakan peradaban besar pada zamannya.

Akulturasi itu berbuah menjadi bangunan yang unik dan berarsitektur seni tinggi. Di satu sisi, menonjolkan sarana ibadah yang sakral, yaitu masjid, dan di sisi lain terdapat candi yang bergaya ornamen Hindu yang digunakan sebagai menara masjid.

Bangunan masjid menara kudus yang paling menonjol adalah menara masjidnya yang dahulu dijadikan sebagai tempat adzan. Pada bagian atas menara, terdapat beduk dan kentungan sakral yang dipukul sebagai tanda datangnya waktu-waktu tertentu. Hal ini juga menegaskan bahwa Menara Kudus tidak hanya terpengaruh Hindu Jawa, tetapi juga terpengaruh oleh arsitektur Hindu Bali.

Selain itu, pada bagian atap kepala menara yang berbentuk atap tumpang atau tajuk dari kayu jati dengan empat saka guru yang menopangnya merupakan atap khas rumah Jawa-Hindu. Bangunan itu lalu diadaptasi ke dalam ajaran Islam yang mengandung makna iman, Islam, dan ihsan.

7. Masjid Al-Irsyad Satya Kota Baru Parahyangan

Dimulai pembangunannya pada hari Senin, 7 September 2009 bertepatan dengan 17 Ramadhan 1430 H (Nuzulul Quran), dan diresmikan pada bulan Agustus 2010. Masjid tersebut dibangun di atas lahan seluas 1 Ha yang menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan Al-Irsyad Satya Islamic School (berafiliasi dengan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyah of Singapore) sebuah sekolah Islam international yang ada di Kota Baru Parahyangan.

Bangunan masjid dapat menampung 1500 jamaah. Menurut Ridwan Kamil, arsitek mesjid Al-Irsyad Satya ini, bentuk mesjid berupa kubus sederhana tersebut terinspirasi oleh Ka’bah yang ada di Masjidil Haram. Fasad Masjid ini merupakan susunan concrete block yang membentuk kaligrafi kalimat As-Syahadah.

Masjid Al Irsyad Satya meraih Penghargaan “The Best 5 World Building of The Year 2011 untuk kategori Bangunan Religi, versi Archdaily & Green Leadership Award tahun 2011” dari BCI Asia

Dari jauh tidak kelihatan seperti masjid, karena bentuknya kubus seperti Ka’bah. Tidak ada kubah seperti masjid pada umumnya. Satu-satunya pertanda ia sebuah masjid adalah sebuah menara yang tinggi yang terletak di sebelahnya.

Masjid ini tidak perlu lagi AC sebab dindingnya mempunyai banyak lubang udara sehingga udara bebas keluar masuk. Siang hari juga tidak perlu lampu sebab sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah lubang. Lubang-lubang angin itu jika diperhatikan dengan seksama membentuk tulisan kaligrafi kalimat syahadat.

8. Masjid Agung Banten, Serang, Banten

Masjid ini menjadi sejarah sebagai tempat penyebaran Islam di tanah jawara, bahkan kini masjid tersebut sering menjadi top of mind tentang Banten, di samping itu bentuk menaranya yang sangat mirip dengan bentuk sebuah bangunan mercusuar.

Bangunan bersejarah ini berdiri megah ini terletak di Desa Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Lokasinya sekitar 10 kilometer sebelah utara Kota Serang. Akses ke lokasi dapat dituju dengan kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Dari terminal Terminal Pakupatan, Serang menggunakan bis jurusan Banten Lama atau mencarter mobil angkutan kota menuju lokasi selama lebih kurang setengah jam.

Dikutip dari situs Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pitu (DPMPTS) Provinsi Banten, salah satu kekhasan yang tampak dari masjid ini adalah atap bangunan utama yang bertumpuk lima, mirip pagoda Tiongkok yang juga merupakan karya arsitek Tionghoa yang bernama Tjek Ban Tjut. Dua buah serambi yang dibangun kemudian menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama.

Masjid Agung Banten juga memiliki paviliun tambahan yang terletak di sisi selatan bangunan inti Masjid ini. Paviliun dua lantai ini dinamakan Tiyamah. Berbentuk persegi panjang dengan gaya arsitektur Belanda kuno, bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Hendick Lucasz Cardeel.

