Mengenal Lebih Jauh Tentang Baby Blues

107

Memiliki bayi adalah perasaan yang indah, tetapi banyak seorang Ibu tidak merasakan hal ini pada saat awal kelahiran. “Baby blues” juga dikenal sebagai postpartum blues atau postpartum distress syndrome, ini adalah perasaan emosional yang dirasakan sang Ibu setelah melahirkan.

Sebenarnya tidak semua ibu jadi bertambah sensitif saat hamil. Biasanya seiring bertambahnya kematangan mental, atau bagi para ibu yang sudah pernah menjalani kehamilan sebelumnya, mereka dapat mengontrol emosi dengan lebih baik.

Namun, lain halnya bila kehamilan ini merupakan yang pertama kalinya bagi ibu. Berbagai macam masalah yang timbul saat hamil, rasa khawatir terhadap kondisi kesehatan janin, atau bahkan kurangnya persiapan mental, bisa membuat si calon Ibu menjadi stres, sehingga akhirnya sering menangis. Sebenarnya apa yang terjadi pada janin ketika ibu menangis?

Jika anda baru saja melahirkan dan merasa mudah menangis, mudah tersinggung, dan sedikit tertekan, kemungkinan anda mengalami sindrom “baby blues”.

Baby blues syndrome adalah keadaan psikologis sementara setelah melahirkan, ketika seorang ibu baru mungkin mengalami perubahan suasana hati yang mendadak, merasa sangat bahagia, kemudian sangat sedih, menangis tanpa alasan yang jelas, merasa tidak sabar, sangat mudah tersinggung, resah, cemas, dan merasa kesepian.

Lalu apa penyebab baby blues pasca melahirkan?

Selama menjalani masa kehamilan,  suasana hati ibu turut memengaruhi kondisi janin di dalam kandungan. Namun, ada kalanya ibu hamil juga bisa merasa tertekan karena lelah dengan proses kehamilan atau karena diliputi rasa khawatir akan berbagai hal. Belum lagi perubahan hormon yang terjadi saat hamil juga membuat perasaan ibu semakin sensitif. Akibatnya, ibu hamil bisa merasa sedih dan menangis.

Gejala Baby Blues Syndrome

Setelah anda mengetahui tentang apa itu baby blues syndrome, selanjutnya yang perlu anda ketahui ialah Gejala dari Baby blues syndrome itu sendiri.

  • Anda akan menangis tanpa alasan yang jelas. Ibu yang sering menangis karena stres akan berdampak pada kondisi psikologis anak nantinya ketika mereka sudah beranjak besar. Hal ini karena perasaan sedih ibu juga akan membuat Si Kecil menjadi tidak nyaman. Bila sejak masih di kandungan bayi sudah merasakan stres dari ibu, maka bukan tidak mungkin Si Kecil akan tumbuh menjadi anak yang cengeng atau penakut.

Anda merasa mudah cemas. Mama harus menyesuaikan diri dengan tanggung jawab baru dan dengan peran sebagai Mama. Ini sering membuat Mama yang baru melahirkan kewalahan.Biasanya ia mengurus dirinya sendiri, sekarang sudah ada bayi mungkil yang selalu membutuhkan bantuan Mama. Mulai dari buang air kecil, saat lapar, haus, mandi dan tidur semua harus dibantu.

Cepat merasa lelah dan sulit beristirahat.

Setelah proses persalinan yang super melelahkan, Mama  dihadapkan dengan kenyataan harus melatih bayi untuk bisa meminum ASI secara langsung. Sementara tidak semua bayi yang baru lahir bisa menyusui secara langsung.Ibu menyusui biasanya kelelahan karena kesusahan mengajarkan bayinya menyusu ASI secara langsung. Sebagian bayi susah membuka mulut, sementara puting mama masih kaku dan berukuran besar setelah melahirkan.

Ini adalah hal yang wajar, percobaan menyusui harus tetap dilakukan. Meski prosesnya memakan waktu dan menguras tenaga serta kesabaran mama. Seringkali Mama jadi kurang tidur dan merasa kelelahan. Selain itu, banyak hal yang harus disiapkan untuk Si Kecil sementara Mama masih transisi dari fase kehamilan menjadi fase ibu baru atau ibu menyusui.

