
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan anak bangsa di kancah internasional. Rayyan Abdul Karim Ardianto, remaja Indonesia berusia 14 tahun, sukses meraih medali emas dalam ajang International Horseback Archery Championship 2025 yang digelar di Pomáz, Hungaria, pada 1-3 Agustus.
Pada hari pertama kompetisi, Rayyan berlaga di lintasan Tower 90. Mengendarai kuda jenis Hucul, dia berhasil menembus lintasan lurus sambil menembakkan panah ke target dengan presisi. Dalam waktu hanya 14,1 detik, Rayyan mencetak skor tertinggi 121,5 poin. Pesaingnya, Max Brodie-Greer dari Inggris, hanya mampu mengumpulkan 105,03 poin. Atlet-atlet tuan rumah Hungaria bahkan tidak mampu menembus angka 100 poin.
Adapun Rayyan Abdul Karim Ardianto adalah seorang atlet muda asal Bogor, Jawa Barat, yang saat ini berusia 14 tahun. Bersasarkan informasi dari lama Inatagram resminya, dia merupakan siswa binaan Wening Academy Student, sebuah lembaga pelatihan panahan berkuda di Bogor. Meski masih sangat muda, Rayyan telah mengukir prestasi gemilang di kancah internasional.
Selain berhasil meraih medali emas dalam kejuaraan International Horseback Archery Championship di Pomáz, Hungaria, tahun lalu Rayyan juga menorehkan prestasi dalam ajang Masangmuye International Championship di Korea Selatan pada 25 hingga 27 Oktober 2024. Kompetisi tersebut diikuti sembilan negara dengan total 49 peserta. Tim Equestrian Archery Indonesia (IEA) berhasil membawa pulang empat medali emas, empat perak, dan satu perunggu. Rayyan tampil luar biasa dengan meraih 2 medali emas dan 1 perak.
Aksi Rayyan menyedot perhatian juri dan komentator internasional. Dia dinilai mampu menunjukkan teknik yang matang, refleks cepat, serta ketenangan luar biasa untuk atlet seusianya. Kemenangannya di kancah internasional menjadi bukti bahwa Indonesia mampu bersaing dalam cabang olahraga yang belum begitu populer di Tanah Air.
Mengenal Olahraga Panahan Berkuda
Panahan berkuda atau horseback archery adalah cabang olahraga yang menggabungkan dua keterampilan utama, yakni berkuda dan memanah. Atlet akan menunggang kuda dalam kecepatan tertentu sambil menembakkan anak panah ke sasaran yang telah ditentukan, tanpa menghentikan laju kuda.
Olahraga ini bukan hanya menuntut kekuatan fisik dan keseimbangan, tetapi juga konsentrasi tinggi, koordinasi gerak yang presisi, serta kendali emosi yang matang. Mengutip World Horseback Archery Federation, akar sejarah panahan berkuda sangat panjang. Berawal dari prajurit militer bangsa-bangsa kuno seperti Scythians, Parthians, hingga Mongol yang menggunakan teknik memanah dari atas kuda sebagai strategi perang. Salah satu taktik legendaris yang muncul dari tradisi ini adalah Parthian shot, yaitu melepaskan panah sambil berpaling ke belakang saat kuda berlari menjauh.
Pada era modern, olahraga ini dihidupkan kembali oleh Lajos Kassai dari Hungaria sejak akhir 1980-an, yang kemudian mengembangkan sistem kompetisi dan pelatihan yang kini tersebar di berbagai negara.
Organisasi seperti International Horseback Archery Alliance (IHAA) dan World Horseback Archery Federation (WHAF) kini menjadi payung resmi olahraga ini secara global, menyusun regulasi, menyelenggarakan kejuaraan dunia, dan mengembangkan sistem penilaian berdasarkan teknik dan kecepatan.
Format kompetisinya meliputi lintasan Raid, Tower, dan Hunt yang menantang atlet untuk menembak sasaran dari berbagai arah dan jarak, semuanya dilakukan dalam keadaan menunggang kuda dalam kecepatan tinggi. Selain menampilkan ketangkasan, olahraga ini juga menjunjung tinggi nilai budaya dan inklusivitas, karena dapat diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, usia, bahkan tingkat kemampuan fisik yang beragam.


