
Keberadaan mikroplastik ini menjadi ancaman nyata bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Mikroplastik adalah partikel plastik kecil berukuran kurang dari 5 milimeter, partikel ini telah menyebar luas di berbagai ekosistem, mulai dari lautan hingga udara yang kita hirup.
Penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik dapat merusak ekosistem laut, masuk ke rantai makanan, dan pada akhirnya sampai ke tubuh manusia, menimbulkan potensi risiko kesehatan yang serius.
Sebagian besar mikroplastik berasal dari limbah rumah tangga, termasuk produk sehari-hari seperti kantong plastik, kemasan makanan, hingga serat tekstil yang terlepas dari pakaian saat mencuci. Mikroplastik yang tidak dikelola dengan baik akhirnya terbuang ke lingkungan melalui saluran air, tempat pembuangan sampah, atau bahkan langsung ke tanah dan udara.
Oleh karena itu, penanganannya dapat dimulai dari rumah kita sendiri, melalui perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari yang mampu memberikan dampak besar terhadap pengurangan pencemaran mikroplastik.
Benda-benda yang setiap hari kita sentuh dan gunakan di dalam rumah justru menjadi sumber utama penyebarannya. Kira-kira apa saja, ya? Dilansir dari berbagai sumber, ini lima sumber mikroplastik di rumah berikut ini agar kita lebih waspada!
Wadah es batu plastik
Sama seperti mikroplastik yang ditemukan dalam air kemasan, wadah es batu plastik juga dapat menyebabkan kontaminasi.
Meskipun penelitian mengenai hal ini masih sedikit, pembekuan plastik dapat menyebabkan mikroplastik larut ke dalam air, mirip dengan proses yang terjadi pada plastik yang dipanaskan, menurut seorang profesor yang diwawancarai oleh HealthCentral.
Dalam beberapa tahun terakhir, pilihan yang lebih ramah lingkungan menjadi populer seperti wadah es batu baja tahan karat. Wadah es batu silikon dipromosikan sebagai alternatif berkelanjutan yang dianggap lebih sehat.
Talenan Plastik
Talenan plastik kini banyak diminati dibanding yang kayu, karena lebih praktis dan minim perawatan dan antijamuran. Meski begitu, kita perlu waspada, ya! Pemotongan berulang kali pada talenan plastik dapat menyebabkan abrasi, yang melepaskan mikroplastik ke dalam makanan. Efek ini akan meningkat seiring dengan digunakannya talenan plastik saat mengiris sayuran seperti wortel, kentang, dan lain sebagainya.
Spons Cuci Piring
Spons cuci piring yang biasa kita gunakan juga ternyata menjadi penyumbang mikroplastik terbesar di area dapur tanpa disadari. Spons berwarna campuran kuning dan hijau, yang setiap hari digunakan untuk membersihkan alat makan ini umumnya terbuat dari plastik sintetis seperti poliester.
Oleh karena itu, setiap kali Beauties menggosok wajan atau piring yang kasar, gesekan tersebut secara perlahan mulai mengikis serat spons menjadi partikel super kecil yang tidak hanya mengalir mencemari saluran air, tetapi juga berisiko menempel pada peralatan makan jika tidak dibilas dengan benar-benar bersih.
Wadah plastik
Produk plastik yang diberi label ‘aman untuk microwave’ dapat melepaskan sejumlah besar mikroplastik ke dalam makanan saat dipanaskan.
Sebuah studi pada tahun 2023 yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Nebraska-Lincoln menemukan hingga 4 juta mikroplastik per sentimeter persegi dalam makanan bayi kemasan plastik tertentu yang ‘aman untuk microwave’.
Sebaiknya hindari produk yang dikemas dengan ftalat, stirena, dan bisfenol, yang merupakan jenis bahan kimia yang terkait dengan berbagai plastik, menurut sebuah makalah dari The American Academy of Pediatrics.
Gelas kertas
Meskipun gelas kertas dianggap lebih ramah lingkungan, namun gelas ini justru berkontribusi terhadap polusi plastik. Gelas ini memerlukan lapisan sealant, yang biasanya terdiri dari hingga 10 persen polietilena berdensitas tinggi (HDPE), untuk mencegah kebocoran cairan.
Mendaur ulang gelas kertas bermasalah karena harus memisahkan lapisan HDPE dari kertas, yang mempersulit prosesnya.
Namun, itu belum semuanya. Penggunaan gelas kertas untuk minuman panas dapat menyebabkan pelepasan berbagai bahan kimia, seperti yang disorot oleh sebuah studi tahun 2021 yang diterbitkan dalam Journal of Hazardous Materials, termasuk fluorida, klorida, sulfat, dan nitrat.
Memilih botol stainless steel yang dapat digunakan kembali tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan tetapi juga mengurangi paparan terhadap mikroplastik.


