Mengenal Tuberkulosis Ginjal, Penyakit Yang Diidap Lucky Widja Element

Selama ini kita mengira bahwa  tuberkulosis (TBC) hanya menyerang pada paru-paru. Pasalnya, penyakit satu ini kerap dikenal sebagai penyakit dengan gejala batuk berkepanjangan dan gangguan pernapasan. Padahal bila ditelusuri secara mendalam, tuberkulosis alias TBC tidak hanya menyerang itu saja melainkan dapat menyebar ke organ lain melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi serius di luar paru-paru.

Salah satunya ialah tuberkulosis ginjal. Terdengar masih jarang diketahui masyarakat namun penyakit ini mampu menyerang saluran kemih dan ginjal bahkan sering kali berkembang secara perlahan tanpa gejala khas di tahap awal. Akibatnya, banyak penderita baru menyadari kondisinya ketika fungsi ginjal sudah terganggu dan keluhan mulai semakin terasa.

Lantas, apa sebenarnya tuberkulosis ginjal beserta penyebabnya serta dan bagaimana cara mengobatinya secara tepat? Memahami faktor risiko serta penanganannya menjadi langkah penting agar penyakit ini dapat terdeteksi lebih dini dan tidak menimbulkan komplikasi serius. Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut.

Mengenal Tuberkulosis Ginjal, Apa Bedanya dengan Tuberkulosis Paru-Paru?

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan masih menjadi masalah kesehatan global, terutama di negara berkembang. Hal ini dijelaskan dalam publikasi ilmiah berjudul Chronic Kidney Disease Related to Renal Tuberculosis: A Case Report yang ditulis oleh Junior dkk. dan dipublikasikan dalam jurnal SciELO Brasil.

Meski paling sering menyerang paru-paru, TB sebenarnya memiliki spektrum klinis yang luas dan dapat menyerang organ lain di luar sistem pernapasan. Dalam artikel ilmiah tersebut, dijelaskan bahwa TB ekstrapulmoner atau TB yang menyerang organ selain paru-paru, menyumbang sekitar 10 hingga 42 persen dari seluruh kasus TB. Dalam kelompok TB ekstrapulmoner tersebut, ginjal termasuk salah satu organ yang paling sering terdampak, setelah TB pleura dan kelenjar getah bening.

Sejalan dengan temuan ilmiah tersebut, laman Healthline juga menyebutkan tuberkulosis ginjal merupakan bagian dari TB urogenital, yaitu TB yang menyerang sistem kemih dan reproduksi. TB urogenital mencakup sekitar 30-40 persen dari seluruh kasus TB ekstrapulmoner, dan TB ginjal menjadi bentuk yang paling umum dalam kelompok ini.

Perbedaan mendasar antara TB ginjal dan TB paru-paru terletak pada lokasi infeksi, bukan pada jenis bakterinya, karena keduanya disebabkan oleh bakteri yang sama. Oleh karena itu, TB ginjal tidak dapat disamakan dengan TB paru-paru meskipun berasal dari sumber infeksi yang serupa.

Penyebab Tuberkulosis Ginjal

Tuberkulosis ginjal disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis, bakteri yang biasanya menjadi penyebab infeksi saluran pernapasan. Pada beberapa kasus, kuman penyebab infeksi juga bisa berasal dari spesies Mycobacterium bovis.

Penyakit ini umumnya berawal dari infeksi pada paru-paru. Infeksi kemudian menyebar ke berbagai jaringan dan organ melalui aliran darah. Penyebaran infeksi ke ginjal bisa terjadi dalam kurun waktu 5-25 tahun setelah seseorang mengidap TBC.

Selain itu, tuberkulosis ginjal juga bisa disebabkan oleh infeksi mycobacterium melalui vaksin BCG yang disuntikkan langsung ke kandung kemih. Pada dasarnya, pemberian vaksin BCG bertujuan untuk melindungi bayi dari TBC. Penyuntikan vaksin BCG ke kandung kemih belakangan ini menjadi metode baru untuk mengobati kanker kandung kemih. Kendati berguna bagi pasien, metode ini ternyata menjadi penyebab dari beberapa kasus tuberkulosis ginjal.