  • Hilangnya atau tidak memiliki rasa percaya diri dan mudah tersinggung.  Mereka pikir makan apa saja yang penting ASI lancar. Nah, pola makan seperti ini yang membuat Mama malah lebih gemuk dibandingkan saat hamil. Belum lagi sering ada pertanyaan dari kerabat yang besuk seperti, “Kok gemukan setelah melahirkan ya?”, atau “Wah, sudah enak nih tidurnya sekarang sampai bisa gemukan gini ya.”
Baca Juga:  Thank You Prof. Sarah Gilbert, pahlawan wanita di balik vaksin Astra Zeneca!

Kalimat-kalimat yang kurang berkenan di hati Mama seperti itu tentu bisa membuat Mama merasa tertekan. Semua hal diatas akan berdampak terhadap keengganan anda untuk mengurus bayi anda

Yang Terjadi Pada Janin Ketika Ibu Hamil Menangis

Sebuah penelitian dari Association for Psychological Science menemukan bahwa janin yang berumur enam bulan bisa merasakan emosi yang sedang ibu rasakan.

Ketika seorang ibu menangis karena atau stres, bayi juga ikut mengalami kecemasan yang luar biasa. Ia bisa mengusap wajahnya seperti orang dewasa yang sedang mengalami stres. Hal ini terjadi karena pada saat ibu merasa tertekan, tubuh akan menghasilkan hormon stres yang akan disalurkan ke janin melalui plasenta.

Semakin sering ibu merasa khawatir atau cemas, semakin banyak pula hormon stres yang dihasilkan dan disalurkan ke janin. Bila janin terus menerus mendapatkan hormon stres, lama kelamaan ia akan mengalami stres kronis. Padahal selama di dalam kandungan, janin sedang mengalami berbagai proses perkembangan termasuk salah satunya perkembangan sistem sarafnya. Bila proses perkembangan ini terganggu, janin tidak bisa tumbuh dengan optimal bahkan berisiko mengalami berbagai macam masalah kesehatan berikut :

1. Menghambat Perkembangan Fisik Janin

Tidak hanya perkembangan psikis janin saja yang akan terganggu bila ibu sering menangis, perkembangan fisiknya pun juga ikut terpengaruh. Ibu yang menangis karena merasa depresi akan menyebabkan berat badan bayi menjadi rendah saat dilahirkan. Hal ini terjadi karena menangis membuat aliran darah yang disalurkan ke bayi menjadi tidak lancar, sehingga pertumbuhan janin pun jadi terhambat.

2. Berkurangnya Suplai Oksigen Ke Janin

Saat ibu menangis karena stres, ikatan pembuluh darah akan semakin menguat karena produksi hormon norepinephrine yang meningkat. Hal ini menyebabkan sirkulasi oksigen ke janin menjadi berkurang, sehingga menghambat perkembangannya.

3. Meningkatkan Risiko Lahir Prematur

Berada dalam kondisi stres hingga menangis terus menerus saat hamil juga bisa meningkatkan risiko bayi lahir prematur. Hal ini karena saat stres, plasenta akan menghasilkan banyak hormon pelepas kortikotropin (CRH), yang merupakan hormon pengatur jangka waktu kehamilan. Bila hormon ini terus menerus diproduksi oleh plasenta, maka ibu berisiko melahirkan jauh lebih cepat dari waktu yang seharusnya.

Berapa lama perasaan ini akan berakhir?

Bunda biasanya mengalami sindrom “baby blues” dalam 14 hari pertama setelah melahirkan, dan saat terburuk adalah 3 atau 4 hari sesudah kelahiran.

Mengingat banyaknya dampak buruk yang bisa terjadi pada janin bila ibu menangis karena cemas dan stres, jadi ibu disarankan untuk meluapkan emosi dengan cara yang lebih positif selain menangis, misalnya dengan berolahraga, melakukan hobi atau curhat kepada orang-orang terdekat. Ibu juga bisa membicarakan tentang masalah psikis yang dialami pada dokter atau psikolog.

Penulis : Annette Thresia Ginting

Sumber : Halodoc, Popmama,CussonsBaby