Politik dan Bisnis
Tahun politik sudah di depan mata, 2019 menjadi ajang pembuktian bagi segenap nama yang ingin berkantor di Senayan. Namun alumnus SMA Negeri 1 Medan ini tak mau salah langkah dan tersesat. “Kalau pun maju dan kemudian menang, tapi nantinya nggak tahu apa yang mau dikerjakan, ya sama saja, untuk itu saat ini masih harus banyak belajar, toh masih muda,” ujarnya.
Tawaran saban hari terus bermunculan, tapi apadaya sang ayah belum beri lampu hijau, karena memang harus diakui politik itu kejam, harus kuat mental untuk bisa bersaing. Untuk itu, saat ini ia ingin dikenal sebagai sosok business man, lantaran presiden Indonesia adalah seorang pengusaha. “Kalau Indonesia ini ingin maju, jumlah pengusahanya harus dibanyakin, pengusaha meningkat pendapatan pun bertambah, contoh saja Singapura jumlah pengusaha 11% dari jumlah penduduk” tambahnya.
Kegagalan pun pernah menghampirinya, pernah merintis bisnis startup Hype Medan, sebuah aplikasi yang berisikan jadwal dan info terbaru event di Sumut, namun karena kurangnya promosi akhirnya hanya buang duit dan ditutup. Lalu ia juga pernah jajal usaha Wedding Organizer, sempat berjalan lancar, namun harus berhenti pada suatu titik, “Dari sini saya belajar bahwa kepercaayan itu penting, lalu baru skill dan uang,” tandasnya.
Pesannya “Jangan takut, apa yang ada di depan mata lakuin saja, begitu ada action plan nya langsung kerjakan, jangan takut karena enggak ada modal, modal itu datang aja kalau proposalnya jelas, siapa yang enggak mau invest kalau untung nya jelas, pasti investor pun berbondong-bondong datang,” katanya.
Jadi, selain bernaung di tiga organisasi yang berbeda, mulai dari JCI, Hipmi Sumut dan Jaringan Pengusaha Nasional, ia terus bekerja mengembangkan bisnis properti rumah subsidi di daerah Tanjung Balai, bisnis transportasi dan kuliner. “Banyak kok generasi muda Medan yang pintar-pintar, kurangnya cuma pada jam terbang dan profesionalitas saja, untuk itu banyak ikut organisasi untuk bangun relasi yang luas,”tutupnya