Berdasarkan publikasi ilmiah Chronic Kidney Disease Related to Renal Tuberculosis: A Case Report oleh Junior dkk, dalam jurnal SciELO Brasil, serta informasi dari laman Healthline, tuberkulosis ginjal dapat terjadi akibat beberapa faktor berikut:

Infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis

Penyebab utama tuberkulosis ginjal adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Dalam kasus tertentu yang lebih jarang, bakteri lain seperti Mycobacterium bovis juga dapat menyebabkan infeksi pada ginjal.

Penyebaran bakteri dari paru-paru ke ginjal melalui aliran darah

TB ginjal umumnya terjadi akibat penyebaran bakteri dari jaringan paru-paru yang terinfeksi ke ginjal melalui aliran darah, sehingga infeksi tidak hanya terbatas pada sistem pernapasan.

TB ekstrapulmoner yang menyerang organ selain paru-paru

Ketika bakteri TB menyebar ke organ lain di luar paru-paru, kondisi ini dikenal sebagai TB ekstrapulmoner. Dalam spektrum ini, ginjal termasuk salah satu organ yang cukup sering terdampak.

Sistem kekebalan tubuh yang melemah

Bakteri TB dapat berada dalam kondisi tidak aktif di dalam tubuh dan kembali berkembang ketika sistem imun melemah, misalnya pada penderita HIV/AIDS atau kondisi kesehatan tertentu lainnya.

Faktor sosial dan sistem kesehatan

Kondisi sosial ekonomi yang rendah serta lemahnya sistem pelayanan kesehatan dapat meningkatkan risiko penyebaran dan keterlambatan penanganan TB, sehingga memperbesar peluang berkembangnya infeksi hingga ke ginjal.

Resistensi obat tuberkulosis

Meningkatnya kasus resistensi obat TB dapat menyebabkan infeksi berlangsung lebih lama dan sulit ditangani, sehingga risiko penyebaran bakteri ke organ lain, termasuk ginjal, menjadi lebih tinggi.

Jalur penyebaran lain yang jarang terjadi

Selain melalui aliran darah, penyebaran bakteri TB ke ginjal juga dapat terjadi melalui sistem limfatik atau melalui penularan seksual, meskipun kasus ini relatif jarang ditemukan.

Apa Gejala Tuberkulosis Ginjal?

Berdasarkan informasi dari laman Healthline, tidak semua penderita tuberkulosis ginjal mengalami gejala yang jelas. Pada sebagian kasus, gejala baru muncul ketika infeksi sudah berlangsung cukup lama. Beberapa gejala yang dapat dialami antara lain:

  1. Darah dalam urine

Munculnya darah saat buang air kecil dapat menjadi salah satu tanda adanya gangguan pada ginjal akibat infeksi.

  1. Nyeri atau rasa tidak nyaman di area panggul

Infeksi pada ginjal dapat menimbulkan nyeri tumpul atau rasa tidak nyaman di sekitar panggul.

  1. Sering buang air kecil

Penderita dapat mengalami peningkatan frekuensi buang air kecil meskipun jumlah urine yang keluar sedikit.

  1. Nyeri saat buang air kecil

Rasa perih atau nyeri ketika buang air kecil juga dapat muncul akibat keterlibatan saluran kemih.

Gejala-gejala tersebut tidak selalu menandakan tuberkulosis ginjal, karena dapat menyerupai kondisi lain seperti infeksi saluran kemih. Kesamaan gejala inilah yang sering menyebabkan TB ginjal salah terdiagnosis atau terlambat ditangani. Oleh karena itu, konsultasi ke dokter sangat dianjurkan, terutama bagi individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah atau memiliki faktor risiko TB.

Risiko dan komplikasi tuberkulosis ginjal

Berdasarkan laporan oleh Radiological Society of North America, infeksi mycobacterium bisa mengganggu fungsi ginjal dan menyebabkan komplikasi sebagai berikut.

