Tengku Ryan, Pengusaha Muda: Kalau Indonesia Ingin Maju, Pengusahanya harus Banyak

Akunya, banyak surgaloka yang menjanjikan devisa dari Sumut ini, namun banyak faktor penghambat yang membuat susah berkembang, salah satunya sistem birokrasi yang lambat. Tapi kalau masyarakat terus kita edukasi bukan tidak mungkin wisatawan kita akan meningkat drastis.

Apalagi bila kita merunut ke belakang, pada tahun 2017 silam JCI Medan telah menyelenggarakan kampanye Perdamaian Dunia di Pantai Bul-Bul Balige. Kegiatan itu dihadiri lebih dari 11.000 orang yang berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum.

“Saya pribadi merasa terhormat karena dikunjungi World President JCI 2017 Dawn Hetzel, yang secara tak langsung JCI Medan sudah bantu promosikan Danau Toba di International,” akunya.

Untuk diketahui, JCI ini melakukan pergantian pemimpin setahun sekali, dimana setiap pimpinan harus mampu menciptakan perubahan positif, yang tentunya sesuai dengan bidang yang digeluti yakni individual development, business development, social community, dan international networking.

Untuk beban ketua tahun ini, memang agak sedikit bekerja ekstra, sebab JCI Indonesia Chapter Medan akan menjadi tuan rumah Konvensi Nasional pada Oktober mendatang.

Jadi Anak Mantan Gubernur

Enak dan tidak enak selalu terlintas ketika menjadi anak mantan kepala daerah, orang memandang enak karena apa yang diingikan pasti semua urusan jadi mudah, tak enaknya jelas banyak mata yang mengawasi, sehingga tak bebas. Ryan pun tak menafikan itu, bahwa apa yang ia terima saat ini memang karena orang tua. “Semua orang pasti karena orangtua nya, lahir juga karena ada orangtua,” ucap nya sambil tertawa.

Baca Juga:  Raffi Ahmad, Dari Dunia Hiburan hingga Bisnis, Bagaimana Ia Membangun Berbagai Sumber Penghasilan?

Dalam beberapa kesempatan, Ryan kerap hadir menemani ayahanda, bahkan pada hari terakhir menjabat menjadi Gubernur Sumatera Utara ia setia menemani, sesekali ia pun tampak mengusap mata, menghapus pilu seraya turut merasakan apa yang ayahnya rasakan saat itu.

“Mengikuti bapak itu seru, banyak yang bilang bapak itu orangnya nggak bisa marah karena terlalu baik, marah cuma sekadar mengingati, ini nggak boleh itu nggak boleh, mengajari tapi tidak membuat takut,” ceritanya tentang sosok Tengku Erry.

Saat bingung memilih jurusan kuliah, Bapak pun tidak pernah memaksakan kehendakanya, apa yang dirasa sesuai maka lanjutkan asal bertanggung jawab. “Saya banyak belajar arti tegar dari bapak, saat dia sudah berjuang, hingga pada akhirnya keputusan tidak sesuai yang diharapkan, berarti Tuhan sudah menghendaki jalannya takdir seperti itu,” tambahnya.

Itu pula yang ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari, tenang dalam menghadapi lawan, karena dalam mengemban amanah harus penuh rasa tanggung jawab, sebab, keberhasilan sebuah organisasi bergantung kepada kredibilitas, kapabilitas dan tentunya kemampuan mengayomi anggota.