PARISJ VAN SOEMATRA DAN SEMANGAT KEMEDANAN DALAM DUNIA SENI

Tak lain dan tak bukan akar permasalahannya adalah para seniman ini kehilangan semangat kemedanan. Para musisi kehilangan arah, perihal menentukan nasib kesenian itu, Rafi seorang gitaris asal Medan mengaminkan ini dengan mengatakan: “Musisi di Kota Medan benar-benar hilang arah. Dibilang money oriented ya nggak, dibilang idealis ya juga nggak. Bayangkan, memilih uang dan ide saja mereka bingung. Perihal uang sebagai tujuan berkesenian ya sah-sah saja, begitu juga perihal idealisme, menghidupi seni dan kebudayaan memang terdengar cliché, setidaknya lebih baik daripada tidak sama ada sama sekali.”  

Yang lebih parah pada suatu kesempatan tanya jawab dengan pelaku industri kreatif Kota Medan, saya pernah mendapat jawaban menohok perihal seperti apa Medan yang ideal untuk pelaku kesenian jawabannya yang saya dapatkan adalah bahwa Medan harus bisa seperti Kota Jakarta Selatan. 

Sebuah ironi dimana kita tahu bahwa kota ini dibangun dengan gengsi, bukan dengan mental plagiasi yang cenderung tak punya konsep identitas seperti itu. Saya tidak tahu sejak kapan Jakarta Selatan sudah menjadi contoh ideal perihal berkesenian tapi, tapi saya tidak mau sok tahu tentang apa yang terjadi di Jakarta Selatan, yang saya tahu mungkin faktor geografis yang membuat dekat dengan kekuasaan dan mental Jawa-sentris bisa jadi aspek yang mendorong Kota Jakarta Selatan menjadi se-ideal itu untuk menjadi kota.

Sumber: whiteboardjournal.com: Jelajah Skena Medan

 

Baca Juga:  Pesona Batik Menghiasi Grand Mercure Medan Angkasa dalam Perayaan Hari Batik Nasional

MENJADI MEDAN SEUTUHNYA

Borok ini memang mengerikan, tapi harapan akan selalu ada karena bukan orang Medan namanya kalau tidak punya seribu satu cara untuk menghadapi masalah. Ada anekdot yang mengatakan kalau kita ketemu ular dan orang Medan di tengah jalan, jinakkan dulu orang Medannya baru jinakkan ularnya. Ini membuktikan kalau memang orang Medan lihai di segala aspek, hal ini jugalah yang membuat kita tidak perlu jauh-jauh ke Jakarta Selatan atau kemanapun untuk mendapatkan gengsi.

Perihal semangat kita harus bisa menemukan jati diri, menjadi Medan seutuhnya, bukan malah menjadi masyarakat penjiplak. Perihal pasar, pasar bisa diciptakan, bukankah dulu saat tembakau hadir di Kota Medan ada ungkapan yang mengatakan bahwa Maluku adalah masa lalu, Jawa masa kini dan Sumatera adalah masa depan.

Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan, saya yakin kota ini merupakan kota yang ajaib, mulai dari gaya hidup, mode, hingga kebiasaan lain yang membuat kota ini ajaib, sebut saja kebiasaan merombak kata.

Kota ini penuh dengan mimpi dan harapan, deliaan memang sudah hilang begitu pula dengan Parisj van Soematra-nya, tapi, Ourang Medan tetaplah Ourang Medan, lahir dari gengsi mati dengan martabat tinggi.

 

Penulis: Dimas Sibarani
Editor: Elsa Malona