  • Tekanan darah tinggi yang membahayakan ginjal (hipertensi renal).
  • Penumpukan kalsium dalam ginjal (nefrokalsinosis).
  • Pembengkakan ginjal (hidronefrosis).
  • Pembentukan nanah yang menyebar ke jaringan sekitar ginjal (pielonefritis).
  • Perubahan bentuk sel ginjal yang dapat berujung menjadi kanker.
  • Penyebaran TBC ke ureter, yaitu saluran yang membawa urine dari ginjal ke kandung kemih.
  • Pembentukan luka atau penyempitan pada ureter.
  • Penyebaran TBC ke kandung kemih sehingga kandung kemih mengecil dan mengerut.
  • Gagal ginjal kronis atau stadium akhir (End Stage Renal Disease)

Cara Mengobati Tuberkulosis Ginjal

Pasien tuberkulosis ginjal harus mengonsumsi obat-obatan untuk mengatasi infeksi mycobacterium. Jika TBC sudah menyebabkan komplikasi pada saluran kemih, pasien mungkin perlu menjalani operasi ginjal.

Pengobatan lini pertama

Pengobatan TBC terdiri atas kombinasi beberapa jenis obat karena mycobacterium bisa kebal terhadap obat tertentu. Pertama-tama, pasien akan mendapat obat TBC lini pertama berupa isoniazid, pyrazinamide, rifampicin, dan ethambutol selama dua bulan.

Pengobatan lini pertama bertujuan untuk membunuh sebagian besar bakteri TBC. Setelah dua bulan, pasien akan lanjut mengonsumsi isoniazid dan rifampicin selama empat bulan ke depan untuk membunuh bakteri yang tersisa.

Pengobatan lini kedua

Jika pasien mengalami TB resistensi obat, ia perlu menjalani pengobatan lini kedua dalam durasi yang lebih lama. Pengobatan ini umumnya berlangsung selama delapan bulan dengan fase perawatan selama 12 bulan.

Pengobatan khusus pasien HIV

Pada pengobatan TBC ginjal untuk pasien HIV, rifampicin akan diganti dengan rifabutin. Pengobatan ini juga diperpanjang selama sembilan bulan ke depan.

Operasi

Operasi biasanya diperlukan bila pasien mengalami komplikasi pada ginjal atau saluran kemih. Jenis prosedur yang dapat dilakukan antara lain operasi pengangkatan ginjal total atau sebagian, pelebaran saluran kemih, dan perbaikan kandung kemih. TBC ginjal terjadi apabila infeksi tuberkulosis menyebar ke jaringan ginjal.

Jika Anda memiliki penyakit TBC dan mengalami keluhan pada saluran kemih, segera kunjungi dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penangan yang tepat.

Pemantauan oleh dokter spesialis

Pasien umumnya akan dirujuk ke dokter spesialis ginjal (nefrologi) dan spesialis penyakit infeksi untuk memantau perkembangan penyakit serta respons terhadap terapi.

Diagnosis tuberkulosis ginjal

tes dan pemeriksaan ginjal

Diagnosis TBC ginjal cenderung sulit karena gejalanya mirip dengan penyakit umum pada sistem perkemihan. Akan tetapi, diagnosis sedini mungkin sangat penting karena hal ini akan menentukan pengobatan pasien.

Berikut berbagai metode yang dokter gunakan untuk mendiagnosis penyakit ini.

Tes darah

Dokter akan mengambil sampel darah Anda untuk diperiksa lebih lanjut. Melalui tes darah, dokter dapat mengetahui informasi berikut ini.

  • Mendeteksi tanda-tanda infeksi.
  • Mengukur metabolisme dan kandungan kalsium dalam ginjal.
  • Mengetahui fungsi ginjal Anda secara keseluruhan.

Tes urine

Tes urine dapat menunjukkan adanya nanah atau sel darah merah pada urine pasien TBC ginjal. Untuk mendapatkan hasil terbaik, Anda sebaiknya mengambil sampel urine pada pagi hari. Hasil tes biasanya baru keluar setelah 4-8 pekan.

Tes tuberkulin

Tes tuberkulin merupakan pemeriksaan umum untuk mendiagnosis TBC. Dokter akan menyuntikkan protein tuberkular ke area kecil pada permukaan kulit Anda. Jika Anda pernah terinfeksi bakteri TBC,  benjolan kemerahan akan muncul 2-3 hari kemudian.

Tes pencitraan

Anda mungkin akan menjalani CT scan, UGS, rontgen, atau pyelogram intravena. Pada pyelogram intravena, dokter akan menyuntikkan pewarna ke dalam aliran darah Anda. Dari sinilah, dokter dapat mendeteksi gangguan pada aliran urine atau struktur ginjal.