PARISJ VAN SOEMATRA DAN SEMANGAT KEMEDANAN DALAM DUNIA SENI

Para Deliaan ini berhasil menciptakan kota dengan semangat ekslusifitas, sebuah kota yang memiliki martabat dan gengsi di setiap jengkal jalan kotanya, sebuah kota yang bangun untuk merealisasikan setiap mimpinya. Semangat mereka para Deliaan bukan sebuah semangat “angat-angat taik ayam” semangat mereka dinamis dan terukur. Bukan hanya soal uang, gaya hidup, tapi perihal gengsi. Mereka berhasil menjadikan Medan sebagai Eropa cabang Malaya, mereka berhasil menghadirkan ide dan gaya berpikir luas ala bangsa Eropa ke semenanjung yang jauh dari kontinennya. Semangat mereka adalah masa depan dan harapan, semangat itu bukan hanya soal tembakau dan Deliaan, semangat itu perihal menciptakan ourang Medan seutuhnya.

Zaman bergerak perang pun pecah, seumpama Paris, Medan mengalami kemunduran setelah perang dunia ke 2, arsitektur art deco kini hanya menjadi kenang-kenangan, tapi setidaknya semangat Deliaan menciptakan masyarakat yang bangga akan kotanya dengan pola dan sikap masyarakat yang cenderung arogan perihal sikap, parlente soal mode, dan anekdot-anekdot ala ourang Medan masih ada terwarisi sampai sekarang, setidaknya untuk saya sendiri. 

 

HILANGNYA KEMEDANAN DALAM DUNIA SENI

Sebagai orang yang tidak pernah terjun langsung di dunia kesenian Kota Medan, jadi  sangat mungkin opini ini menjadi tidak relevan. Tapi setidaknya desas-desus yang terdengar bisa tersampaikan dengan jelas, paling tidak saya akan mencoba mengetengahkan sebuah hipotesis bahwa sebenarnya yang menjadi masalah industri kreatif di Kota Medan adalah hilangnya kemedanan terutama dalam berkesenian. 

Jika kita mengingat kembali di bagian pertama kita bisa melihat jelas bagaimana Deliaan membangun kota ini dengan gengsi yang besar, dimana mereka berhasil  merubah suatu kampung menjadi kota besar, bahkan tidak berlebihan bila mengatakan saat itu Medan berhasil mengalahkan kedigdayaan singapura sebagai suatu wilayah. Itu semua bisa terwujud bukan semata-mata karena mukjizat dan tanah subur di Kota Medan, tapi karena semangat mereka yang jelas dan terukur perihal menciptakan Medan. Mereka berhasil menjadikan Medan layaknya Paris dari segala aspek, mereka tahu Medan seperti apa akan mereka wujudkan kedepan, dengan kata lain mereka tahu harus dijadikan seperti apa kota ini.

Sekali lagi ini bukan soal memirip-miripkan Medan dengan Paris, semangat ini perihal bagaimana mereka berusaha menjadikan ourang Medan sebagai individu yang sarat akan gengsi, martabat dan kehormatan.

SALAH SIAPA?

Hilangnya kemedanan ini menciptakan suatu krisis, dimana regenerasi cenderung stagnan dan bisa ditebak. Tapi masyarakat tidak bisa disalahkan. Lah, jadi salah siapa? Perihal itu, tentu kita harus menjawab pertanyaan: Siapa yang paling dekat dengan suatu seni?” Tentu seniman itu sendiri, bukan penonton, bukan juga yang lainnya. 

Benji salah satu seniman dalam satu kesempatan pernah mengatakan “sudah waktunya yang bagus diapresiasi, yang gak bagus diajari. Mudahnya begini, jika mereka orang-orang yang paling dekat dengan suatu karya tidak memiliki kebiasaan ini bagaimana mungkin bisa menuntut orang luar dalam hal ini penikmat atau kritikus untuk mengapresiasi.”

Baca Juga:  Makanan Sisa Sayang Dibuang, tetapi Aman Tidak Jika Dipanaskan Berkali-kali?