9. Masjid Darul Amin, Palangkaraya

Masjid ini berada di Lokasi Water Front City Sungai Kahayan , tampak memperindah taman pasuk kameluh yang juga dekat dengan Jembatan Kahayan Penghubung Jalan Trans Kalimantan Poros Tengah. Masjid Darul Amin di Palangkaraya ini dibangun menggunakan desain unik dengan pondasi rumah panggung.

Kubahnya berwarna hijau cerah dengan bentuk kerucut, lengkap dengan jembatan di sekitar taman yang jadi tempat favorit para warga lokal untuk bersantai. Jika anda datang ke masjid ini, jangan lupa menikmati keindahan Sungai Kahayan dari teras masjid atau bangku taman yang banyak tersedia.

Keberadaan Masjid Darul Amin ini, sangat membantu warga muslim Kota Palangkaraya untuk berubah terutama ketika sedang berkunjung ke taman atau ke Tugu Soekarno yang ada di sekitar taman tersebut.

10. Masjid 99 Kubah, Makassar

Masjid 99 kubah yang didesain Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, dibangun di lokasi reklamasi Pantai Losari atau yang disebut kawasan “Center Poin of Indonesia (CPI)”, Makassar, Sulawesi Selatan. Pembangunan Masjid 99 kubah itu dimulai dengan pemancangan pada hari Kamis Juni 2017.Pemancangan pertama ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo beserta muspida Pemprov Sulsel dan Pemkot Makassar. Pembangunan masjid 99 kubah yang luas bangunannya 72 X 45 meter itu diperkirakan menelan biaya Rp 160 miliar yang berasal dari APBD.

Sesuai namanya, masjid ini dipercantik dengan puluhan kubah. Kubah-kubah berbagai ukuran, mulai dari kecil hingga besar menghiasi bagian atas masjid. Masjid 99 Kubah ini dibangun di atas lahan reklamasi Pantai Losari.

Puluhan kubah kecil mengitari kubah utama dengan diameter paling besar yang berpusat di tengah bangunan masjid. Warna-warna menyala macam kuning, merah, cokelat, dan putih berkelindan di kubah dan tubuh masjid cantik ini.

Saat malam menyergap, aneka warna tersebut kian hidup tatkala lampu sorot ditembakkan tepat ke arah kubah-kubahnya nan menawan. Para pengunjung juga akan dimanjakan dengan atraksi air mancur yang terletak di depan masjid dan akan muncul selama 30 menit selepas Maghrib.

Ukurannya yang besar, menjadi pemandangan baru yang menakjubkan. Terutama jika anda melihatnya dari Anjungan Pantai Losari Dana yang dikeluarkan pihak pemerintah setempat untuk membangun masjid ini mencapai sekitar Rp176 miliar. Jadi tidak heran jika hasilnya memang mengagumkan.

11. Masjid Agung Al-Jabbar, Bandung

Masjid yang namanya terinspirasi dari salah satu Asmaul Husnah ini dibangun di atas danau buatan Embung Gede bage,

Masjid yang merupakan inisiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Propinsi Jawa Barat tersebut arsitekturnya dikerjakan juga oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada 2015 lalu, kala dirinya masih menjabat sebagai Walikota Bandung.

Masjid yang namanya terinspirasi dari salah satu Asmaul Husnah ini dibangun di atas danau buatan Embung Gede bage, sehingga masyarakat sering menyebutnya Masjid Terapung Gedebage. Masjid Agung Al-Jabbar ini memang dibangun dengan konsep terapung di atas Embung Gedebage yang memiliki luas 7,2 hektar.

Embung tersebut bisa menampung air hingga 270.000 meter kubik yang juga akan berfungsi sebagai pengendali banjir, sumber air, dan konservasi. Keunikan lainnya, di bagian depan masjid nantinya akan ada plaza yang dikelilingi empat menara bergaya modern minimalis.

Keempat menara dibuat seolah-olah muncul dari dasar danau. Ada pula menara utama yang memiliki tinggi 99 meter dan bentangan atap baja yang mencerminkan 99 nama Asmaul Husna.

Berdiri di atas lahan seluas 25,99 hektare di atas Danau Gede Bage, Masjid terapung ini akan memiliki daya tampung mencapai 33.000 jemaah. Besarnya kapasitas didukung oleh ruang salat lantai 1 yang mampu menampung 9.822 jemaah, ruang salat lantai mezzanine sebanyak 3.188 jemaah, Ruang Selasar mampu menampung 3.627 jemaah, dan Plaza mampu menampung 16.637 jemaah.

Penulis : Annette Thresia Ginting

Sumber : Berbagai sumber