Rupiah Melemah, Ini Tips Tetap Bisa Liburan Tanpa Bikin Kantong Jebol

Rencana liburan yang sudah disusun jauh-jauh hari tiba-tiba terasa lebih berat gara-gara kurs dolar terus merangkak naik. Wajar kalau kamu jadi mikir dua kali, apalagi kalau destinasi impianmu ada di luar negeri. Tapi tenang, rupiah yang melemah bukan berarti liburan harus dibatalkan total. Dengan strategi yang tepat, kamu tetap bisa healing tanpa harus menguras tabungan.

Kenapa Rupiah Melemah Bikin Biaya Liburan Membengkak?

Nilai tukar rupiah memang tengah tertekan. Berdasarkan pemberitaan Babel Insight, rupiah sempat melemah ke level Rp17.926 per dolar AS. Kondisi ini langsung berdampak pada industri pariwisata, terutama untuk perjalanan ke luar pulau atau luar negeri. Investor.id melaporkan, kunjungan wisatawan domestik ke sejumlah daerah seperti Nusa Tenggara Barat bahkan turun 40-60 persen akibat lonjakan harga tiket pesawat dan biaya transportasi yang ikut terkerek pelemahan rupiah.

Menariknya, kondisi ini justru membuka peluang berbeda untuk wisatawan domestik yang cerdas mengatur strategi. Koran Jakarta mencatat, salah satu langkah paling logis saat rupiah melemah adalah mengalihkan rencana liburan ke luar negeri menjadi eksplorasi wisata dalam negeri, karena kamu bisa menghindari biaya penukaran kurs yang mahal sekaligus tetap menikmati liburan berkualitas.

1. Prioritaskan Destinasi Domestik Dulu

Kalau liburan ke luar negeri terasa berat di kantong sekarang, coba alihkan dulu ke destinasi lokal yang tak kalah seru. IDN Times merekomendasikan sejumlah destinasi dekat kota besar seperti Anyer, Carita, Kawah Putih Ciwidey, hingga Curug Leuwi Hejo di Sentul sebagai alternatif liburan singkat yang ramah di kantong tanpa perlu naik pesawat. Selain lebih hemat, kamu juga ikut membantu perputaran ekonomi lokal.

2. Booking Jauh-Jauh Hari, Jangan Mendadak

Salah satu kesalahan yang bikin biaya liburan membengkak adalah memesan tiket secara dadakan. Babel Insight menyarankan aturan 28-35 hari sebelum keberangkatan untuk rute domestik agar mendapat harga terbaik, dan menyarankan memesan tiket di hari Minggu karena berdasarkan data Google Flights dan Expedia, harga cenderung lebih murah hingga 15 persen dibanding hari lain.

3. Manfaatkan Musim Sepi (Low Season)

Waktu keberangkatan sangat memengaruhi harga tiket dan akomodasi. Liputan6 mencatat, periode Januari-April dan Oktober-November umumnya menjadi musim sepi wisatawan di Indonesia, sehingga harga tiket dan penginapan jauh lebih murah dibanding musim puncak seperti libur sekolah atau Lebaran. Bepergian di hari kerja (weekdays) alih-alih akhir pekan juga bisa memangkas biaya secara signifikan.

4. Pilih Transportasi dan Akomodasi yang Efisien

Untuk transportasi lokal, Liputan6 menyarankan memanfaatkan bus umum yang jauh lebih murah dibanding transportasi online, serta mempertimbangkan maskapai berbiaya rendah (LCC) yang sering menawarkan promo tiket. Soal penginapan, Desa Naob menyarankan memilih hotel yang sudah termasuk sarapan gratis dalam paketnya, karena meski harga kamar sedikit lebih mahal, total pengeluaran keseluruhan justru bisa lebih hemat.

5. Atur Ketat Anggaran Makan

Biaya makan sering jadi pos yang paling boros tanpa disadari. Desa Naob mencatat, pengeluaran makan bisa menyedot 30-40 persen dari total anggaran perjalanan jika tidak direncanakan dengan baik. Untuk menyiasatinya, coba cari makan di pasar tradisional atau warung lokal yang harganya jauh lebih murah dibanding restoran dekat objek wisata, dan jadikan makan siang sebagai waktu makan utama karena biasanya lebih hemat dibanding makan malam.

6. Manfaatkan Aktivitas Gratis dan Promo Aplikasi

Nggak semua keseruan liburan harus berbayar. Fimela.com menyarankan memanfaatkan aktivitas gratis seperti mengunjungi taman kota atau museum, serta menggunakan transportasi umum lokal ketimbang taksi atau transportasi online. Selain itu, Desa Naob mencatat aplikasi perjalanan seperti Traveloka dan Tiket.com rutin memberikan flash sale dengan diskon hingga 70 persen, jadi jangan malas memantau promo minimal seminggu sebelum berangkat.

7. Kalau Terpaksa ke Luar Negeri, Kunci Kurs Lebih Awal

Bagi yang memang sudah terlanjur merencanakan liburan ke luar negeri, Koran Jakarta menyarankan strategi dollar cost averaging, yaitu membeli mata uang asing secara bertahap jauh-jauh hari, bukan menukar sekaligus di bandara saat hari keberangkatan karena kursnya cenderung kurang menguntungkan. IDN Times juga menyarankan mempertimbangkan negara dengan biaya hidup lebih rendah seperti Vietnam, Thailand, atau Kamboja sebagai alternatif destinasi yang lebih ramah di kantong.