Selain aksi penggalangan dana yang serba unik, Yayasan Alusi Tao Toba hanya mengandalkan donasi lepas dengan menabung Rp1.000,00- selama setahun. “Tujuanku sebenarnya ingin menumbuhkan semangat filantropis, semangat berbagi sesama masyarakat. Selama 10 tahun ini enggak pernah buat proposal untuk minta dana, sekarang banyak BUMN yang sudah mulai tergerak mau bantu,” ungkap pria kelahiran Silulu, 26 November 1976 ini.
Panen Prestasi dan Apresiasi
Ketekunan dan konsistensi Togu membangun Yayasan Alusi Tao Toba, berhasil menarik perhatian publik. Pada tahun 2016 ia menjadi nominator Medan Most Inspiring Award (MMIA) yang diselenggarakan oleh Kover Magazine. Maret 2019 Togu baru saja dianugerahkan penghargaan Kick Andy Heroes 2019.
“Nggak nyangka, ketika memulai tidak pernah membayangkan atau memikirkan masuk TV, diundang bapak presiden dan mendapatkan Kick Andy Heros. Menyikapinya ya itulah apresiasi secara langsung dan menjadi tanggung jawab lebih besar, bukan jadi anggar jago. Berbuat lebih banyak, memotivasi hidup kita agar berdampak untuk banyak orang,” ucap bapak tiga anak ini.
Semakin hari anak-anak sopo belajar mengalami perkembangan pesat. Salah satunya bahkan ada yang diterima kuliah di Universitas Diponegoro melalui jalur undangan. Pun begitu, bagi Togu hal tersebut bukanlah berkat sopo belajar melainkan bergantung pada pribadi masing-masing anak.
“Parameter kesuksesan anak-anak bagiku ya kegembiraan mereka. Kami tidak punya target untuk mereka. Ada yang diterima di Universitas Diponegoro ya kami bahagia. Perjalanan dia dari kecil tahun 2010 di sopo belajar sampai bisa dapat jalur undangan bukan berarti kami berperan besar, kembali lagi ke pribadi masing-masing anak. Sopo belajar hanya benda mati,” tutur Togu.
“Kesuksesan kita bukan karena seberapa tinggi sekolah, status sosial, atau banyak uang di rekening, tapi seberapa berdampaknya hidup kita pada orang-orang. Uang perlu, tapi hidup kita jadi berkat, itu mendatangkan kegembiraan yang luar biasa,” tambahnya.


